Beranda > Perjalanan Transformasi

bab empat belas 

PERJALANAN TRANSFORMASI

 “Pertama, menjalani hidup yang penuh kasih. Kemudian kau akan mengetahuinya.”

—Buddha

 

 “Dengan memiliki sikap hormat terhadap kehidupan, kita masuk ke dalam hubungan spiritual dengan dunia.”

—Albert Schweitzer

 

 “Ada ribuan luka dalam cabang kejahatan yang menjadi satu dalam satu akar.”

—Henry David Thoreau, Walden

 

Jaringan Permata dalam Perjalanan

Bagaimana kita bisa memberi kontribusi terbaik kepada pembangunan budaya dan evolusi kita menuju kecerdasan, belas kasih, kedamaian, dan pemenuhan yang lebih besar? Kita masing-masing memiliki sebuah potongan unik dari teka-teki untuk dikontribusikan, yang muncul sebagai tanggapan atas impian-impian, aspirasi-aspirasi, dan kerinduan dalam hati kita yang berkembang lewat perjalanan hidup kita yang istimewa. Ketika kita mengembangkan suatu rasa atas kehidupan unik kita yang mengagumkan dan potensial, kita merasakan hal yang sama terhadap orang lain. Hal ini muncul sebagai respek dan pemahaman bagi mereka dan keinginan untuk bekerja sama dengan dan mendukung mereka. Ini adalah sebuah ekspresi dasar dari kesehatan jiwa bawaan lahir kita. Karena kita menghargai hidup kita, kita menghargai hidup yang lainnya dan secara alami rindu untuk hidup dengan memberi manfaat kepada mereka. Jika kita merasa hidup kita merupakan beban yang tidak disukai, kita kemungkinan besar akan memiliki opini yang rendah akan nilai kehidupan yang lainnya. Kita bisa membalikkan ini dengan beralih ke pola makan yang lebih penuh kasih dan dengan berkontemplasi dan menyatakan keberhargaan dari hidup kita –dari semua kehidupan. Dorongan belas kasih akan tumbuh ketika kita memelihara rasa keterhubungan kita dengan segala sesuatu. Seiring kita menjadi lebih bebas dan lebih bersyukur kepada hidup kita, kita secara alami menjadi sebuah kekuatan untuk perubahan positif di dunia ini.

Untuk memahami dengan lebih baik sifat unik dan kekuatan dari perjalanan kita, mungkin akan membantu jika memeriksa kehidupan kita agar menemukan bibit-bibit tersembunyi dari masa lalu kita yang sekarang ini mendorong, bagai akar-akar hijau yang hidup, ke dalam kesadaran kita. Bibit-bibit kecil yang tak dikenali, ketika dikenali dan dihormati, bisa tumbuh menjadi pohon-pohon yang kuat dan indah dalam taman kehidupan kita. Saya menawarkan bab ini sebagai sebuah contoh paling sederhana dari proses ini dan mendorong semua orang untuk menjenguk ke dalam tanah subur dari taman mereka sendiri karena bibit-bibit tersembunyi mungkin sudah berkecambah menjadi tanaman-tanaman yang indah dan bermanfaat. Terutama sekali, dengan mengetahui lebih jauh bibit-bibit veganisme dalam diri kita, kita bisa memeliharanya dan mengembangkan pemahaman kita tentang kontribusi unik kita untuk memulihkan dunia kita. Kita akan menyentuh banyak, karena perjalanan-perjalanan kita semua terhubung.

Dalam tradisi Avatamsaka dari Buddhisme Mahayana, terdapat sebuah ajaran metafora pokok yang disebut sebagai ajaran dari jaringan permata. Itu bukan sekedar ajaran melainkan juga sebuah gambaran untuk dimeditasikan demi wawasan lebih besar yang sebenarnya dari makhluk. Alam semesta dipersamakan dengan sebuah jaringan tanpa batas, dan pada setiap simpul dari jaringan yang luas itu terdapat sebuah permata. Setiap dharma dalam alam semesta –setiap makhluk, benda, atau peristiwa– adalah salah satu dari permata-permata ini. Maka setiap makhluk, benda, dan peristiwa terhubung dengan setiap makhluk, benda, dan peristiwa lainnya melalui ruang dan waktu yang tanpa batas. Bukan hanya itu, tetapi jika kita melihat secara mendalam pada setiap permata dalam jaringan yang luas ini, kita bisa melihat tercermin dalam permata ini semua permata lainnya yang ada pada jaring-jaring kosmis itu! Masing-masing dan setiap dharma individual memuat semua yang lainnya, dan jika kita benar-benar mengetahui satu, maka kita mengetahui semuanya. Ajaran kuno yang muncul dari dan menopang metafora jaringan permata ini dikenal sebagai ajaran tentang timbulnya keadaaan terkondisi dan saling menembus dan saling ketergantungan dari semua fenomena. Segala hal bergantung pada segala hal lainnya; tak ada yang pernah terpisah, dan setiap partikel memuat keseluruhan alam semesta. Kita semua sangat dan terkait secara radikal!

Kita bisa melihat bahwa kisah-kisah dan perjalanan-perjalanan kita juga saling terkait secara intim dan bahwa setiap perjalanan, meskipun unik, secara ajaib memuat semua perjalanan-perjalanan lainnya dari semua makhluk. Kita saling belajar satu sama lain, meskipun pada level terdalam kita melihat bahwa itu ada, namun pada akhirnya, tidak ada lainnya. Kita semua berbagi sumber yang sama, dan dinding-dinding yang kita bangun untuk memisahkan kita adalah ilusi. Sewaktu kita berkembang dan sewaktu dinding-dinding khayalan sirna, belas kasih dan kebebasan meningkat seiring pemahaman kita yang semakin mendalam tentang antar makhluk dari semua kehidupan. Ajaran dari keterhubungan yang dalam dari semua kehidupan tidaklah khusus dalam Buddhisme melainkan telah diiintuisi selama berabad-abad oleh orang-orang dari berbagai tradisi dan budaya. Suatu ajaran universal yang tidak terpisahkan dari pemahaman tentang antar makhluk ini adalah berhati-hati, membina kemampuan kita untuk hadir secara utuh dalam tindakan-tindakan kita dan untuk melihat hubungan-hubungan antara tindakan-tindakan kita dan efek-efeknya. Berhati-hati membawa kebebasan dan wawasan dengan meningkatkan kesadaran kita, semakin kita sadar dan berhati-hati, semakin bebas kita jadinya.

Dalam kaitannya dengan makanan, agar memahami jaring penderitaan yang berdesir dimana kita sebagai yang menciptakan budaya, mengabadikan, dan memperbesar melalui tindakan-tindakan makan kita sehari-hari yang kudus, dan jaring keterhubungan dalam kebebasan, belas kasih, dan cinta bisa tumbuh dan menerangi dunia kita, kita harus meneruskan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang dilakukan dengan hati-hati adalah suatu perziarahan, karena memiliki tujuan spiritual: untuk meningkatkan kesadaran kita dan kemampuan kita untuk mencintai dan memahami. Budaya kita berada dalam perhentian langkah-langkah awal dari sebuah perjalanan transformasi dimana kita semua berpartisipasi dan dengan mana kita semua turut berkontribusi dengan perjalanan-perjalanan kita sendiri. Perlu untuk berkembang dalam waktu, tetapi itu menunjuk hidup, situasi nafas kita–berbagi hidup kita hari ini. Itu adalah perziarahan kita bersama, dan untuk ini, kehati-hatian adalah penting. 

Benih Inspirasi

Perjalanan saya dalam mempertanyakan kekejaman terhadap hewan untuk makanan begitu meresap, dimulai dengan cara yang tampaknya bertentangan, karena saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sama sekali tidak tertarik dengan makanan nabati. Akibatnya, untuk dua puluh dua tahun pertama dalam hidup saya, seperti kebanyakan warga Amerika, saya memakan daging hewan, telur, dan produk susu dalam jumlah yang besar. Saya, bagaimanapun juga, menemukan benih-benih inspirasi yang masih tidur pada awalnya tetapi kemudian mulai berkembang dengan kuat. Walaupun benih-benih ini berkenaan dengan satu perjalanan yang unik, perjalanan ini menerangi benih-benih yang setengah tersembunyi yang mengeluarkan tunas baru pemahaman terhadap makhluk lain.

Bagi saya, satu benih lahir dan dibesarkan di Kota Concord, Massachusetts, asal dari dua kejadian yaitu revolusi yang dialami Amerika Serikat: revolusi politik pada tahun 1760-an dan 70-an, dan revolusi kesusastraan tahun 1840-an dan 50-an. Karena lahir dan dibesarkan di Concord saya memiliki perasaan keterhubungan yang dekat dengan dua revolusi ini dan sebagai keturunannya, dengan dorongan untuk mempertanyakan mereka, memahami apa yang memotivasi mereka, membawa mereka dalam diri saya. Saya yakin dua revolusi ini memberi kontribusi bagi munculnya revolusi vegan, yang merupakan revolusi budaya yang sangat bermakna yang bisa menyembuhkan budaya kita pada tingkat yang paling dalam.

Revolusi politik mencapai puncaknya pada awal Perang Revolusi di Jembatan Utara Tua di Concord pada 19 April 1775. Petani dan warga pedesaan yang tinggal di Concord dan kota-kota lain di sekitar Boston ikut memberikan pertahanan yang terkuat terhadap kekuasaan imperialis Inggris dan memerangi dominasi ekonomi yang tidak adil oleh British East India Company, serta korporasi multinasional Inggris yang didukung secara militer dan politik dan mendapat legitimasi dari pemerintahan Inggris pada zaman itu. Revolusi abad ke-18 ini akhirnya menghasilkan kebebasan dari Kerajaan Inggris, dan melahirkan epos pengalaman Amerika dalam demokrasi, kesetaraan, keragaman budaya, dan kebebasan pribadi yang terus menarik dan memberi inspirasi bagi warga di seluruh dunia.

Suatu hal yang mengagumkan dimana revolusi kesusastraan dan filsafat pada abad berikutnya juga berbasis di Concord. Ini tumbuh dari kehidupan dan tulisan para transendentalis Amerika yang tinggal di sana – Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, Bronson Alcott, Louisa May Alcott, William Ellery Channing, Nathaniel Hawthorne – dan lain-lain, seperti Walt Whitman, yang diinspirasi oleh para transendentalis dan melakukan perjalanan untuk mengunjungi mereka. Kini kita mengenal para pelopor pemikir ini atas pertanyaan yang dalam pada nilai-nilai tradisional yang mereka perkenalkan dan inspirasi artistik, puitis, dan rohaniah yang mereka sajikan. Karya filosofis Emerson, seperti “Nature”; kontribusinya yang oratoris, seperti “Harvard Divinity School Address”; dan puisinya, yang menjadi pelopor penyajian ide filsafat Timur untuk pertama kalinya bagi Amerika Serikat, menjadikannya seperti seorang legenda hidup, sebuah magnet yang menarik para penulis dan pemikir dari segala penjuru, dan pengaruhnya yang masih kuat bertahan hingga kini, mendorong penghormatan dan cinta kasih kepada alam, eksplorasi diri, dan penghargaan bagi alam rohaniah yang sangat utama dari semua manifestasi. Dia menekankan bahwa kebijaksanaan yang sejati melampaui pengetahuan material, dan bahwa dunia alami juga merupakan manifestasi dari Tuhan. Whitman menulis: “Saya sedang mendidih perlahan, mendidih perlahan. Emerson yang menjadikan saya matang.”

Thoreau sangat banyak dipengaruhi oleh Emerson (dan juga sebaliknya), dan dalam beberapa hal memudarkan guru dan mentornya dalam hal pengaruh. Pengalamannya yang radikal, untuk tinggal dalam kesunyian di Walden Pond, Concord, dan “untuk mengeluarkan hakikat kehidupan,” tetap menginspirasi para pencari spiritual dan dengan cara yang sangat kuat menjadi pelopor untuk membiasakan mendengar suara hati yang mawas diri dalam wilayah budaya Amerika yang sangat terbuka. Para filsuf di Concord melihat dengan jelas bahwa unsur internal tidak ada dalam budaya mereka, yang terlalu terfokus pada kesuksesan dan penaklukan eksternal. Thoreau memiliki perpustakaan buku terbesar tentang filsafat Timur di Amerika Serikat pada jaman itu, dan bukunya Civil Disobedience (masih menjadi salah satu dokumen sumber yang utama dari pertahanan tanpa kekejaman dan pengungkapan yang abadi untuk kekuatan dan tanggung jawab pribadi agar secara aktif melawan kebijakan pemerintah) mempengaruhi Tolstoy, Gandhi, King, dan kehidupan banyak orang.

Ide progresif yang radikal dari Bronson Alcott mengenai pendidikan anak-anak ditemukan ulang dan akhirnya dan dihargai saat ini. Dia seorang vegetarian yang etis dan kekuatan penggerak yang utama di balik formasi Fruitlands, sebuah percobaan yang berbeda dalam komunitas vegetarian yang tinggal di luar kota Concord. Para transendentalis di Concord adalah warga Amerika yang pertama kali menyelidiki dan menjalin ke dalam pemikiran Barat. Banyak ide mulia dan abstrak dari tulisan para Taois, Budhis, Jain, dan Vedantis, dan untuk membangun jembatan progresif yang termasuk menghormati alam, menekankan kebenaran yang hakiki dan potensi yang luas pada sifat manusia, dan menyelidiki gaya hidup tanpa kekejaman, kesederhanaan, dan kontemplasi dalam diri.

Akar bangsa Amerika yang mempertanyakan makanan secara mendalam dan mengembangkan dasar filosofis untuk hubungan yang lebih berwelas asih dengan satwa bisa ditelusuri pada penulis-penulis progresif dalam kelompok Emerson di Concord pada pertengahan abad sembilan belas. Thoreau menulis, “Saya tidak ragu bahwa ini adalah bagian dari takdir bangsa manusia dalam perbaikan yang bertahap, untuk berhenti makan hewan, seperti suku yang biadab berhenti saling memakan sesama saat mereka berhubungan dengan bangsa yang lebih beradab. Pendapat Emerson “Anda baru saja makan malam, dan bagaimanapun juga rumah jagal dengan teliti disembunyikan pada jarak bermil-mil, juga terlibat,” menunjukkan kemampuan seorang guru yang berharga di Concord untuk membuat hubungan yang paling menghindarkan diri. Putri dari Bronson Alcott, Louisa May, menulis, “Pola makan vegetarian dan ketenangan yang indah. Makanan hewani dan mimpi buruk. Merenggut tubuh kalian dari kebun buah-buahan; jangan merenggut satwa dari keadaan [rumah jagal] yang berantakan. Tanpa pola makan daging tidak ada lagi perang tetesan darah.” Dia memberi pernyataan mengenai hubungan antara kekejaman yang menyertai pola makan hewani, mimpi buruk, dan mimpi buruk kekejaman manusia yang berbalik menghadang kita.

Mungkin sebagai seorang anak, yang berkelana melalui hutan-hutan dan sepanjang jalan di Concord serta sepanjang pesisir Walden Pond, tempat saya belajar berenang, saya merasakan pemikiran yang mulia dan berani dari para pelopor spiritual ini. Meskipun tampaknya ada sedikit di dunia luar yang berani mempertanyakan kebiasaan makan yang disertai kekejaman di mana saya lahir di dalamnya, mungkin pemikiran dan perasaan dari tokoh-tokoh ini disaring melalui dunia dalam diri yang saya selidiki bersama-sama dengan dunia luar. Saya yakin bahwa kita semua memiliki memori pengalaman benih tersebut, mungkin hanya sedikit yang dikenal, yang sekarang ini berkembang dalam kesadaran. Kita belajar satu sama lain dan menanam benih satu sama lain. Melalui teladan, tindakan, kata-kata, ekspresi, tulisan, dan gerak isyarat, kita menyentuh satu sama lain, kadang-kadang sangat dalam. Sebagai anak-anak yang peka, kita bisa diberkati atau terluka dengan sangat mendalam.

Beberapa benih lain tumbuh untuk membentuk perjalanan saya. Ada yang tumbuh dengan anjing gembala Jerman yang mulia dan lembut. Keluarga kami mendapatkan Bismarck si anjing kecil saat saya, yang terbesar dari tiga anak, berumur sekitar satu tahun. Dia menjadi teman saya yang setia hingga dia meninggal saat saya berumur belasan tahun, menyebabkan rasa kehilangan yang menyedihkan dalam keluarga kami. Dia selalu menemani kami dalam ekspedisi kemah dan gerak jalan yang sering kami lakukan di pegunungan New Hampshire dan Vermont. Orang tua kami tidak menyukai kekejaman dan pembunuhan pada hewan, jadi kami tidak pernah memasukkan berburu atau memancing dalam kegiatan alam yang kami lakukan secara teratur. Di samping menanamkan dalam diri saya penghargaan yang penuh kasih kepada makhluk di alam liar semenjak kami masih muda, ayah saya mengajarkan saya main piano dan menyelidiki kekuatan misterius pada musik untuk relaksasi, mengangkat, dan mengekspresikan perasaan yang dalam. Dia seorang pianis yang semi-profesional, dan cintanya pada musik dan keselarasan merupakan inspirasi yang tetap hidup. Saya akan selalu mengingat bagaimana dia mengajarkan saya dan saudara saya bernyanyi dengan selaras di atas pegunungan.

Dilahirkan dalam keluarga yang menggeluti koran adalah benih bermakna lainnya dalam perjalanan hidup saya. Pada masa saya lahir, orang tua saya membeli usaha koran mingguan kecil di wilayah Concord. Saya tumbuh dalam dunia putaran mesin set dan mesin cetak, promosi, tenggat mingguan, dan parade tanpa akhir dari para politikus dan pedagang lokal. Ayah saya mengatur pengeditan dan cerita, ibu saya mengerjakan gambar dan grafik, dan pertumbuhan yang konstan dari koran kecil ini adalah pusat dari kehidupan keluarga kami. Koran The Beacon, maju pesat dan berkembang, dan ayah saya mampu membeli atau memulai usaha koran di kota-kota lainnya begitu juga di wilayah Concord. Menjelang saya memasuki sekolah menengah atas, kami memiliki tiga belas rantai usaha koran dengan beberapa ratus karyawan, yang tinggal dalam gedung baru yang luas di kota seberang, Acton. Saya melihat langsung kekuatan pers yang seperti dalam dongeng, dan bagaimana para senat dan wakil kongres, serta politikus lokal mendatangi ayah saya, memohon dukungannya, dan bagaimana pedagang lokal memerlukan periklanan. Saya melihat bagaimana koran kami memerlukan para pedagang juga dan dengan tekun membela mereka. Melalui keterlibatan kami yang gesit dalam pertemuan kota, isu-isu, dan politik lokal, saya merasa seolah-olah saya memiliki pandangan orang dalam mengenai segala hal yang terjadi dalam komunitas kami.

Benih lainnya adalah perasaan yang menyelimuti kehidupan kami bahwa kami adalah warga Amerika sejati. Ayah saya adalah seorang patriotik dan suka mengutip Patrick Henry dan mengibarkan bendera. Keluarga ibu saya berdatangan sebagai Penziarah pada Mayflower tahun 1620, dan nenek moyang Tuttle kami datang dari Inggris sebagai Puritan dalam Planter tahun 1630. Setiap tanggal 19 April, saat ribuan orang berkumpul di Old North Bridge di Concord untuk merayakan dan menghidupkan kembali “tembakan terdengar di seluruh dunia,” awal dari Perang Revolusioner di Concord, ayah saya berpakaian seperti salah satu warga sukarelawan perang dan berjalan enam mil dari Acton menuju Concord, mengikuti jejak asli perjalanan dan menghidupkan kembali perang bersejarah. Tumbuh dengan sadar sebagai keturunan Penziarah dan Bapak Pendiri, saya merasa terhubung dengan Mimpi Bangsa Amerika. Saya menikmati dan menghargai ide-ide yang patut dipertahankan oleh Amerika Serikat, dan ide revolusi. Para Penziarah dan Puritan, seperti Emerson dan Thoreau, menghargai kesederhanaan, komunitas, dan memandang hidup pada dasarnya sebagai pencarian spiritual. Saat benih-benih ini mulai bertunas, mereka mengubah pandangan saya, sebab saya mulai melihat hidup lebih sebagai ziarah dan mengurangi fokus pada perolehan dan kompetisi, dan lebih pada tujuan ziarah. Saya juga mulai melihat bahwa pandangan seperti ini mungkin dipandang sebagai subversif. 

Perusahaan Susu Organik di Kemah Tantangan

Pengalaman benih lain dari masa kanak-kanak saya yang tetap hidup dalam ingatan, dan saya bersyukur telah menyadarkan hati saya, adalah menyaksikan pembunuhan sapi di perusahaan susu Vermont yang sangat indah. Saat itu saya berumur sekitar dua belas tahun, dan mengikuti kemah musim panas di Green Mountains yang disebut Kemah Penuh Tantangan. Filsafat dan praktek kemah tersebut adalah menantang anak-anak pria dalam cara yang positif, dan saya punya banyak kenangan dari tantangan ini: ekspedisi kano arung yang sulit, penggerebekan lima hari di pegunungan yang curam, tinggal di alam selama berminggu-minggu dan memasak semua makanan kami pada api kemah, mencuci dalam selokan es, dan bahkan menyendiri selama dua hari di alam liar dengan hanya dibekali tiga korek api, sebuah pisau, sebuah pengait dan pancing ikan.

Kemah tersebut dilengkapi pertanian organik di lembah yang ada di bawah kami, di mana kami kadang-kadang bekerja mengepak atau menyiangi. Suatu saat kami sebagai anak laki-laki turun ke sana dan disuruh menangkap salah satu ayam betina yang mengembara bebas. Kami diperlihatkan bagaimana menaruh kepalanya di antara dua kuku pada papan di atas tanah dan memegangnya dengan satu tangan saat kami memotong kepalanya dengan kapak yang dipegang tangan lainnya. Saya senang menjadi salah satu dari beberapa orang yang membuat potongan bersih dengan satu pukulan dan menyaksikan ayam yang tidak berkepala, seperti makhluk lainnya yang malang, berlari di sekitar pekarangan ternak sambil menyemburkan darah hingga sekarat. Kami semua belajar cara memasukkan bangkai ayam tersebut ke dalam air mendidih, mencabut bulu dan mengeluarkan isi perutnya, dan kemudian kami semua makan daging ayam selama beberapa hari. Saya sedikit tidak nyaman dengan semua hal itu, tetapi saya seorang omnivora yang terlatih dengan baik, dan menjelang umur dua belas tahun saya tahu saya terpaksa harus kuat dan bahwa hewan tertentu ada di sini untuk dimakan manusia. Kami terpaksa memakannya atau kami bisa jadi tidak sehat.

Beberapa minggu kemudian, kami semua pergi ke peternakan itu lagi. Ada kuda dan sapi dan ladang kacang-kacangan dan gandum di bawah langit biru yang indah, dan kami dibawa ke gudang tempat seekor sapi berdiri sendirian, di tengah-tengah lantai kayu. Sapi itu adalah salah satu dari sapi perah, dan Tom (direktur pemilik perkemahan dan perterankan tersebut, seorang pria tampan lulusan Dartmouth dan pencinta aktivitas alam bebas yang kami semua sangat kagumi) menginformasikan kami bahwa sapi itu tidak dapat menghasilkan cukup susu jadi akan digunakan untuk daging. Ia memegang sebuah senapan di tangannya dan menunjuk pada sebuah titik tepat di kepalanya di mana peluru akan bersarang hingga sapi betina itu jatuh. Ia bertanya apakah ada satu dari anak laki-laki yang lebih tua yang ingin mencoba menembak. Satu anak laki-laki mengangkat tangannya, mengambil senapan itu, membidik, dan menembakkan sebuah peluru ke dalam kepala pada titik sasaran sementara kami semua berdiri dan mengamati. Sapi itu terhentak jatuh tapi terus berdiri. Tom memberikan senapan tersebut kepada anak laki-laki lain yang lebih tua yang ingin mencoba, dan dia juga menembakkan peluru ke dalam kepalanya. Sapi itu terhentak lagi karena efek tersebut tapi terus berdiri di sana, berkedip.

Lalu Tom mengambil senapan itu, membidik, dan menembak. Saya tercengang sapi itu langsung ambruk ke lantai, kotoran dan air seni menyembur dari bagian belakang tubuhnya dekat dengan tempat saya berdiri. Tom segera meraih sebuah pisau panjang, melompat mengangkangi tubuhnya, dan dengan tekanan besar yang kuat, memotong kepalanya hampir putus. Saya heran melihat jauhnya darah mengalir keluar dari lehernya yang terbuka, didorong oleh jantungnya yang masih berdetak, menyemprotkan darah merah jauh terbang ke udara dan tumpah semuanya di sekitar kami saat tubuhnya kejang-kejang di lantai berlumuran darah. Kami semua menyaksikan dengan hening hingga akhirnya sapi itu berhenti bergerak dan berdarah, dan banyak dari kami menyeka cipratan noda darah di tangan dan kaki kami. Saat saya berdiri kaget dan ngeri menyaksikan apa yang baru saja saya saksikan, Tom menyeka keningnya dan dengan tenangnya menjelaskan bahwa daging tersebut akan tidak baik jika jantungnya tidak memompa darah keluar dari dagingnya; ini akan menjadi lembab dan tak berguna. Kami menghabiskan satu jam atau lebih untuk mengeluarkan jeroannya, menarik keluar semua organ yang berbeda, mengidentifikasinya dan menyimpannya. Saya memperhatikan bagaimana darah yang mengental menjadi segumpal jelly merah di lantai kayu. Tom menunjuk satu titik memanggil kami untuk menunjukkan bagian dari tubuh sapi di tangannya. Nampaknya sapi ini ada sesuatu masalah dengan ovariumnya dan ia juga menunjukkan kami kerusakannya, menceritakan itu sebabnya kenapa sapi ini harus dibunuh. Akhirnya kami berdua mendapatkan bagian besar dan menaruh ke belakang truk untuk dibawa ke penjual daging; kami akan makan dagingnya untuk cadangan bulan ini. Beberapa dari anak laki-laki mengambil suvenir: puting susu, ekor, mata, otak.

Pada musim panas berikutnya saya menghadiri lagi Kamp Tantangan, meskipun saya menikmati hiking, kano, dan aktivitas lintas alam, saya sedikit cemas ketika, beberapa minggu dalam sesi tersebut, Tom bercerita lagi ke setiap orang untuk berjalan ke peternakan susu organik. Lagi, ada seekor sapi terpilih, berdiri di depan gudang pada musim panas yang indah itu. Ini pastilah hari terakhirnya, dan sapi itu terlihat sangat tidak nyaman. Tom berkata tahun ini ia tidak ingin melakukannya di dalam gudang; kita akan membawanya ke daerah berumput datar beberapa ratus meter jauhnya. Kami menaruh tali di sekitar lehernya dan mencoba menariknya bersama kami seiring kami berjalan ke atas bukit kecil. Sapi itu tidak mau pergi, dan bertahan dengan kuatnya. Semakin kuat kami menariknya, semakin kuatnya ia bertahan. Saya terkejut pada kekuatannya. Mungkin ada tiga puluh anak kecil atau lebih menarik tali itu dan kami tidak bisa membuatnya bergerak. Melihat kami tidak akan berhasil dengan cara itu, Tom mengambil sebuah rantai berat, mengikatnya di sekeliling lehernya, dan mengikatnya ke belakang truk beroda empat. Kami semua naik di belakang atau berjalan seiring dengan truk yang menariknya, tetap bertahan dengan kuatnya, naik ke bukit. Lalu sebuah kejadian menakjubkan terjadi. Kami semakin dekat dengan dataran, sapi itu tetap bertahan dengan seluruh kekuatannya, roda terus berputar, tiba-tiba rantai itu terhentak, truk itu meluncur ke depan, dan kami semua yang ada di dalam truk jatuh! Sapi itu berdiri di sana di jalan, kepalanya pada sudut miring, melihat pada kami. Saya melihatnya berdiri di sana, membisu, dan mengekspresikan dirinya begitu mendalam. Saya berharap kami dapat membiarkannya sendiri dan membiarkannya hidup. Masih, saya percaya dia adalah makanan kami—ini adalah satu-satunya tujuannya. Tekanan di antara melihatnya sebagai makhluk dan melihatnya sebagai daging begitu hebat. Saya tidak ingat banyak apa yang terjadi setelah itu, kecuali yang kami lakukan entah bagaimana sampai ke tempat datar dan mulai menembaknya. Membuatnya berdarah, mengeluarkan isi perutnya, mengirimnya ke penjual daging, dan makan dagingnya selama beberapa minggu. Ketika kami melakukannya saat ini, walaupun, saya tidak terkejut, karena saya pernah melihat sebelumnya. Saya telah kehilangan perasaan saya. 

Benih Pemahaman

Selama sembilan tahun lebih, saya meneruskan, tidak takut, untuk makan daging, susu, dan telur hewan. Saya tidak tahu seseorang dapat bertahan hidup tanpa melakukan itu, dan saya tidak pernah bertemu orang yang makan dengan pola makan berbasis nabati. Saat saya kuliah di Universitas Colby di Maine dan mendengar ajaran vegetarian, sesuatu di dalam diri saya bangkit, tapi program warisan ajaran omnivora masih begitu kuatnya untuk mempertanyakan diri saya dasar dari kebiasaan pola makan saya.

Lalu, ketika di Colby tahun 1974, adik kelas saya, saya mendengar Pertanian di Tennessee, yang relatif baru terbentuk komunitas spiritual beranggotakan kira-kira delapan ratus orang, sebagian besar dari San Francisco. Semakin banyak saya membaca tentang pertanian itu, semakin tergugah saya jadinya, dan suatu hal yang menggugah diri saya kebanyakan di pertanian itu setiap orangnya adalah vegetarian. Ini adalah komunitas vegan, sebenarnya (walaupun kata itu masih belum umum penggunaannya), untuk mereka yang vegetarian tidak untuk alasan kesehatan, tapi untuk alasan moral dan spiritual, dan mereka tidak makan produk hewani apapun, bahkan tidak juga telur, produk susu, atau madu. Saya bahkan belum sadar untuk bertemu dengan vegetarian dalam hidup saya pada saat itu, tapi saya melihat dalam buku yang diterbitkan oleh Gambaran kebahagiaan Peternakan, terlihat sehat dan orang hidup dengan kreativitas tinggi dengan misi untuk menunjukkan cara hidup yang lebih berkelanjutan dan lebih harmonis. Saya membuat tesis kuliah saya mengenai Prilaku Organisasi pada Peternakan, pengujian teori dan praktek dari sebuah komunitas berdasarkan kerja sama daripada kompetisi, berbagi daripada memiliki, dan kasih daripada tekanan. Ini adalah proyek membuka mata dan hati saya untuk mempelajari cara hidup mereka. Ukuran dari kesuksesan dalam terminologi nilai spiritual daripada nilai material, menekankan kualitas hidup dan pelayanan kepada insan manusia dan kepada semua kehidupan daripada akumulasi kekayaan dan barang. Tujuan mereka dengan jelas menyatakan: “Di sini kami untuk membantu dunia!”

Pada dua tahun terakhir saya di Colby, saya merasakan perubahan besar terjadi dalam diri saya. Saya merindukan hubungan lebih dalam dengan alam dan dengan spiritualitas, dan mulai menyelidiki meditasi dan kedua tradisi spiritual Timur dan Barat. Satu buku dari akhir abad kesembilan belas menonjolkan: Cosmic Consciousness (Kesadaran Kosmis) oleh R. M. Bucke. Dalam buku ini, yang berdampak besar pada saya, penulis memperkenalkan gagasan yang sementara sebagian besar orang menjalankan apa yang ia sebut sebagai kesadaran diri—sebuah keadaan yang tidak memuaskan diri—orang-orang tertentu mencapai apa yang disebut kesadaran kosmis. Bucke menjaga agar kesadaran yang lebih tinggi ini, yang ditandai dengan peningkatan moralitas, pencerahan intelektual, kebijaksanaan spiritual, dan hilangnya rasa takut akan kematian, adalah tahap selanjutnya dari evolusi manusia. Saat saya membaca kata-kata ini, dunia karier yang menunggu setelah kelulusan terlihat suram dan tidak memuaskan dari tujuan hidup yang sesungguhnya, yang seharusnya mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada mengejar kepentingan pribadi yang sempit seperti yang saya lihat di sekitar saya. Saat saya berbicara tentang ide ini dengan saudara lelaki saya, ia merespons dengan setuju sepenuh hati. Bersama-sama kami merumuskan sebuah perencanaan tindakan. 

Meninggalkan Rumah

Pada akhir musim panas setelah lulus dari Colby tahun 1975, saudara laki-laki saya Ed dan saya, berumur dua puluh dan dua puluh dua, memutuskan untuk pergi berziarah spiritual. Dengan ransel kecil dan kerinduan yang besar, kami meninggalkan rumah orang tua kami di Massachusetts. Saya merindukan pergi lebih dalam pada spiritualitas, untuk menemukan secara langsung kebenaran di dalam diri sendiri, dan untuk memahami hidup sepenuhnya di Bumi ini dengan sadar mencari jalan keluar dari penjara ego melalui disiplin spiritual.

Kami menemukan sebuah buku tentang hidup dan ajaran Ramana Maharshi (1879–1950), seorang bijaksana dari India Selatan yang merekomendasikan meditasi secara terus-menerus dengan bertanya “Siapakah diri saya?” seiring cara mencapai pemahaman spiritual. Praktek ini didasarkan pada pemahaman bahwa kita bukanlah hanya tubuh fisik ini, atau perasaan, pikiran, atau kepercayaan, dan mungkin secara langsung mengalami kebenaran siapa diri kita, yang melebihi kondisi, khayalan, dan kematian fisik. Kita hanya perlu bertanya secara mendalam dan benar-benar mungkin bertanya ke dalam siapakah kita atau apakah kita sesungguhnya.

Ini adalah fokus saya sehubungan dengan perjalanan kami melintasi penjuru dunia, pergi ke barat—mungkin, kami berpikir, ke Kalifornia. Setelah beberapa minggu kami sampai di Buffalo, dan saya merasakan efek pengalaman baru dari meditasi dan pencarian jati diri, saya merasakan lebih dalam hubungan dengan pohon-pohon, burung, dan saya melihat orang-orang, dan saya merasa lebih terbuka untuk berbagi dalam satu keluarga.“Apakah ini adalah ‘saya’ persisnya, yang selalu ingin dilindungi dan dipenuhi?”  Saya tetap bertanya, “dan melihat diri seperti terpisah?”

Di Buffalo, kami memutuskan menuju selatan dan tidak meminta untuk tumpangan mobil, sungguh –sungguh berjalan lima belas hingga 32 kilometer per hari, dari satu kota kecil ke kota selanjutnya, menyerahkan diri kami sepenuhnya ke dalam perawatan alam semesta. Kami tidak memiliki uang dan sebagian besar tidur di lantai gereja di kota yang kami singgahi, tapi makanan entah selalu muncul dengan sendirinya kepada kami. Saya menjadi semakin yakin akan kebenaran dari ajaran untuk carilah dahulu Kerajaan Allah, dan semuanya akan ditambahkan kepadamu, sepertinya mukjizat kecil terbuka hampir setiap harinya dalam bentuk kebetulan-kebetulan dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang nampak pada kita sebagai malaikat. Ironisnya, mereka sering berpikir kami adalah malaikat. Kesejahteraan kami nampaknya menjadi rentan dan, mungkin, medan kekuatan dari penyelidikan yang kami fokuskan.

Saya mendapati hati saya terbuka untuk orang lain dan ingin membantu mereka. Kadang-kadang bantuan itu adalah belajar untuk menerima, dan di lain waktu adalah menjadi bermurah hati dengan waktu dan energi kami untuk membantu dan menasihati orang-orang yang secara alami akan percaya pada kami dan meminta nasihat kami. Kami menghabiskan beberapa jam setiap hari duduk dengan tenang, merenungkan dan menanyakan pertanyaan yang nampaknya tak terbatas dan tak mungkin ini, “Siapakah diri saya?” Pertanyaan ini masih memenuhi pikiran saya saat kami berjalan selama berjam-jam secara terus-menerus. Mengapa saya berpikir saya hanya berada di dalam tubuh ini, dan tidak berada di dalam tubuh orang atau anjing itu? Seperti saya, mereka masing-masing punya kepentingan sendiri dan berusaha mendapatkan apa yang mereka suka dan menghindari apa yang mereka tidak suka. Saya melihat diri saya mengendurkan genggaman ketat lama tentang ide bahwa saya pada dasarnya adalah terpisah, dan mulai melihat “saya” yang sama di dalam diri orang lain. Saya dapat melihat melalui mata mereka, memahami perspektif mereka, dan merasakan perasaan mereka. Ini mulai memiliki konsekuensi.

Pada suatu ketika seorang pria yang ramah menunjukkan kepada kami sebuah pondok kecil musim panas yang aneh di dekat sebuah sungai kecil dan mengatakan bahwa kami dapat menghabiskan beberapa hari yang tenang jika kami menginginkannya. Kami berjalan ke sana dan menetap, tapi di sana tidak ada makanan sehingga kami mulai mencari makanan. Kami menemukan banyak wortel liar dan sedikit akar tanaman rawa berbunga cokelat, kedua-duanya tidak merangsang selera, dan karena ada kail pemancing di sana dan saya telah belajar memancing di Kamp Tantangan , saya memutuskan untuk menangkap beberapa ekor ikan.

Saat itu hujan gerimis, dan saya menaruh ikan pertama yang saya tangkap ke dalam saku jas hujan saya, merasa yakin tidak lama lagi ikan itu akan mati. Ketika saya menangkap ikan kedua, saya menaruhnya ke dalam saku yang lain. Merasa bangga pada diri sendiri, saya kembali ke pondok untuk masak makan malam. Akar tanaman rawa berbunga cokelat dan wortel liar sedang dimasak dan saya pergi membersihkan ikan, tapi yang mengecewakan saya keduanya masih hidup dan berontak menggelepar-gelepar. Saya menyadari kalau saya sedang membunuh keduanya, tapi mereka masih belum mati, sehingga pola lama merangsang masuk dan saya mengambil seekor dan membantingnya dengan keras ke lantai. Seperti terbangun dari sebuah mimpi buruk, saya tidak dapat mempercayai apa yang sedang saya lakukan. Namun, saya merasa saya tidak dapat berhenti. Ikan itu masih hidup! Dua kali lagi saya harus membantingnya ke lantai, dan lalu ikan lainnya juga, sebelum saya membersihkannya, memasaknya, dan kami dapat memakannya untuk makan malam.

Saya dapat merasakan perasaan ngeri dan kesakitan mereka, dan kekerasan yang sedang saya lakukan terhadap makhluk malang ini, dan saya berjanji tak akan memancing lagi. Proses bertanya pada diri sendiri terus bekerja tanpa rasa kasihan untuk menyingkap kelakuan dan kemunafikan saya yang sudah terkondisi. Pemrograman lama bahwa mereka “hanyalah ikan” benar-benar jatuh merosot, dan saya melihat dengan mata baru apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana saya telah memasuki dunia mereka secara bengis dan curang dengan maksud untuk menyakiti. Di tempat ini saya sedang berziarah spiritual, mencoba dengan segenap hati untuk memahami secara langsung kebenaran yang lebih dalam tentang makhluk hidup, namun saya bertindak bertentangan dengan hal ini dengan mula-mula memperdaya ikan dengan umpan yang menyembunyikan mata kail yang kejam, dan kemudian membunuhnya.

Keesokan harinya Ed dan saya meneruskan perjalanan, dan meskipun saya baru tahu sedikit mengenai vegetarian, saya mulai berpikir itu akan merupakan cara hidup yang lebih baik—bahkan suatu kebutuhan. Berjalan di jalan kecil pedesaan, kami menuju ke selatan melalui New York dan sampai ke Pennsylvania, lalu melewati Pennsylvania ke Virginia Barat. Kebanyakan setiap malam kami akan mencari seorang pendeta lokal dan tinggal di dalam gereja, dan kadang-kadang juga ditawari makanan. Kami juga tinggal di misi penyelamatan, penjara, rumah, lapangan, dan hutan. Berkat Johnny Appleseed, ransel kecil kami hampir selalu diisi dengan apel, dan kami kadang kala melihat kebun yang ditinggalkan dengan zucchini matang. Saya melihat diri saya mulai mengurangi makan daging ketika ditawarkan, walaupun saya khawatir saya mungkin tidak mendapatkan cukup protein jika saya benar-benar menolak daging.

Anjing sesekali menjadi ancaman sewaktu kami berjalan di sepanjang jalan pedalaman, saya kira karena mereka merasa kami sebagai orang asing yang menyerbu wilayah mereka. Suatu pagi ketika kami berjalan di dekat sebuah rumah di pedesaan Virginia Barat, seekor anjing herder besar muncul tanpa menggonggong dan berjalan di belakang kami. Saya gemetar ketika tiba-tiba saya merasa hidungnya menyentuh belakang kaki saya. Kami berjalan bermil-mil dan dia tetap bersama kami, seekor hewan yang indah, ramah, dan bersemangat, selalu berjalan di depan kami dan bertindak seperti pelindung kami. Kami berhenti untuk makan siang di sebuah bukit kecil di atas jalan dan makan beberapa buah apel dan kemudian bermeditasi kira-kira selama setengah jam seperti yang biasa kami lakukan. Anjing itu duduk dengan tenang bersama kami, berjaga-jaga memandang ke kejauhan dan memancarkan perasaan damai dan kuat yang dalam. Kami sangat kagum dengan anjing ini! Dia jelas adalah sesosok mediator yang ulung. Kami lanjutkan perjalanan dan, sampai di tikungan jalan, kami melihat sebuah rumah di sebuah bukit di atas kami—dan seekor anjing besar dengan seketika bergegas turun bukit tepat ke arah kami, terlihat seperti dia bersungguh-sungguh. Teman anjing herder kami saat itu berada beberapa ratus meter di belakang kami, dan yang menggetarkan hati adalah melihatnya melesat dari belakang kami menyeberangi bukit dan menjungkirbalikkan anjing lawan yang menyerang itu sebelum dia dapat menjangkau kami! Setelah menerima beberapa geraman keras, anjing lawan itu berlari kembali ke rumahnya dan kami bertiga melanjutkan perjalanan bersama-sama, sangat menikmati rasa saling menemani, sampai akhirnya anjing besar itu menatap kami, berputar, dan berlari kembali ke rumahnya. Saya heran bagaimana seseorang dapat tidak tersentuh oleh jiwa makhluk ini—namun jika hewan itu dikurung dalam sebuah kandang atau, seperti di Cina, hanya terlihat sebagai sepotong daging untuk dimakan atau, seperti seekor anjing hutan atau serigala, sebagai sesuatu yang mengganggu untuk ditembak, kehadiran dan individualitasnya akan benar-benar tak terlihat.

Perjalanan panjang kami ke selatan diteruskan melalui bukit Virginia Barat ke Kentucky timur, dan kemudian ke Tennessee. Orang-orang mengira kami sedang berpetualangan untuk melihat dunia, tapi bagi kami itu adalah suatu perjalanan batin. Meditasi dan bertanya pada diri sendiri menjadi fokus sehari-hari, selalu kembali ke saat sekarang dan berusaha mendekati kesadaran kosmis. Saya merasa yakin bahwa tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi dibanding dengan apa yang telah saya alami dan yang saya lihat dipertunjukkan di dalam diri orang-orang, harusnya kemungkinan besar ada. Para guru spiritual dan penyair tertentu berbicara dengan jelas dan bergairah tentang keberadaan tingkat-tingkat kesadaran itu.

Dengan berminggu-minggu telah berlalu, kami membuang barang satu demi satu. Sepatu ekstra dan pakaian cadangan semua disumbangkan satu persatu, yang secara berangsur-angsur meringankan beban di ransel kami. Terasa sangat bebas melepaskan barang yang secara fisik tidak besar ukurannya, seperti buku alamat kecil dengan alamat beberapa teman di seluruh negeri yang saya pikir dapat kami kunjungi dalam perjalanan kami. Pagi-pagi saya sudah membuangnya di bagian utara negara bagian New York, dan segera setelah itu kami menyerahkan $200 dana darurat yang kami miliki dalam bentuk empat uang kertas $50 yang tersembunyi di ransel kami. Saya juga melepaskan kacamata dan menyingkirkannya, yang cukup merupakan tantangan, karena resep kacamata saya dalam, dengan 20/400 penglihatan pada mata saya yang lebih baik! Dunia terlihat kabur selama beberapa minggu, tapi mulai terasa jernih secara mencolok seiring mata dan pikiran saya secara berangsur-angsur mulai memperoleh kembali kemampuan alaminya untuk melihat lagi. Saya mulai menyadari bahwa kebiasaan saya memakai kacamata dan lensa kontaklah yang menyebabkan daya penglihatan saya memburuk dan mungkin akan membuat saya menjadi pelanggan seumur hidup dari industri kacamata. Meskipun pada awalnya sedikit menakutkan untuk melepaskan rintangan buatan antara dunia dan diri saya sendiri, hal itu menjadi semakin membebaskan, dan sekarang saya sudah tidak memakai lensa korektif selama lebih dari dua puluh lima tahun.

Dengan hari-hari musim gugur emas berlalu dan kami terus berjalan ke selatan, saya mulai merasa lebih hidup daripada yang pernah saya rasakan sebelumnya. Seolah-olah berlapis-lapis baju baja terkupas. Alunan sukacita murni tiba-tiba menyapu diri saya dan saya merasa seolah-olah hati saya penuh dengan sukacita. Itu adalah sukacita yang nampaknya mempunyai sedikit hubungan dengan apa yang selalu saya pikir akan membawa kebahagiaan. Kami tidak punya uang, hampir tidak memiliki harta, dan tidak tahu dari mana datangnya makanan dan penginapan berikutnya, jadi mengapa alunan yang tak dapat dijelaskan ini meluap dari dalam begitu jelas? Satu hal yang pasti: kami sedang menjalani kehidupan kami, bukan kehidupan yang telah ditentukan oleh gambaran media atau oleh orangtua, guru, sanak famili, dan tokoh-tokoh yang berwenang. Mungkin itu adalah sukacita penting dari makhluk yang terbangun secara spontan saat batin kita benar-benar terpanggil untuk berkembang. Itu kelihatannya menciptakan medan kebebasan dan berkah di sekitar diri kita yang bersifat melindungi dan hampir kelihatan dengan jelas.

Pencarian untuk pemahaman adalah segalanya. Entah bagaimana kami tahu untuk tidak mencoba bergantung pada apa pun. Saya ingat suatu hari Minggu di sebuah kota kecil di Virginia Barat, ketika kami diminta untuk memberikan pelajaran pagi ke Sekolah Minggu anak-anak dan kami mengatakan kepada mereka bahwa kami telah menemukan kebenaran dari apa yang Yesus ajaran pada kita: Carilah dulu Kerajaan Allah dan semua yang lain akan ditambahkan kepadamu. Setelah itu, gereja itu mengadakan sebuah pungutan khusus dan memberi kami sebuah hadiah kejutan $30 saat kami berjalan ke kota kecil berikutnya. Hari berikutnya, setelah kami membeli dua makan siang $5 di sebuah restoran dengan uang rezeki nomplok $30, kami memberi sisa $20 sebagai tip kepada pelayan dan melanjutkan perjalanan lagi, kantong kosong dan hati bebas. Pernah sekali, ketika kami tidak makan dalam waktu yang cukup lama dan tidak punya apa pun dalam ransel kami, saya melihat sebuah bungkusan plastik di depan di samping jalan. Itu adalah sebuah sandwich segar! Kami makan setiap gigitan dengan perlahan-lahan dan penuh rasa syukur sebisa-bisanya. Selama perjalanan berbulan-bulan, kami tidak pernah benar-benar merasa lapar. 

Benih dari Komunitas

Akhirnya entah bagaimana kami dipandu ke sebuah komuni yang baru dibentuk yang terdiri dari belasan orang di Kentucky tengah. Mereka menyambut kami dengan hangat, dan kami mendengar mereka semua vegetarian dan bergabung dengan The Farm in Tennessee (Pertanian di Tennessee)! Kami belajar bagaimana memasak kedelai dan pertama kali mendengar sesuatu yang disebut “tahu”. Tuan rumah mengatakan kepada kami, mereka memakai sepatu vegetarian dan mencoba meminimalkan penderitaan yang mereka akibatkan kepada hewan. Samar-samar saya telah sadar akan ayam-ayam yang mematuk mata ayam yang lain di dalam kandang pabrik peternakan yang penuh sesak, anak-anak sapi yang dicap dan dikebiri, dan babi-babi yang menjerit-jerit di dalam rumah jagal, dan saya telah melihat mobil-mobil truk transportasi yang diisi dengan ternak, tapi saya mengetahui sedikit tentang rinciannya, atau bagaimana menyiapkan makanan sehat nabati. Dalam suasana keterbukaan dan kepedulian, kami membicarakan semua hal ini. Kami bekerja dan makan bersama-sama, bermain dan meditasi bersama-sama, dan mulai rasanya tidak layak dan nyaris biadab bahkan untuk mempertimbangkan memakan daging hewan saja. Saya berjanji pada diri saya untuk menjadi vegetarian.

Kami segera menuju selatan ke arah The Farm in Tennessee, melanjutkan ziarah dan latihan kami. Akhirnya kami sampai di The Farm dan tinggal beberapa minggu di sana. Pengalamannya benar-benar memperkuat vegetarisme saya dan seimbang dengan perjalanan berbulan-bulan yang dibutuhkan untuk sampai ke sana. Hampir seribu orang, sebagian besar hidup sebagai pasangan menikah dengan anak-anak di rumah-rumah yang dibangun sendiri, telah menciptakan sebuah komunitas pada sebidang besar lahan pertanian dan tanah hutan yang melandai indah. Orang-orang berambut panjang sebagai pernyataan kealamian dan berlawanan dengan pola pikir militer yang telah membinasakan Vietnam. Tempat itu didirikan secara hukum sebagai biara, dan mereka bervegan ketat untuk menghindari melukai hewan, orang, dan lingkungan. The Farm memiliki sendiri sekolah, sistem telepon, pabrik susu kedelai, perusahaan percetakan dan penerbitan, band rock, kebaktian gereja minggu pagi, dan 'Plenty', sebuah program penjangkauan yang sedang berkembang yang menyediakan makanan vegan dan pelayanan kesehatan baik di Amerika Tengah maupun di tempat tinggal minoritas di Amerika Utara. Stephen Gaskin, pemimpin spiritualnya, adalah seorang murid master Zen Suzuki Roshi, pendiri Center Zen San Francisco.

Makanannya lezat, suasananya berbeda dari yang pernah saya alami. Orang-orangnya ramah, bersemangat, cerdas, dan memiliki kesadaran yang tinggi pada tujuan: bekerja untuk menciptakan dunia yang lebih baik, saling berbagi dan menghormati sesama dan menghormati komunitas setempat. Makanannya seperti tahu yang terbuat dari susu kedelai, susu kedelai, burger kedelai, dan “Ice Bean”, es krim kedelai pertama, dan gedung sekolah untuk anak-anak menyajikan hidangan yang semuanya vegan. Anak-anak, menjadi vegan sejak lahir, tumbuh tinggi, kuat, dan sehat. Taman-taman, ladang-ladang, dan rumah-rumah kaca menyediakan makanan untuk semua orang, dan orang-orang bekerja dalam kelompok berbeda, membangun, memperbaiki, memasak, mengajar, bertani, dan bersama-sama menjadikan The Farm benar-benar mandiri. Saya bekerja di kantor percetakan buku, mencetak buku The Farm yang luar biasa terkenal, Panduan Kebidanan Rohaniah (Spiritual Midwifery Guide). Perempuan-perempuan dari seluruh pelosok negeri mendatangi pusat persalinan rohaniah milik The Farm untuk melahirkan bayinya dengan bantuan bidan-bidan The Farm yang berpengalaman dan penuh cinta kasih. Perempuan yang memikirkan aborsi diberitahukan bahwa jika mereka melahirkan bayinya di The Farm dan memilih untuk tidak membesarkannya, maka bayi itu akan diadopsi oleh salah satu pasangan di The Farm. Meskipun banyak perempuan yang datang dengan pilihan ini dalam pikirannya, tak ada seorang perempuan pun yang memutuskan untuk tidak membesarkan bayinya setelah mengalami proses melahirkan bersama bidan-bidan The Farm yang penuh perhatian.

Saya sangat tersentuh oleh perhatian penuh kasih yang diperlihatkan orang-orang terhadap sesama, dan keberanian yang diperlihatkan seluruh komunitas dalam menjalankan nilai-nilai yang hampir sama sekali berlawanan dari masyarakat luas. Orang-orang di sana, sama dengan diri saya, semuanya dibesarkan dalam kebudayaan dominasi yang membunuh dan memperlakukan dengan kejam hewan-hewan untuk dijadikan makanan, pakaian, hiburan, dan penelitian, dan yang menekankan persaingan, kekayaan pribadi, konsumerisme, dan perseroan terbatas bagi perusahaan-perusahaan besar. Kita dibesarkan dengan memandang bumi, hewan, dan bahkan orang sebagai komoditas yang digunakan pasar untuk keuntungan pribadi. The Farm adalah teladan hidup veganisme, menekankan kelembutan, welas asih, dan menghormati semua makhluk, kehidupan sederhana secara sukarela, dan teknologi yang sesuai, saling berbagi sumber daya, dan mencari kebahagiaan melalui hubungan sosial dan kekeluargaan yang kuat dan sehat, membantu orang lain, pertumbuhan rohani, dan mengungkapkan perasaan secara kreatif, bukannya melalui penimbunan kekayaan pribadi. Menurut saya, nampaknya orang-orang ini berjalan jauh lebih jauh menuju penerapan ajaran Yesus daripada aliran-aliran agama utama. Cita-cita untuk dicapai dalam hidup adalah bahwa semua kehidupan adalah kudus, dan usahanya adalah secara sadar menciptakan suatu komunitas dan gaya hidup yang mencerminkan cita-cita ini dan menginspirasi orang lain dan menjadi teladan kehidupan berkelanjutan. Tanpa perlu disebut, institusi perbankan, perusahaan, dan badan pemerintahan semuanya amat bermusuhan dengan The Farm. Meskipun masih kuat, ia sekarang lebih kecil dan agak kurang radikal dibandingkan masa kejayaannya pada tahun 1970-an dan awal 1980-an.

Meskipun kami secara serius menimbang bergabung dengan The Farm, pada akhirnya kami menerima arahan intuisi untuk berjalan lebih jauh ke selatan menuju Huntsville, Alabama. Pada waktu kami tiba di sana, kami menemukan center Zen lokal, di mana kami dapat mencurahkan energi kami dalam latihan meditasi, duduk kira-kira delapan jam setiap hari dan membantu memelihara center itu. Ini adalah situasi yang sempurna bagi kami, kami dapat berfokus pada latihan meditasi dan menerima instruksi dan pengarahan yang sangat baik. Selama beberapa tahun berikutnya, saya melanjutkan tinggal di pusat meditasi Buddhis di Atlanta dan kemudian di San Francisco, tapi pola makan vegan saya melonggar sedikit, karena kebanyakan orang di center-center ini makan telur dan produk dari susu, dan pada waktu itu, saya belum menyadari besarnya kekejaman yang terlibat dalam makanan-makanan ini.

Pada tahun 1980, ketika saya tinggal di Kagyu Droden Kunchab, sebuah center meditasi Vajrayana (Penganut Buddha Tibet) di San Francisco, saya mendapat kesempatan baik untuk bertemu dengan Dalai Lama dan mempersembahkan kepadanya sebuah naskah terjemahan ajaran Tibet kuno yang telah saya kerjakan dan membantu menerbitkan untuk center kami. Pada pagi hari, Dalai Lama sudah menyelenggarakan upacara bersama kami di mana kami semua mengambil Sumpah Bodhisatva, yang dianggap sebagai fondasi latihan meditasi Vajrayana: sumpah untuk mencapai pencerahan rohani sempurna agar bermanfaat secara maksimal bagi makhluk hidup. Suatu keadaan tidak konsisten yang sukar bagi saya dan bagi banyak orang lainnya adalah sementara kami adalah vegetarian, banyak bhiksu Tibet yang kami minta ajarannya, mengonsumsi daging secara teratur. Bahkan Dalai Lama sendiri, sementara mengutuk dengan keras perburuan dan segala bentuk penyiksaan hewan, dan menganjurkan vegetarisme baik di antara orang Tibet maupun praktisi Buddhis Barat, mengonsumsi daging dua hari sekali, konon atas saran dokter. Mungkin bisa juga disebabkan alasan-alasan politis, karena sebagai pemimpin agama paling tinggi dan paling menonjol dari tradisi Tibet, diperlukan keberanian besar untuk menyimpang dari kebiasaan bhiksu Tibet umumnya dan mengikuti ajaran vegetarisme yang etis yang diperintahkan ajaran Buddha asli. Untungnya, pada April 2005, ia memperlihatkan keberanian politis yang luar biasa, dan surat kabar memberitakan, “Mengatakan bahwa ia baru-baru ini telah menjadi vegetarian, Dalai Lama menyerukan orang-orang untuk berhenti membunuh dan berhenti membinasakan hewan.”1 Karena popularitas Dalai Lama sebagai teladan perdamaian, ini adalah kabar baik bagi kita semua dan ada tanda-tanda menggembirakan bahwa kaum muda Tibet di India sedang bergerak menuju arah yang sama juga. 

Biara SonggwangSa

Pada tahun 1984 saya mendapat kesempatan kedua tinggal dalam komunitas vegan. Kali ini adalah biara Zen kuno di Korea Selatan. Saya pergi ke sana dan berpartisipasi sebagai seorang biarawan dalam retret intensif tiga bulan pada musim panas. Kami bangun pukul 2.40 dini hari untuk memulai hari itu dengan meditasi, berlatih diam dan kesederhanaan, dan memakan hidangan vegan yang terdiri dari nasi, sup, sayuran, dan kadang-kadang tahu, dan kembali istirahat setelah meditasi malam pada pukul 9.00 malam hari. Hidangan dimakan secara hening dengan masing-masing dari kami memakai satu set peralatan makan yang terdiri dari empat mangkuk: tiga untuk nasi, sup, dan sayuran, dan yang keempat untuk teh, yang kami gunakan untuk membersihkan mangkuk kami lalu minum, jadi tak ada sebutir nasi pun yang disia-siakan.

Komunitas ini terdiri dari kira-kira tujuh puluh biarawan, dengan beberapa orang awam yang membantu tugas-tugas tertentu, dan akar tradisi vegan di sana panjang dan dalam. Selama berabad-abad dalam biara itu, orang-orang telah hidup dengan cara yang sama, bermeditasi dan menjalani kehidupan tanpa kekerasan. Tak ada bahan dari sutra atau kulit dalam semua pakaian, dan meskipun saya berada di sana pada musim panas yang banyak nyamuk, sama sekali bukan merupakan pilihan untuk membunuh nyamuk atau makhluk apa pun. Kami hanya memakai kelambu di aula meditasi. Meskipun berbulan-bulan diam dan meditasi, duduk tenang dalam waktu yang seolah-olah tiada akhir, suatu perasaan penuh sukacita dan mendalam timbul dari dalam, suatu perasaan solidaritas dengan semua kehidupan dan menjadi lebih sensitif terhadap energi dari situasi-situasi.

Ketika setelah empat bulan saya kembali ke kehidupan Amerika yang sibuk, saya merasakan perubahan besar telah terjadi, dan vegetarisme yang telah saya praktekkan selama kira-kira sembilan tahun secara spontan dan alami telah berubah menjadi veganisme dengan akar yang seolah-olah membentang sampai ke pusat hati saya. Hingga waktu itu, saya telah keliru mengira bahwa pembelian sehari-hari yang terdiri dari makanan, pakaian, dan sebagainya yang vegan adalah pilihan pribadi saya, sekadar opsi saja. Sekarang saya bisa melihat secara jelas bahwa tidak memperlakukan hewan sebagai komoditas bukanlah suatu opsi atau pilihan, karena hewan bukanlah sekadar komoditas. Adalah sama mustahilnya antara memakan, mengenakan, atau membenarkan perlakuan kejam terhadap seekor hewan dan memakan atau mengenakan atau membenarkan perlakuan kejam terhadap seorang manusia. Perasaan lega dan pemberdayaan yang amat besar dari menyadari dan memahami hal ini dengan sepenuhnya di dalam hati saya telah memperkaya diri saya melampaui kata-kata.

Pada waktu saya kembali dari Korea, saya dapat mulai mengajar mata kuliah kemanusiaan dan filosofi di sebuah perguruan tinggi di Kawasan Teluk San Francisco, melalui koneksi yang saya buat ketika memperoleh gelar master di San Francisco State University sebelum berangkat ke Korea. Setelah enam bulan mengajar, saya memutuskan untuk mengambil program Ph.D. di Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan U.C. Berkeley. Untuk ini saya perlu mengikuti tes kecerdasan, Graduate Record Examination, dan yang menarik adalah ketika hasilnya keluar nilainya tinggi sekali. Mensa memberi tahu saya bahwa nilai itu setara dengan seperempat I.Q. tertinggi dari satu persen populasi. Pada masa lebih muda sebagai seorang pemakan segala dan tidak meditasi, saya tak pernah mendapat nilai tinggi dalam tes-tes seperti itu, tapi ini cukup dapat dimengerti. Pola makan vegan tidak hanya membuat sistem kita berjalan lebih bersih, tetapi lebih utama lagi, itu membebaskan kita secara mental untuk melakukan hubungan. Kemampuan ini adalah fondasi kecerdasan. Meditasi diam secara teratur memungkinkan pikiran kita beristirahat dan terhubung dengan sumber kemampuan intuisi yang nampaknya juga meningkatkan kemampuan kita untuk melakukan hubungan. Mengikuti pola makan vegan dan berlatih ketenangan batin adalah suatu kombinasi yang hebat! Saya mendapati, contohnya, bahwa saya bisa mengajar mata kuliah bermuatan penuh di perguruan tinggi dan secara bersamaan mengambil mata kuliah bermuatan penuh di Berkeley, jadi umumnya saya mengikuti delapan sampai sepuluh mata kuliah dalam waktu bersamaan. Bukan hanya proses mengajar yang berjalan dengan sangat lancar, tetapi saya mendapat nilai A dan beberapa A-plus pada lebih dari enam puluh mata kuliah tingkat doktoral, dan disertasi saya, Peranan Intuisi dalam Pendidikan (The Role of Intuition in Education), mendapat nominasi Penghargaan Disertasi Terbaik. Secara pribadi tak ada apa pun untuk dibanggakan atau dipuji dalam hal ini, karena ini hanyalah salah satu gambaran manusia yang tak terhitung banyaknya dari prinsip dasar bahwa kita semua memiliki potensi yang besar sekali, yang bisa kita realisasikan jika kita mengerti dan hidup sesuai sifat kita yang hakiki. Halangan utama terhadap ini adalah warisan mentalitas persaingan dan penyingkiran yang dikuatkan oleh makanan yang terus membuat kita teralihkan, lumpuh, dan tak mampu menjalin hubungan yang berarti.

Setelah mengajar di perguruan tinggi kira-kira enam tahun dan sangat menikmatinya, saya merasa dibimbing untuk mengambil gaya hidup berkeliling dengan mengadakan konser musik piano original dan seminar tentang pengembangan intuisi. Meskipun perguruan tinggi menawari saya kenaikan gaji untuk tetap tinggal, saya merasakan panggilan yang kuat untuk kembali ke jalan terbuka. Saya telah mendapati bahwa dalam tahun-tahun sejak berziarah dari New England, musik baru yang mengangkat dan berputar-putar mulai mengalir ke diri saya di atas piano, dan dengan saya lebih berfokus pada musik dan memainkannya di tempat umum, musik ini menjadi semakin kuat dan diterima dengan penuh antusias. Melalui musik, saya merasa hati dan visi batin saya dibuka untuk energi spiritual penuh inspirasi yang menghubungkan saya dengan bumi dan dengan keadaan buruk dari hewan maupun keluarga manusia. Musik itu, yang timbul dari ketenangan batin yang misterius, nampaknya selalu menjadi kendaraan untuk membawa energi yang mengangkat dan menyembuhkan, dan pemahaman secara intuisi.

Meskipun saya tak pernah menyadarinya pada waktu itu, ketika saya beralih ke pola makan nabati di The Farm pada tahun 1975, ribuan mil jauhnya di Swiss, seorang pelukis muda bernama Madeleine secara bersamaan membuat perubahan yang sama. Pada tahun 1990, sewaktu sedang mengadakan konser di Eropa, saya kebetulan bertemu Madeleine di sebuah desa kecil di Swiss, dan sejak itu, saya telah diberkahi oleh kehadirannya sebagai pasangan hidup saya dan pendamping yang penuh cinta kasih. 

Kekuatan Komunitas

Komunitas-komunitas tempat kita tumbuh dan dinamakan rumah sangat mempengaruhi kita semua. Memahami ini, kita bisa melihat mengapa kita memandang hewan-hewan sebagai komoditas dan sering kali merasa sulit untuk beralih menjadi berpola makan dan bergaya hidup vegan. Budaya kita sudah jenuh total dan ditentukan oleh eksploitasi hewan untuk dijadikan makanan.

Sementara budaya-budaya cenderung menggandakan dirinya secara alami, mereka bisa dan sungguh-sungguh berkembang, atau bisa dipaksa berubah oleh tekanan luar. Menyebarnya kebudayaan menggembala dari Asia tengah ke Mediterania dan Timur Tengah dan dari sana ke Eropa berlangsung beberapa milenium dan dicapai dengan tenaga fisik, dominasi atas perempuan, dan indoktrinasi anak-anak, seperti didokumentasikan oleh Eisler dalam The Chalice and the Blade. 3 Beyond Beef karya Jeremy Rifkin mendokumentasikan bagaimana kebudayaan peternakan tiba di Amerika Utara dari Eropa dan bagaimana orang Eropa (khususnya Inggris) meminta daging sapi dan bagaimana investasi keuangannya yang besar pada rumah peternakan Amerika menyediakan modal untuk mengembangkan dan mendorong ekonomi negara kita yang muda. Waste of the West karya Lynn Jacobs mendokumentasikan pemusnahan tanah penggembalaan secara hampir menyeluruh dan hampir memusnahkan suku Indian, bison, anjing, serigala, dan semua hewan bukan-ternak “yang mengganggu”. Sampai hari ini, badan-badan federal dan negara bagian seperti “Pelayanan Margasatwa” USDA masih meracuni, menembak, mengandangkan, dan menjerat jutaan hewan setiap tahun, termasuk anjing hutan, macan kecil, kuda liar, anjing prairi, bison, berang-berang, rakun, burung hitam, luak, dan beruang. Ini merupakan suatu tragedi yang melibatkan penderitaan yang tak terkatakan.

Ketika berada di Korea, saya merasa kagum dengan ladang padi bertingkat-tingkat yang indah di dasar lembah dan naik menyusuri lereng bukit, yang secara efisien menghasilkan beras yang cukup untuk memberi makan warga Korea yang, tidak seperti di AS, dapat benar-benar terlihat di sawah merawat tanaman setiap hari. Namun, dengan investasi modal AS dan Eropa, budaya Korea menjadi berubah, dan perusahaan-perusahaan makanan Amerika dan acara televisi serta iklan AS terus menyerbu, menciptakan permintaan untuk makanan mewah Barat, khususnya daging sapi. Peternak Texas pergi ke Korea, mengambil kesempatan ini untuk menunjukkan kepada investor cara mengonversi ladang padi menjadi tempat penggemukan ternak. Bukannya memberi makan banyak orang dengan beras, sebidang lahan sekarang hanya akan memberi makan sedikit orang kaya dengan daging sapi dan menaikkan harga padi di luar kemampuan orang miskin, sambil menciptakan mimpi buruk lingkungan dengan adanya limbah dan polusi yang selalu dihasilkan oleh peternakan hewan modern. Penyebaran budaya menggembala ke Korea telah mendapat dorongan kuat dari para misionaris Kristen yang telah lumayan lama menetap di sana. Ini mungkin diperlambat oleh biara Buddhis dan ajaran mereka serta teladan welas asih dan veganisme mereka, tapi hanya pada tingkat mereka tetap dihormati dan relevan dengan kehidupan penduduk yang semakin tertekan.

Penyebaran budaya menggembala telah berjalan berabad-abad lamanya dan terus berlanjut hingga kini. Kekayaan dan keinginannya untuk menggunakan baik tekanan finansial maupun kekerasan fisik membuat budaya ini sulit untuk dibendung, dan dengan menyebarnya budaya ini, penindasan, ketidaksetaraan, kekerasan, persaingan, dan perebutan juga sulit dibendung. Ini merupakan sebuah budaya eksploitasi dan pemangsaan yang memperkuat praktek inti penggembalaan dan memakan hewan komoditas di dalam diri seluruh anggotanya.

Untuk hidup dalam lingkungan budaya menggembala yang bermusuhan, komunitas vegan haruslah kuat dan berkomitmen. Kebanyakan, seperti The Farm dan Biara Zen SonggwangSa, pada dasarnya merupakan komunitas spiritual. Praktek kehidupan vegan mereka adalah bagian dari orientasi yang lebih besar dari latihan spiritual yang menekankan pada kehidupan welas asih, pengembangan kedamaian dan keselarasan batin, dan menyokong regenerasi moral kemanusiaan. Namun demikian, komunitas vegan bisa juga dirasakan di banyak tempat dewasa ini, membuat peralihan ke veganisme menjadi lebih mudah dan alami. Jumlah komunitas vegetarian dan vegan meningkat sebagai hasil dari proliferasi (perkembangbiakan) tradisi spiritual non-Barat di sini. Juga terdapat semakin banyak jumlah pusat penyembuhan dan pusat retret religius, yang menekankan vegetarisme atau veganisme demi alasan kesehatan dan pemurnian spiritual. Ada juga komunitas-komunitas sementara, seperti konferensi hak-hak hewan dan vegetarian, begitu juga masyarakat vegetarian setempat yang menyediakan pengetahuan dan inspirasi. Dukungan komunitas semacam ini adalah vital, karena menyediakan konteks, contoh, dan bimbingan praktis yang secara khusus sangat penting di tahap permulaan dari peralihan menuju pola makan dan gaya hidup yang lebih bebas-kekejaman.

Benih-benih menghasilkan buah menurut jenis mereka. The Farm dan Biara SonggwangSa adalah mekarnya benih yang ditanam oleh orang-orang bijak dan welas asih paling tidak pada 2.500 tahun yang lalu, dan terus dipelihara dan ditanam kembali oleh tak terhitung banyaknya orang yang berdedikasi selama berabad-abad, yang sering kali menghadapi kesulitan besar. Generasi masa depan manusia maupun hewan tergantung pada bagaimana kita dalam melakukan apa yang kita bisa untuk memelihara benih dari tanpa kekerasan, kecerdasan, dan welas asih di dalam kebun budaya bersama kita sehingga mereka bisa mewarisi sebuah bumi yang sehat dan cara hidup yang berlandaskan pada kebebasan dan kepedulian. Kita masing-masing bisa menjadi ladang kebebasan, dan dengan didorong oleh contoh dan keinginan kita, membuatnya menjadi lebih mudah untuk mereka yang ada di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama. Ladangnya akan berkembang, menyebar melalui budaya kita sebagai sebuah revolusi yang penuh kebaikan.

Sementara perjalanan yang sudah saya ceritakan di sini adalah benar-benar unik, sebagaimana semua perjalanan individu kita, saya percaya pola yang mendasarinya adalah universal. Kita semua telah terlahir ke dalam sebuah budaya menggembala yang mengomoditaskan hewan, dan kita semua telah terpengaruhi oleh kekerasan, kekejaman, dan persaingan yang ganas yang dibutuhkan oleh hidangan kita dan diterapkan oleh budaya kita. Kita juga sudah diajarkan untuk setia pada budaya kita dan secara relatif tidak kritis tentang itu, untuk memutuskan hubungan dari horor monumental yang kita seharusnya tidak perlu alami secara terus-menerus, dan menjadi lupa akan dampak berbahaya masalah ini pada seluruh aspek kehidupan kita baik umum maupun pribadi. Kita semua dihadapkan dengan bukti-bukti yang sama dan mendengarkan panggilan yang sama untuk kemurahan hati dan keadilan.

Di dalam diri kita tersimpan benih kesadaran dan welas asih yang mungkin sudah bertunas. Perjalanan transformasi dan evolusi spiritual individu kita mengarahkan kita untuk menanyakan siapa dan apa yang sudah diberitahukan kepada kita tentang siapakah diri kita dan yang lainnya adanya, untuk menemukan dan mengembangkan benih-benih pemahaman dan kejelasan di dalam diri kita, dan untuk merealisir hubungan yang kita telah diajari untuk mengabaikannya. Selagi kita melakukan ini dan karena jaringan perjalanan kita yang saling menjalin dalam budaya kita, pemupukan silang dan menanam benih, kita bisa meneruskan transformasi yang sekarang sudah berlangsung dengan baik, dan melampaui paradigma lama yang usang yang menghasilkan lingkaran kekerasan. Ketika kita mencabut eksklusif dan dominasi dari piring kita, benih welas asih akhirnya dapat tumbuh subur secara bebas, dan proses ini terutama tergantung semata pada diri kita yang menyirami benih dan sepenuhnya menyokong perjalanan unik kita. Kita saling bergantung, dan dengan kita membebaskan makhluk yang kita sebut hewan itu, kita akan meraih kembali kebebasan kita. Dengan menyayangi mereka, kita akan belajar saling menyayangi dan merasa sepenuhnya dikasihi.

 

Referensi

1.     “Dalai Lama Campaigns to End Wildlife Trade,” Environmental News Service, April 8, 2005.

2.     Though most Tibetan lamas eat meat, there is also a strong tradition in Tibetan Buddhism of abstaining from meat and showing great kindness and respect to animals. Tibet’s cold, harsh climate is another factor. For more details, see Shabkar, Food of Bodhisattvas, translated by Padmakara Translation Group (Boston: Shambhala, 2004) and Norm Phelps, The Great Compassion: Buddhism and Animal Rights (New York: Lantern Books, 2004). Besides the Dalai Lama, there are other noted contemporary Buddhist spiritual leaders who have strongly taught and exemplified compassion for animals, particularly Thich Nhat Hanh, Bhiksuni Cheng Yen, S. N. Goenka, A. T. Ariyaratne, and the late Roshi Philip Kapleau and Tripitika Master Hsuan Hua.

3.     Eisler, The Chalice and the Blade: Our History, Our Future (New York: HarperCollins, 1987), pp. 42–103.

 

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia