Beranda > Menangkap dan Memelihara Hewan Laut

 

bab enam 

MENANGKAP DAN MEMELIHARA HEWAN LAUT

 

“Dunia yang hidup, mati di masa kita. . . . Ketika nenek moyang kita memulai eksploitasinya untuk benua ini, mereka percaya bahwa sumber bernyawa dari Dunia Baru saat itu tidak terbatas dan tidak akan habis-habisnya. Kerentanan dari struktur kehidupan—kerumitan dan kerapuhan dari semuanya juga bagian dari yang terbatas—di luar pemahaman mereka. Itu dapat dikatakan bahwa rasa aman mereka ada karena ketidaktahuan mereka terhadap dampak pemusnahan massal yang tak dapat dihindari. Kita yang hidup hari ini tidak dapat membenarkan lagi tindakan memusnahkan kita dan dampaknya yang mengerikan.”

—Farley Mowat, Sea of Slaughter1

 

“Bumi dapat menyediakan cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, tapi tidak untuk setiap kerakusan manusia.”

—Mahatma Gandhi

 

Limbah Beracun, Daging Beracun

Ketika kita melihat ikan, kerang, produk susu, dan telur, makanan hewani yang dianggap sehat oleh masyarakat umum, mungkin secara sepintas makanan ini sepertinya kurang menyebabkan penderitaan daripada memakan daging burung atau mamalia lain. Pertama mari kita lihat beberapa akibat dari memakan hewan yang ada di air bumi kita. Seperti daging semua hewan, daging ikan dan kerang-kerangan tinggi dalam tiga elemen beracun seperti yang diuraikan terdahulu: lemak hewani yang jenuh, kolesterol, dan protein hewani. Persentase antara lemak jenuh relatif dengan lemak tak jenuh mungkin “lebih baik” pada ikan daripada hewan yang lain, tapi tidak dengan ikan, yang dianggap, makanan “rendah-lemak”. Selain menjadi makanan tinggi lemak, kolesterol, dan protein hewani, jadi itu mendorong sakit jantung, kanker, kegemukan, diabetes, dan efek-efek negatif lain dari memakan zat-zat ini, ikan, karena mereka hidup di air, biasanya bahkan ada lebih banyak racun daripada industri peternakan burung dan mamalia. Banyak yang mengatakannya! Mengapa bisa begitu?

 Alasan yang paling mendasar adalah jutaan ton racun yang dihasilkan dalam kebudayaan kita semua berakhir di dalam air. Bagian terbesar dari polusi ini berasal dari peternakan hewan dalam bentuk herbisida, pestisida, fungisida, obat pembasmi jamur, dan pupuk kimia limpahan dari lahan, dan pembuangan kotoran dari pabrik peternakan yang penuh dengan residu dan racun lain. Peternakan menghasilkan 10.000 pon kotoran untuk setiap orang di AS,2 dan kelebihan fosfor maupun nitrogen dari limbah ini menyebabkan berkembangnya alga, bakteri merah, dan perkembangbiakan makhluk bersel tunggal yang mematikan seperti Pfisteria piscicida yang membunuh miliaran ikan dan menyebabkan penyakit yang aneh pada orang yang berenang.3 Perairan tambah tercemar oleh berbagai macam dioksin karsinogenik, poliklorinasi bifenil (PCBs), logam berat beracun dari sisa limbah industri, dan residu lain dari pertambangan, penyamakan, kertas, energi, industri minyak, dan produksi industri, maupun residu farmasi berbahaya dan kontaminasi radioaktif dari kebocoran nuklir. Sebagai tambahan atas semua ini, racun yang mencemari udara pada akhirnya akan hanyut ke dalam danau dan lautan, dan tempat pembuangan sampah padat serta tanah juga hanyut terbawa air, yang membawa serta racunnya ke dalam sungai dan laut.

Air adalah pelarut di planet kita, dan seluruh rangkaian zat pencemar lingkungan yang kita hasilkan akan berakhir di sungai, danau, aliran air, dan muara, menyebabkan polusi yang semakin parah pada laut kita. Ada area lautan yang besar yang disebut zona mati di mana tidak ada ikan yang dapat hidup di area air yang sangat beracun dan kekurangan oksigen, suatu kondisi yang kita kenal dengan hypoxia. Ini adalah akibat dari sejumlah besar pupuk nitrogen dan kotoran ternak yang mengalir masuk ke sungai dan lautan. Ini tidak alami, air “bernutrisi tinggi” mendorong pertumbuhan alga yang berlimpah dan sebagai akibat dari penipisan oksigen, menyebabkan kekurangan napas pada ikan dan kehidupan laut. Satu zona mati seperti itu dengan lebih dari 7.000 mil persegi (18,1 juta km persegi) di lepas pantai Lousiana, di mana setiap hari timbunan miliaran galon air teracuni oleh limpasan peternakan dan kotoran industri ke Teluk Meksiko, mendatangkan malapetaka sulit dan ekosistem laut yang saling berhubungan secara misterius.4 Makan hewan yang hidup di air bumi kita berarti memakan polusi berbahaya untuk diri kita sendiri.

Kita tahu bahwa racun lingkungan akan terkonsentrasi di jaringan lemak semua hewan. Fakta yang mendasar ini seharusnya membuat kita berhenti sebentar. Ikan air tawar dan ikan air laut keduanya menimbun dan menyimpan zat-zat racun dan kimia karsinogenik dalam dagingnya yang konsentrasinya ratusan ribu kali lebih besar daripada di dalam air itu sendiri. Ada dua alasan dasar untuk ini. Pertama, ikan bernapas di air, melewati insangnya untuk menyaring oksigen penting. Jadi melalui pernapasan, semua ikan memakai sejumlah besar air, dan racun cenderung terkumpul dalam insangnya dan berakhir di jaringan lemak dalam dagingnya. Kedua, ikan besar adalah karnivora yang hidup dari ikan yang lebih kecil, yang bahkan bergantung hidup pada ikan yang lebih kecil, yang makan ikan lebih kecil. Tidak seperti hewan darat dan burung, yang kebanyakan herbivora, beberapa “karnivora puncak” makan jauh lebih banyak tikus, kelinci, rusa, dan sebagainya; tapi ikan bahkan hidup di dunia yang lebih karnivora. Pada tiap tingkat, konsentrasi racun berlipat ganda secara eksponensial. Kebanyakan kita suka makan ikan yang lebih besar, seperti ikan tuna, ikan todak, ikan hiu, dan ikan salmon. Para peneliti mengetahui bahwa daging dari ikan besar mengandung konsentrasi racun yang sangat tinggi, dan menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan, misalnya, secara kasar konsentrasi karsinogenik PCB dalam ikan sembilan juta kali lebih banyak daripada konsentrasi dalam air.5 yang dekat dengan pantai dan karena itu berenang di air anak sungai yang memiliki konsentrasi lebih tinggi sangatlah berbahaya. Semakin banyak limpasan racun pertanian dan industri yang kita hasilkan, semakin beracun daging dari makhluk yang tinggal di dalam air.

Karena manusia telah menjadi “karnivora tertinggi” di planet ini, daging kita mungkin paling beracun, ini tercermin dalam tingkat kanker kita yang tinggi. Sungguh permulaan yang disayangkan bagi seorang bayi yang minum susu dari seorang ibu omnivora dan membanjirinya dengan racun yang mengalir dalam susunya. DDT, misalnya, masih banyak digunakan di seluruh dunia, dan wanita menyusui yang makan ikan menunjukkan tingkat DDT yang berarti dan kontaminasi pestisida lainnya dalam asi mereka.6 Bayi dari semua mamalia, terutama paus dan lumba-lumba, juga sapi, kambing, dan domba, juga tercemar oleh konsentrasi racun yang tinggi dalam susu ibu mereka. Anak dari hewan ternak biasanya tidak ada yang mendapatkan susu dari ibu mereka: ia dicuri darinya sebelum mereka bisa mendapatkannya. Sebelum kita sampai pada persoalan susu sapi, pertama, kita melihat lebih dekat tentang implikasi dari ikan, kepiting, udang laut, tiram, udang, dan makhluk air yang salah diartikan sebagai makanan sehat untuk manusia.

Daging ikan, seperti petunjuk Michael Klaper, M.D., “proteinnya sangat terkonsentrasi.” Karena protein pada dasarnya hanya digunakan untuk menumbuhkan rambut dan kuku, menyembuhkan luka dan membangun kembali jaringan, dan semasa kanak-kanak untuk pertumbuhan, kita biasanya mendapatkan lebih banyak protein daripada yang dapat kita gunakan dari daging ikan. Tubuh kita tidak dapat menyimpan protein, jadi kita harus mencernanya, yang menyebabkan stres pada hati, ginjal, dan sistem kekebalan kita. Klaper juga melawan konsumsi daging dan minyak ikan karena alasan lain: 

Minyak ikan yang dipromosikan dapat memberi perlindungan bagi pembuluh arteri terhadap ateroklerosis, juga dapat menjadi bahaya yang serius karena mereka mengurangi kemampuan darah untuk membekukan agar pendarahan berhenti. Minyak ikan juga menghalangi kerja insulin. Ini merupakan kabar buruk bagi penderita diabetes manapun yang sedang berusaha menjaga kadar gula normalnya dengan meminum kapsul minyak ikan dan mungkin juga menerapkan pola makan daging ikan dalam jumlah yang banyak. . . . Masalah penting lain yang tidak dipublikasikan dari minyak ikan adalah kecenderungan nyata terhadap perpanjangan masa kehamilan dari yang normal. Masa kehamilan yang terlalu lama akan menambah berat tubuh bayi itu, risiko ini menyertai kecelakaan saat kelahiran, pembedahan saesar, dan kematian ibu hamil.        

Selain kampanye iklan-iklan belakangan ini, tak seorang pun perlu makan minyak yang diambil dari daging atau hati ikan, faktanya, minyak dari hati ikan adalah salah satu dari zat teraneh yang harus dipertimbangkan untuk dimakan. Hati dari hewan apa pun adalah penghilang racun kimia untuk tubuh, jadi merupakan konsentrasi semua polutan yang dikonsumsi hewan itu. Minyak yang diperas dari hati ikan mungkin berisi racun hidrokarbon dalam kadar yang tinggi seperti PCB dan dioksin. Orang yang menggunakan minyak ikan “sebagai pelindung pembuluh arteri” sebenarnya justru meracuni dirinya sendiri dengan hidrokarbon, jadi meningkatkan risiko kanker karena pola makan minyak ini.

Solusi yang lebih baik untuk membuat pembuluh darah kita bersih adalah jangan membebani darah kita dengan lemak jenuh hewani sebagai cara utama. Orang yang tidak makan lemak jenuh hewani pada umumnya memiliki risiko penyumbatan pembuluh darah yang lebih kecil. Ikan bukanlah “makanan otak”—ini kenyataan, sekarang justru menjadi kebalikannya— merkuri meracuni otak dan sel-sel saraf. Karena, pengertian kita saat ini tentang pola makan vegan dapat, secara teori, memenuhi semua kebutuhan nutrisi tubuh manusia, dan membantu melindungi penyumbatan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, dan kanker, Anda akan menjaga kesehatan Anda (dan juga ikan!) dengan membiarkan mereka “lepas dari kesulitan.”7 

Menjadi Vegan menguraikan secara detil tentang sumber asam lemak omega-3 dari nabati di mana orang sering makan daging atau minyak ikan untuk mendapatkannya. Sumber utamanya adalah biji rami (flax seed), kacang walnut, kedelai, tahu, minyak canola, minyak rami (hemp oil), sayuran berwarna hijau gelap, dan rumput laut.8

Ikan menyerap dan mengumpulkan racun-racun secara intensif seperti PCB, dioksin, zat radioaktif, dan logam berat seperti merkuri, timah, kadmium, dan arsenik,9 semuanya itu berhubungan erat dengan kanker dan juga kelainan sistem saraf, kerusakan ginjal, dan gangguan mental. Mereka mengandung banyak kolesterol, protein hewani, dan zat-zat berbahaya, minyak pengubah-darah. Selain menyumbang secara langsung terhadap penyakit dan penderitaan pada manusia melalui produk beracunnya, industri makanan laut juga menyebabkan kerusakan yang sangat besar terhadap ekosistem laut di seluruh dunia. 

Beternak Ikan

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pertambakan, industri ikan dan kerang adalah industri yang besar dan berkembang, yang disamarkan artinya sebagai “Revolusi Biru.” Kenyataannya, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa, sekitar tiga puluh persen produksi perikanan laut dan tawar di seluruh dunia berasal dari operasi industri perikanan komersial.10 Di AS, persentasinya sedikit lebih tinggi, dengan sekitar empat puluh persen udang, kepiting, dan keluarga kerang-kerangan yang lain, sembilan puluh persen salmon, dan enam puluh lima persen ikan air tawar yang dikonsumsi di sini berasal dari operasi perikanan.11 Ikan trout, lele, nila, dan ikan air tawar yang lain dipaksa hidup bersesakan dalam bak beton. Saya berbicara dengan seorang penyelidik yang mengunjungi sebuah peternakan ikan di Illinois yang ditampung dalam sebuah gudang baja yang sangat besar. Ketika dia masuk, udara di sekitarnya sangat amis sehingga dia tak bisa bernafas. Kolam dangkal yang besar di dalamnya hampir seluruhnya hitam dan pada awalnya dia tak bisa melihat seekor ikan pun. Sebentar kemudian dia baru sadar bahwa air itu sangat penuh dengan ikan, berjejalan dalam satu tempat, dan warna hitam dari air itu adalah akibat dari konsentrasi kotoran mereka. Saya pernah melihat ikan yang berjejalan yang terkurung dalam air berwarna kehitaman karena kotoran di suatu peternakan ikan terbuka di selatan Kalifornia dan merenungi makhluk yang hidup sengsara ini, mereka berjejalan dalam kotoran mereka sendiri, dan kemudian disembelih tanpa belas kasihan. Orang memesannya di restoran itu, dan ironisnya percaya bahwa mereka akan mendapatkan omega-3 atau ikan direkomendasikan berdasarkan tipe darah mereka.

Jelas bahwa ikan yang diternak dalam operasi peternakan ikan komersial mengumpulkan racun dari air melalui pernapasan insang, dan antibiotik dalam jumlah besar yang diberikan secara rutin, ini tak hanya untuk mempercepat pertumbuhan secara tidak alami tetapi juga untuk mengontrol penyakit yang selalu ada dalam kondisi yang tidak higienis seperti itu. Makanan ikan juga mengandung zat pencemar dalam jumlah yang tinggi, karena biji-bijian selain mengandung kotoran, sampah, dan produk sampingan dari industri peternakan, juga dari ikan serta produk sampingan ikan yang tidak cocok untuk dikonsumsi manusia atau hewan peliharaan.

Perikanan air laut juga melibatkan penjejalan ikan yang tidak manusiawi dan tidak sehat, biasanya di tambak lepas pantai. Operasi ini menyebabkan polusi air dalam jumlah yang sangat besar, memaksa ribuan ikan hidup di area yang sangat berdesakan, dengan kotoran, antibiotik, pestisida, dan racun-racun kimia—seperti pigmen yang mengubah warna daging salmon dari abu-abu muda menjadi berwarna merah muda yang menggiurkan—semuanya mengalir ke air laut di sekitarnya.12 Salmon dalam tambak Skotlandia, misalnya, menghasilkan jumlah limbah yang tak terolah yang setara dengan limbah delapan juta orang, jauh lebih besar daripada populasi penduduk Skotlandia.13 Operasi peternakan ikan ini ironisnya mempunyai efek menghancurkan terhadap perikanan laut karena ikan-ikan yang dipelihara memerlukan ikan laut dalam jumlah yang besar untuk makanan mereka. Sebagai contoh, diperlukan tiga sampai lima pon ikan dari lautan bebas untuk memproduksi satu pon ikan atau udang laut dari peternakan ikan.14 Sebagai tambahan dari semua ini, peternakan ikan membantu perkembangan penyakit yang dapat mudah tersebar ke salmon liar atau ikan lain dan memusnahkan seluruhnya. Hal inilah yang terjadi pada kawanan rusa liar dan kijang yang menderita penyakit kronis karena infeksi yang diakibatkan oleh kegiatan peternakan sapi. Sebagai salah satu contoh, kutu parasit laut merajalela di dalam industri perikanan salmon yang padat. Industri ini menggunakan racun pestisida dan antibiotik secara sia-sia untuk mengontrol parasit, yang meluas seperti kabut di dalam perairan sekitarnya, membentang hingga sembilan belas mil di sekitar perikanan itu, mengerumuni populasi salmon liar di tempat itu dan membantainya.15 Kejadian lainnya yang merupakan petaka pada populasi liar adalah spesies ikan ternak yang terlepas ke dalam ekosistem setempat. Perikanan udang komersial terkenal sebagai pengrusak lingkungan lain yang menyebabkan polusi yang membunuh terumbu karang yang berharga dan hutan bakau di tepi laut di seluruh dunia. Daging ikan dari pabrik perikanan tambak komersial membuat kesengsaraan, keracunan, dan kerusakan lingkungan yang sangat tinggi. 

Kapal Apung Kematian

Cerita di balik penjaringan makhluk hidup dari lautan bumi kita ini sangatlah tragis, meskipun dengan cara yang berbeda. Ekosistem lautan dunia sedang dirampas dengan bengis. Lama berselang, pada saat orang-orang Eropa pertama kali sampai di pantai Amerika Utara, mereka menulis betapa ikan di sana begitu banyak dan tebal sehingga mereka mengira bahwa kapal mereka akan kandas di atasnya sebelum mereka mencapai daratan.16 Air yang subur ini pernah ada, dan berlanjut seperti itu, tapi itu sekarang menjadi tambang terbuka untuk ikan dengan menggunakan kapal pemukat ikan dengan jala yang panjangnya ribuan kaki hanya untuk memenuhi permintaan tanpa welas asih dari manusia, untuk peternakan ikan, dan makanan ternak yang diperbudak. (Yang mencengangkan, lima puluh persen dari tangkapan ikan di dunia dijadikan sebagai pakan ternak yang dikurung yang sebenarnya tidak memerlukannya, dan bukan diberikan untuk manusia.17) Seluruhnya, tujuh belas industri perikanan utama di dunia habis atau menurun dengan tajam.

Di sebagian besar tempat di dunia, karena terjadi penangkapan ikan yang berlebihan dan polusi air di dekat tepi pantai, tempat itu menjadi tidak mungkin lagi untuk menjalankan operasi perikanan yang menguntungkan di dekat pantai. Kapal-kapal itu menjelajah semakin jauh dan tinggal di sana lebih lama. Ketika ikan ditarik ke dalam kapal, mereka dibuang ke dalam tangki lambung kapal sehingga mereka mati perlahan, membuang kotoran dan menghancurkan ikan di bawahnya. Hal ini sering terjadi selama beberapa hari, ikan yang mati dan sekarat saling bertumpukan dengan luka terbuka, para pekerja menaburkan antibiotik ke dalam sup tinja agar infeksi dapat terkendali. Makanan laut menjadi penyebab utama keracunan makanan di Amerika Serikat.18 Hampir semua makanan laut tidak melalui pemeriksaan pemerintah sebelum dijual ke pasar dan publik, dan penelitian baru-baru ini dari Laporan Konsumen menunjukkan bahwa lebih dari dua puluh lima persen ikan yang dijual dan mereka uji berada pada “keadaan hampir rusak,” lebih dari setengah dari sampel “kakap merah” yang terdapat di toko makanan sebenarnya spesies lain, dan separuh dari sampel ikan pedang ternyata melebihi ambang keamanan FDA yang dapat timbulkan kerusakan saraf akibat metil merkuri. E. coli, histamin, dan zat-zat berbahaya yang lain yang terdeteksi.19

Pembunuhan besar-besaran yang disebabkan oleh metode industri perikanan sangat mengerikan. Perahu pukat besar menggunakan satelit dan teknologi radar dan bahkan helikopter serta pesawat terbang, menebarkan jala hingga menyentuh dasar lautan dan membawa ke atas apa pun yang ada dalam perjalanannya. Ikan sering ditarik secara cepat dari kedalaman sehingga mereka menderita perbedaan tekanan udara. Organ-organ dalam mereka dapat meledak dan mata mereka meletus, mereka mati dengan cara mengerikan karena mati lemas, bergencatan, atau keluar isinya. Dalam serangkaian penambangan kehidupan laut ini, ada banyak makhluk laut yang “tidak menguntungkan” yang ikut terjaring ke atas. Hal ini disebut dengan “tangkapan sampingan” dari ikan tertentu seperti penyu, lumba-lumba, burung laut, dan hewan lain yang dibuang kembali ke dalam lautan, kebanyakan mati atau terluka parah. Tiap tahun, hal ini bertambah sekitar dua puluh lima juta ton hewan laut yang mati dan sekarat, secara kasar sepertiga dari total yang ditarik. Penelitian Universitas Duke baru-baru ini, misalnya, menemukan bahwa lebih dari 300.000 penyu laut terbunuh setiap tahun hanya karena operasi penangkapan ikan komersial.20 Menurut Perlindungan Lingkungan: 

Tangkapan sampingan bisa termasuk ikan muda, penyu laut, paus, burung laut, lumba-lumba, dan makhluk laut lain yang secara komersial tidak diinginkan. Kapal pukat udang melempar kembali sekitar lima pon tangkapan sampingan untuk setiap satu pon udang yang ditangkap, termasuk 150.000 penyu laut yang langka setiap tahun. Metode penangkapan yang dapat menghasilkan tangkapan sampingan yang tinggi adalah jala insang, pukat cincin, dan pukat dasar laut.21  

Paul Watson, pendiri dari Masyarakat Perlindungan Gembala Laut, menjelaskan akibat dari metode penangkapan ikan saat ini: 

Perahu pukat sebenarnya tidak menyisakan satu batu pun. Pukat dasar laut membajak kedalaman untuk mengambil ikan dasar laut, moluska, kepiting, merusak tumbuh-tumbuhan, terumbu karang, serta struktur. Penarikan di kedalaman laut menengah mengikuti ikan yang tinggal di antara dasar dan permukaan. Pemukatan di permukaan melukai yang ada di atas laut. Spesies-spesies di kedalaman yang bertahan hidup pada tiga tingkatan penyerangan kemudian menuju tantangan armada berikutnya, jala insang, jala pukat cincin, jambangan kepiting dan lobster.

Rantai makanan paling dasar sedang mengalami kehancuran seperti pukat plankton kecil Jepang yang menangkapi ratusan juta ton udang krill. Udang krill, seperti zooplankton udang, diubah menjadi protein dasar untuk pakan hewan. Semakin banyak udang krill dieksploitasi berarti semakin sedikit makanan yang tersedia bagi ikan dan paus.

Pembunuhan global secara besar-besaran ini mempengaruhi jumlah spesies ikan dunia, mulai dari limbah yang begitu besar dan penjagalan yang terjadi pada kegiatan pabrik terapung yang besar itu sehingga mengakumulasi kerusakan yang disebabkan oleh jutaan orang yang menangkap ikan dengan pancing, jala kecil, dan jebakan, serta menyisir garis pantai untuk mendapatkan kepiting dan kerang.22 

Semua spesies ikan sedang dibunuh dan menuju ambang kepunahan untuk memenuhi permintaan atas pakan dari ikan untuk menggemukkan ternak atau industri perikanan, atau untuk makanan manusia. Menurut Watson:  

Rasionalisasi untuk produksi pakan ikan bertentangan dengan semua logika. Sebagai makanan ternak, sekitar seratus pon berat ikan ketika hidup yang diperlukan untuk menghasilkan satu pon daging sapi. Dua ratus pon pakan dari ikan digunakan sebagai pupuk untuk menghasilkan kurang dari tiga pon protein nabati. Bahkan lebih ironis lagi adalah lebih dari lima puluh pon pakan dari ikan diperlukan untuk meningkatkan perikanan salmon.23 

Banyak spesies kehidupan laut yang lain yang menderita secara langsung karena permintaan tidak alami kita atas daging ikan. Singa laut, anjing laut, paus, lumba-lumba, dan burung laut menderita dan sering kelaparan karena sumber makanan mereka telah dihancurkan oleh kegiatan penangkapan ikan oleh manusia. Jumlah singa laut Stellar di Laut Bering, misalnya, kurang dari dua puluh persen dari apa yang ada di tahun 1950-an. Selain mencuri pasokan makanan mereka, penangkap ikan atau agen-agennya juga membunuh makhluk-makhluk ini karena mereka menganggapnya sebagai pesaing di tengah penurunan jumlah ikan yang belum pernah terjadi di dalam lautan yang ikannya terlalu banyak ditangkap. Departemen Perikanan Kanada setiap tahun menyubsidi pembantaian anak anjing laut di musim semi di bongkahan es Kanada timur—tindakan brutal dan pemukulan berdarah dengan gada serta penembakan hingga mati setiap tahunnya membunuh lebih dari 300.000 bayi anjing laut yang tak berdaya oleh nelayan lokal.24 Pada tahun-tahun terakhir, pemerintah sebenarnya sudah meningkatkan batas jumlah anjing laut yang boleh dibunuh; menteri perikanan Newfoundland telah memberitahukan secara resmi harapannya bahwa anjing-anjing laut akan dimusnahkan seluruhnya, karena ia percaya bahwa mereka mengancam industri perikanan Kanada.25 Ahli-ahli biologi yang pernah meneliti situasi ini melaporkan bahwa ancaman utama dari industri perikanan adalah ketamakannya sendiri, bukan para anjing laut; tidak ada cukup ikan muda yang bertahan hidup dalam jala ikan untuk memenuhi kebutuhan stok. Negara Islandia berterus terang membenarkan pembunuhan paus, itu adalah sebuah langkah penting untuk melindungi industri perikanan.

Burung cormorant dan burung laut lainnya diburu, dijerat, dan dibunuh oleh kantor pemerintah maupun keperluan pribadi karena mereka merasa bahwa burung merupakan pesaing bagi nelayan dan industri perikanan. Setidaknya dua puluh ribu lumba-lumba dibunuh tiap tahun oleh industri tuna. Karena lumba-lumba cenderung berenang di atas kawanan tuna, operasi perikanan menggunakan mereka untuk mencari tuna, dan lumba-lumba tak terhindari lagi akan berakhir di dalam jala. Tak ada pengawasan dari penangkapan ikan tuna, dan personel Taman Nasional Galapagos, sebagai contoh, menangkap seekor tuna seiner dengan jalanya yang ditebarkan di dalam perbatasan taman nasional pada tanggal 3 Mei 2002, dengan lebih dari lima puluh ekor lumba-lumba mati dan sekarat hanya untuk mendapat delapan tuna. Tak ada hukuman yang diberikan.26 Hiu-hiu sekarang sedang dibunuh hingga puluhan ribu hanya untuk diambil siripnya. Mereka ditangkap, siripnya dipotong, dan tubuhnya dilempar kembali ke air hingga mati perlahan, ini kematian yang mengenaskan.27 Kadang tulang belakangnya juga dibelah untuk menghilangkan tulang rawan yang akan dijual di toko-toko kesehatan sebagai penyembuh kanker; padahal sudah diperlihatkan ini hanya berpengaruh sedikit, hanya sebagai efek psikologis belaka, tapi hiu-hiu itu tetap harus mati untuk itu. Beberapa spesies, seperti ikan pedang dan ikan kerapu, sedang menuju kepunahan di dalam lautan bebas, begitu juga sebagian besar spesies penyu laut, terperangkap dalam jala yang digunakan oleh pemukat udang komersial.

Sebagai tambahan, semua penangkapan ikan komersial, yang telah menghancurkan sembilan puluh persen ikan besar di lautan seperti tuna dan ikan pedang, ada juga ancaman karena penangkap ikan untuk rekreasi atau “olah raga” baik pada ikan air tawar maupun ikan air laut.28 Baru-baru ini penelitian menunjukkan bahwa para pemancing membunuh spesies-spesies langka dalam persentase yang jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan menyebabkan, misalnya, lebih dari dua puluh lima persen kematian spesies ikan laut. Apakah mereka membunuh ikan untuk dimakan atau dilempar kembali, ikan itu sangat menderita. Olah raga memancing, seperti yang ditunjukkan oleh Barry Mackay, “ikut terlibat dalam pertempuran antara penangkap ikan dan ikan—sebuah pertempuran yang tak pernah diminta, atau dikehendaki, oleh ikan.”29 Penelitian telah menunjukkan bahwa ikan yang terpancing dan dilempar kembali itu terluka berat dan banyak yang mati karena pengalaman itu. Kepedihan karena terpancing di mulut sangatlah menyakitkan—Thomas Hopkins, guru besar ilmu kelautan di Universitas Alabama, telah membandingkannya dengan, “perawatan gigi tanpa obat bius, bor gigi hingga mencapai saraf,”30 Penderitaan ini bertambah ketika sedang ditarik dan “dimainkan” dalam tali, bagi ikan hal ini adalah perjuangan penuh derita yang tak terucapkan. Penangkapan oleh pemancing merusak lapisan lendir pelindung pada ikan itu; kemudian, setelah membuat lebih banyak luka ketika melepas kail, pemancing melempar ikan yang terluka itu untuk “bertempur” lagi di hari berikutnya. Diperkirakan kematian ikan setelah “penangkapan dan pelepasan” sangat tergantung pada berbagai faktor, termasuk spesies dan usia ikan, kedalaman ketika mereka ditangkap, seberapa parah mereka tercungkil, bagaimana mereka ditangani, dan seberapa lelah saat mereka berjuang untuk hidup dan matinya. Dalam sebuah penelitian pada salmon, dua puluh hingga tiga puluh persen meninggal dalam siksaan yang berat; dan dalam penelitian lain, persentase ikan yang segera mati akibat ditangkap dan dilepaskan kembali ke air adalah antara lima hingga sepuluh persen, dan yang lain adalah lima puluh persen dan bahkan hingga seratus persen.31

Selain penderitaan ikan, ada juga kekejaman yang luar biasa terhadap makhluk hidup yang digunakan sebagai umpan dalam pemancingan, seperti yang dijelaskan oleh Joan Dunayer: 

Hewan-hewan yang digunakan sebagai umpan, mulai dari udang, cicak, cacing, dan katak sampai ke ikan kembung, salmon, jangkrik, dan kepiting.”Umpan ikan” dikaitkan ke pancing sehingga mereka tidak segera mati: melalui bibir, hidung, lubang mata mereka. . . . Jika besar, mereka mungkin akan ditusuk oleh dua atau tiga kail. Kadang, untuk mengurangi penarikan, pemancing menjahit mulut ikan sebelum digunakannya sebagai umpan. Karena seekor ikan berjuang dan berdarah-darah, inilah yang menarik predator, pemancing sering memotong “umpan ikan”, memotong sirip mereka, atau mencongkel mereka dengan pisau lipat.32 

Lingkup penderitaan yang disebabkan oleh permintaan daging dari kehidupan laut sangatlah luas, hampir tak dapat dimengerti. Sedangkan catatan tidak termasuk jumlah burung dan mamalia yang dibunuh untuk makanan (di AS, jumlahnya sekarang lebih dari sepuluh miliar per tahun), untuk “makanan laut” hanya beberapa ton yang dilaporkan. Delapan juta ton makhluk air per tahun: berapa banyak individukah? Tiap ikan adalah vertebrata dengan sistem saraf pusat dan mempunyai saraf perasa sakit, seperti yang kita, mamalia, miliki. Para ahli biologi kelautan telah membuktikan bahwa ikan benar-benar merasakan dan takut sakit dan mereka belajar menghindari rangsangan yang sakit, bahkan pada tingkatan memilih makanan penghilang rasa sakit. Para peneliti juga membuktikan bahwa sangat jelas, bahwa ikan dapat takut dan belajar mengatasi sakit itu. Selain itu, para ilmuwan telah menemukan bahwa ikan dan juga invertebrata di dalam laut “menghasilkan larutan opiatelike biokimia pelembab (enkephalins dan endorphin) sebagai reaksi pada luka yang tak diragukan lagi akan menyakitkan bagi manusia, seperti bukti lanjutan atas kemampuan ikan untuk merasakan sakit.”33 Seperti kita, mereka tidak akan bertahan hidup jika mereka tidak merasakan sakit. Sensor sakit mereka terutama berpusat di sekitar mulut mereka, tempat mereka sering dikait dan ditarik secara kejam.

Selain merasakan sakit, para ilmuwan juga menemukan bahwa ikan ternyata jauh lebih cerdas daripada yang pernah diduga. Misalnya, para ahli dari Inggris mengatakan bahwa ikan, sebagai kelompok vertebrata utama yang paling purba, mempunyai “waktu banyak” untuk mengembangkan pola perilaku yang kompleks dan beraneka ragam untuk bersaing dengan banyak vertebrata yang lain. Mereka melaporkan bahwa ada begitu banyak perubahan dalam pengertian ilmu psikologi dan kemampuan mental dalam beberapa tahun terakhir, dan menambahkan, “Meskipun ini mungkin terlihat luar biasa dengan mengukur kecerdasan hewan berdasarkan volume otak, dalam jangkauan teori kognitif, ikan bahkan dapat dibandingkan dengan primata-bukan manusia.”34 Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ikan “penuh dengan kecerdasan sosial,” yang mengenal “kawanan kelompok” individual dan martabat sosial, dan para ilmuwan telah mengamati mereka dengan menggunakan peralatan, jala yang kompleks, bekerja sama, dan memperlihatkan tradisi budaya yang stabil dan memori yang panjang.35

Sylvia Earle, mantan kepala ilmuwan dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, menulis, “[Ikan] adalah teman senegara kita yang bersisik dan bersirip….Saya tak akan pernah makan siapa pun yang saya kenal secara pribadi. Saya tak akan sengaja makan seekor ikan krapu lagi seperti saya juga tak makan anjing. Mereka secara alami sangat baik, sangat ingin tahu. Anda tahu, ikan itu sensitif, mereka memiliki kepribadian, mereka sakit bila mereka dilukai.”36 Ikan adalah makhluk yang sensitif dan cerdas, dan daging mereka, dipenuhi dengan rasa sakit, ketakutan, dan racun, yang jelas tidak sehat untuk kita makan; walau kita terus melakukannya. Mengejar, mengurung, menjagal, dan memakan mereka sebagai obyek untuk dikonsumsi jelas telah mematikan diri kita secara spiritual dan emosional. Paul Watson telah mencatat, Makanan laut jelas tak dapat diterima secara sosial. Kita mengutuk orang Afrika yang memburu monyet dan mamalia serta spesies burung di hutan, sedangkan dunia yang maju tidak berpikir tentang penangkapan besar-besaran atas satwa liar seperti ikan pedang, tuna, ikan pecak halibut, hiu, dan salmon untuk makanan kita. Kenyataannya adalah penjagalan hewan laut di dunia jelas pembantaian satwa terbesar di atas planet ini.37

Koki di restoran tahu bahwa ikan yang berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya saat melawan jala dan pancing akan mengeluarkan asam laktik sehingga menimbulkan rasa pahit pada dagingnya. Pada saat mengonsumsi ikan, kita juga menelan asam laktik, adrenalin, hormon yang dikeluarkan oleh ikan yang kesakitan dan ketakutan. Jelas sekali tidaklah bijaksana mengonsumsi ikan yang katanya sangat bergizi, padahal sebenarnya kita menyerap lebih banyak racun yang berpengaruh buruk bagi tubuh kita daripada manfaatnya. Kita bisa mendapatkan semua protein kualitas tinggi dari sumber nabati tanpa harus menyebabkan penderitaan dan trauma dari makhluk hidup lainnya.

 Akhirnya, dengan mengambil ikan dari perairan, kita menghancurkan sistem pemurnian air di Bumi. Kita mengetahui bahwa ikan membersihkan air dari racun dan memurnikannya: mereka seperti ginjalnya Bumi, menyerap semua kontaminasi ke dalam daging mereka. Inilah fungsi alami dari ikan, dan merupakan alasan yang kuat mengapa dengan berkurangnya jumlah ikan, kita merusak keseimbangan Bumi dan kesehatan kita sendiri apabila terus mengonsumsinya. Umumnya kita sering melihat segerombolan ikan berkumpul di pipa pembuangan kotoran tinja yang mengalir ke laut di negara-negara yang masih mengizinkannya. Ikan tersebut memakan tinja manusia yang keluar dari pipa ini. Ikan ini memakan sampah dan kotoran, seharusnya tidak pantas menjadi makanan manusia, sangat tidak higienis jika dilihat dari sudut pandang manapun. Kita dengan kejam memasuki dunia mereka, mengurung, memanipulasi, dan membunuh mereka, juga membahayakan burung-burung laut dan mamalia laut, kita telah melakukan kejahatan yang melawan alam dalam skala yang sangat besar. Ini menunjukkan sikap tidak hormat kita terhadap kehidupan dan sikap tidak berwelas asih kita terhadap sumber dari seluruh kehidupan, yang telah memberkahi kita dengan tubuh yang sesungguhnya tidak membutuhkan kematian dan penderitan dari ikan, ikan lumba-lumba, kura-kura, lobster, udang atau kepiting untuk bertahan hidup.

 

Referensi

1.     Farley Mowat, Sea of Slaughter (New York: Atlantic Monthly Press, 1984), p. 404.

2.     Minority Staff of the U.S. Senate Committee on Agriculture, Nutrition, and Forestry, “Animal Waste Pollution in America: An Emerging National Problem,” December 1997.

3.     Michael Satchel, “The Cell from Hell,” U.S. News and World Report, July 28, 1997, pp. 26–28.

4.     Tim Beardsley, “Death in the Deep: ‘Dead Zone’ in the Gulf of Mexico Challenges Regulators,” Scientific American, November 1997, pp. 17–18.

5.     Lewis Regenstein, How to Survive in America the Poisoned (New York: Acropolis, 1982), p. 103.

6.     K. Noren, “Levels of organochloride contaminants in human milk in relation to the dietary habits of the mothers,” Acta Paediatrica Scandinavica, 72(6), November 1983, pp. 811–816.

7.     Michael Klaper, Vegan Nutrition: Pure and Simple (Paia, HI: Gentle World, 1998), pp. 26–27. This passage from the book is slightly modified and updated by Dr. Klaper through his correspondence with the author of February 2004.

8.     Brenda Davis and Vesanto Melina, Becoming Vegan (Summertown, TN: Book Publishing Company, 2000), pp. 60–76.

9.     Office of Pollution Prevention and Toxics, EPA, “Management of Polychlorinated Biphenyls in the United States” (Washington, DC: Government Printing Office, 1997).

10.   See www.fao.org/docrep/005/y7300e/y7300e00.htm for an overview of world fisheries.

11.   Christie Aschwanden, “Is Salmon Good for You?” Alternative Medicine, June 2005, p. 71. See also www.fishinghurts.com.

12.   Canthaxanthan, the pink salmon pigment marketed by pharmaceutical giant Hoffman-LaRoche, has been linked to retinal damage, though its use is still allowed in the commercial aquaculture industry. It is also fed to hens in the egg industry to make their egg yolks more yellow. See “Fish Farms Become Feedlots of the Sea,” Los Angeles Times, December 9, 2002.

13.   “Fishy Business” New Internationalist, July 2000, p. 11.

14.   Ann P. McGinn, “Blue Revolution—The Promises and Pitfalls of Fish Farming,” WorldWatch, March/April 1988, p. 10.

15.   Cornelia Dean, “Fish Farms Tied in Study to Imperiling Wild Salmon,” New York Times, March 30, 2005; see also “The Fish Business,” Animal Aid (U.K.) at www.animalaid.org.uk.

16.   Mowat, p. 167.

17.   S. Holt, “The Food Resources of the Ocean,” Scientific American, 22, 1969, pp. 178–94.

18.   See www.fishinghurts.com/HealthConcerns.asp.

19.   “America’s Fish: Fair or Foul?” Consumer Reports, February 2001.

20.   See www.fishinghurts.com/EnvironmentalConcerns.asp.

21.   See www.environmentaldefense.org/seafood/oceansinperil.cfm.

22.   Paul Watson, “Consider the Fishes,” VegNews, March–April 2003, p. 27.

23.   Ibid.

24.   Paul Watson, Sea Shepherd Log #58, 2002, p. 20.

25.   Ibid.

26.   Ibid., p. 10.

27.   Ibid.

28.   Rod Fujita, Heal the Ocean: Solutions for Saving Our Seas (Gabriola Island, BC: New Society Publishers, 2003), p. 125.

29.   Barry Kent MacKay, “Catch and Release,” Animal Issues, Spring 2003, p. 20.

30.   Richard H. Schwartz, “Troubled Waters: The Case Against Eating Fish,” Vegetarian Voice, Spring 2004, p. 7.

31.   Ibid., pp. 22–23.

32.   Joan Dunayer, Animal Equality (Derwood, MD: Ryce Publishing, 2001), p. 69.

33.   Barry Kent MacKay, p. 20.

34.   BBC News, “Scientists Highlight Fish ‘Intelligence,’ “ reprinted in Animal Rights Online, September 7, 2003. See http://news.bbc.co.uk/1/hi/england/west_yorkshire/3189941.stm.

35.   Ibid.

36.   Cited in Dawn Carr, “They Die Slowly . . .” PETA’s Animal Times, Summer 2003, p. 9.

37.   Paul Watson and Joseph Connelly, “The VN Interview: Captain Paul Watson,” VegNews, March–April 2003, p. 25.

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia