Beranda > Berkembang atau Larut

 

Bab tiga belas 

BERKEMBANG ATAU LARUT

“Jika Anda memiliki orang yang akan mengecualikan salah satu makhluk Tuhan dari jangkauan belas kasih dan belas kasihan, maka Anda memiliki orang-orang yang akan menangani dengan cara yang sama terhadap sesamanya.”

-St. Fransiskus dari Assisi

 

“Tanpa cinta perolehan akan pengetahuan hanya meningkatkan kebingungan dan menyebabkan kehancuran diri sendiri.”

-Krishnamurti

 

“Satu-satunya hal yang benar-benar berharga adalah intuisi.”

-Albert Einstein 

Dua Perspektif yang Terbatas

Melihat dari berbagai perspektif pada pola makan hewani, kita menemukan bahwa memakan hewan memiliki konsekuensi jauh melebihi dari apa yang akan kita miliki pada prasangka pertama. Seperti anak kecil terlihat sedang menyiksa kodok, kebiasaan kita hanya berkomentar, “Ini bukan masalah besar,” dan terus berlalu. Namun akibat dari pola makan hewani merupakan masalah yang benar-benar sangat besar, tidak hanya untuk makhluk yang mengalami musibah di tangan kita, tetapi juga bagi kita. Tindakan kita mengarahkan sikap, dalam diri kita sendiri dan orang lain, yang menguatkan kekacauan 220 tindakan yang berkembang menjadi gelombang dahsyat dari ketidakpekaan, konflik, ketidakadilan, kekejaman, penyakit, dan eksploitasi yang mengguncang dunia kita sekarang.

Bahkan mereka yang mengakui bahwa perlakuan kita atas hewan merupakan kejahatan besar mungkin juga merasa, seperti kejahatan lain di dunia kita, hanya sebuah produk dari keterbatasan manusia, seperti kebodohan, kesombongan, egoisme, rasa takut, dan sebagainya. Menurut pandangan ini, ketakutan yang kita ciptakan pada hewan adalah masalahnya, tetapi bukan penyebab dasar dari pemasalahan kita - dan, karena itu merupakan masalah bagi hewan, yang kurang penting daripada kita manusia, ini adalah masalah yang lebih kurang penting.

Hanya dengan menulusuri lebih jauh dari sekedar “itu bukan masalah besar” dan “itu hanya masalah seperti masalah lain kita” kita akan mampu melangkah keluar dari pengkondisian kita dan melihat efek langsung dari pelecehan tak henti-hentinya terhadap hewan, mengakuinya sebagai penggerak amarah terselubung di balik krisis global kita.  

Siklus Kekerasan

Akhir-akhir ini banyak diskusi mengenai menghentikan siklus kekerasan, yang biasanya dipahami sebagai sindrom “orang sakit menyakiti orang”. Anak-anak yang disiksa dan dilecehkan akan, ketika mereka menjadi beranjak dewasa, cenderung menyiksa dan melecehan anak-anak mereka dalam siklus yang berputar abadi akan kekerasan yang turun antar generasi. Kita mengatasinya dengan mencoba menghentikan penyiksaan anak, dan gagal untuk melihat lebih jauh secara dinamis. Siklus kekerasan manusia tidak akan berhenti sampai kita menghentikan kekerasan yang mendasarinya, kekerasan kejam yang kita lakukan terhadap hewan untuk makanan. Kita mengajarkan perilaku dan ketidakpekaan ini kepada semua anak-anak kita secara halus, tidak sengaja, tapi kuat dalam membentuk budaya yang yang memperbolehkan adanya penyiksaan anak. Tindakan kita menyebabkan kesadaran kita, sehingga memaksa anak-anak kita makan makanan hewani sangat melukai mereka. Hal ini mengharuskan mereka untuk memutuskan hubungan antara makanan di piring mereka, dari perasaan mereka, dari hewan dan alam, dan membuat kondisi wabah penyakit dan penyakit psikologis menjamur. Luka ini bertahan dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Menarik anak-anak kita untuk makan makanan hewani melahirkan sindrom “Orang sakit menyakiti orang”. Orang sakit menyakiti hewan tanpa penyesalan dalam ritual makanan sehari-hari. Kita akan selalu melakukan kekerasan yang lain terhadap sesama selama kita melakukan kekerasan terhadap hewan-bagaimana mungkin kita tidak melakukannya? Kita membawa kekerasan di dalam perut kita, dalam darah kita, dan kesadaran kita. Menutupi itu dan mengabaikannya tidak membuatnya menghilang. Semakin kita berpura-pura dan menyembunyikan, semakin, seperti halnya bayangan, akan terus bersama dan menghantui kita. Siklus kekerasan manusia merupakan proyeksi bayangan ini sedang berlangsung.  

Bayangan

Dalam istilah Jung, bayangan budaya kita yang sangat besar, keras dan utama adalah kekejaman dan kekerasan terhadap hewan itu memerlukan latihan, makan dan cermat menyembunyikan dan menyangkal. Seperti disebutkan dalam Bab 1, menurut teori Jung, pola dasar teori bayangan mewakilkan aspek-aspek diri sendiri bahwa kita menolak untuk mengakui, bagian dari diri kita sendiri bahwa kita sudah menyangkalnya. Sepertinya, bayangan bukanlah mencerminkan dirinya sendiri, dan dalam hal ini kita menyangkal kekejaman dan penindasan kita sendiri. Kita berkata kepada diri kita sendiri bahwa kita orang yang baik, adil, jujur, ramah. Kita hanya menikmati makan hewani, yang baik-baik saja karena mereka sudah diletakkan di sini bagi kita untuk digunakan dan kita memerlukan protein. Namun kekejaman ekstrim dan kekerasan yang terkandung dalam makanan tidak bisa kita pungkiri, dan dengan demikian kumpulan bayangan kita rangkai menjadi lebih besar dan lebih mengancam semakin kita menyangkal keberadaannya, menghalangi usaha kita untuk bertumbuh secara spiritual dan secara kolektif berevolusi menuju budaya lebih tersadarkan.

Sesuai dengan penekanan oleh psikoterapi Jung, bayangan akan didengar! Inilah sebabnya mengapa kita akhirnya melakukan untuk diri kita sendiri apa yang kita lakukan untuk hewan. Bayangan adalah kekuatan vital dan tidak bisa dipungkiri bahwa, pada akhirnya, akan menekan kembali. Kekuatan psikologis yang luar biasa diperlukan untuk membatasi, melukai, dan membunuh jutaan hewan setiap hari, dan untuk menjaga seluruh pembantaian berdarah ditekan dan tak terlihat, bekerja dalam dua cara. Salah satu caranya adalah untuk mati rasa, kurang sensitif, dan membentengi kita, dengan menurunkan kecerdasan dan kemampuan kita untuk berhubungan. Yang lain adalah untuk memaksa kita untuk bertindak keluar persis apa yang kita tindas. Hal ini dilakukan melalui proyeksi. Kita menciptakan target yang dapat diterima sebagai obyek untuk diperlakukan dengan keras, kejam, dan biadab- hal yang kita tolak untuk kita lakukan kepada diri kita sendiri -dan karena itu kita menyerangnya. Dengan ditutupinya pemahaman tentang kekerasan besar terhadap hewan dan bayangan yang meluas ini tercipta, keberadaan 50.000 senjata nuklir menjadi dipahami. Perang “tidak pernah berakhir” kita melawan terorisme menjadi tidak hanya dipahami tapi tak terelakkan, seperti halnya kehancuran ekosistem yang mengerikan, eksploitasi kemiskinan dunia yang merajalela, dan bunuh diri, kecanduan, dan penyakit yang membinasakan banyak manusia.

Bayanganan itulah yang melakukan pekerjaan kotor bagi kita sehingga kita dapat tetap baik dan dapat diterima di mata kita sendiri. Semakin kita menekan dan tidak terhubung, semakin banyak gangguan batin yang kita bawa dan harus diproyeksikan kekuatan luar yang jahat, musuh atau kambing hitam dari beberapa jenis, terhadap yang kita arahkan dari kekerasan yang disangkal. Kita akan melihat musuh sebagai inti dari kejahatan dan kerendahan mereka, padahal mereka merupakan aspek diri kita yang tidak dapat kita hadapi. Dalam pencarian kita untuk menghilangkan mereka, kita didorong untuk membangun senjata imajiner yang paling mengerikan, mengembangkannya sampai berabad-abad sehingga hari ini kita memiliki kapasitas untuk menghancurkan seluruh umat manusia ratusan kali. Ini bukan hanya sesuatu yang di masa lalu, seperti yang terjadi pada generasi penjajahan, perang salib, dan perang. Kita makan lebih banyak hewan, memperkirakan lebih banyak musuh, dan membuat senjata lebih banyak daripada sebelumnya. Setiap menit, rumah pemotongan hewan membunuh hewan darat 20.000 dan Pentagon menghabiskan $ 760,000.2 Pengeluaran besar dalam mempertahankan dan mengembangkan sistem untuk membahayakan dan menghancurkan orang lain merupakan wujud nyata yang sangat mengerikan dari penindasan tragis kecerdasan yang disebabkan oleh makan makanan hewani. Anggaran Militer AS tahun 2004 sebesar $ 400 milyar, digunakan oleh hanya lima persen dari populasi dunia, lebih dari empat puluh persen dari anggaran militer tahunan seluruh dunia sebesar $ 950 milyar. Benar-benar pemborosan sumber daya besar yang berujung pada kematian dan kekerasan. Diperkirakan bila pengeluaran tahunan hanya $ 237,5 milyar selama sepuluh tahun akan memungkinkan kita untuk menyediakan layanan kesehatan global; menghilangkan kelaparan dan gizi buruk; menyediakan air bersih dan tempat tinggal bagi semua orang; menghapus ranjau darat; menghapus senjata nuklir; menghentikan penebangan hutan; mencegah pemanasan global, penipisan ozon dan hujan asam; pembayaran utang yang tidak bisa dibayar oleh negara berkembang; mencegah erosi tanah; menghasilkan energi yang aman dan bersih lingkungan; menghentikan gelombang penambahan penduduk; dan menghilangkan buta huruf!3 Namun kita kekurangan akan keinginan dan pemahaman untuk menggunakan sumber daya kita secara konstruktif. Sebaliknya, kita terus-menerus memperluas pembangunan gudang senjata biologi, senjata kimia, senjata nuklir, senjata psikologis dan senjata rahasia teknologi tinggi dalam jumlah besar. Pemutusan hubungan antara mereka yang menggunakan senjata-senjata dan target korbannya juga merupakan ciri pembantaian kejam dan penyiksaan hewan.

Pilot pembawa bom, jenderal dan politisi yang membuat keputusan dan mengatur persenjataan tidak pernah benar-benar melihat ketakutan dan penderitaan akibat pemakaian senjata. Sebagai budaya yang telah kita pelajari tentang bagaimana memisahkan diri dari kekerasan yang kita bebankan kepada orang lain karena kita semua berlatih pada saat kita makan makanan hewani; di tempat lain, karena keputusan kita, mahluk yang tersiksa dan ketakutan diserang dan ditikam sampai mati. Dalam perang dan produksi pangan, kita menggunakan ungkapan serupa, seperti “panen” hewan, atau “jaminan kerusakan”, dan kita melindungi diri dari kekacauan akibat baik dari rumah pemotongan hewan atau desa dan kota yang dibom. Berpaling dari kekerasan kita terhadap hewan, kita secara alami cuci tangan dan mengabaikan kekerasan perang terhadap manusia lain. Kita diperlihatkan oleh media kompleks bahwa banyak musuh jahatlah yang mengharuskan kita untuk melakukan semua pengeboman dan pembunuhan, dan kita tidak hanya menyetujui, kita secara tidak sadar menghasut dan menuntut melalui penolakan dan proyeksi akan bayangan besar kita yang tercipta melalui kebiasaan makan kita.

Setiap hari, kita menyebabkan lebih dari tiga puluh juta burung dan mamalia dan empat puluh lima juta ikan menjadi mati terserang sehingga kita bisa memakannya, 4 dan secara mendunia dianggap sebagai makanan yang baik bagi orang-orang baik. Dengan makanan seperti ini, kita memberi makan pada bayangan kita, yang tumbuh kuat dan berani seperti jurang untuk kesedihan, rasa bersalah, dan kemunafikan. Anehnya, semakin besar dan kuat bayangan itu, semakin sulit untuk dilihat, meskipun secara harfiah bukan berada di depan hidung kita, tetapi sebenarnya di dalam hidung kita dan semua sel. Hal ini dikenal dalam psikoterapi, bahwa hal itu membebaskan tapi sulit untuk dilihat pola dasar bayangan kita sendiri dan bagaimana mereka bekerja. Kita secara naluriah menolaknya, hal inilah yang membuat video rahasia mengenai penyiksaan hewan di pabrik peternakan dan rumah pemotongan hewan ditonton oleh sebagian besar vegan yang tidak pernah makan makanan hewani. Bayangan itu secara definisi merupakan apa yang kita tekan secara aktif, sehingga tak terelakkan bahwa kita menghindari pengalaman yang mungkin memicu timbulnya kesadaran. Bahkan sarjana Jung yang menghabiskan waktu mereka menulis tentang bayangan gagal untuk melihat semua bayangan terbesar, bayangan yang muncul dari penyiksaan kita terhadap hewan, karena mereka biasanya makan dan memanfaatkan hewan seperti orang lain. Kita menjadi bebas secara spiritual dan psikologis hanya jika kita mampu melihat dan mengintegrasikan aspek bayangan diri kita sendiri, dan ini hanya akan mungkin bila kita berhenti makan makanan hewani, santai dan melepaskan kebutuhan tak tertahankan untuk menghalangi kesadaran kita. Dengan memutuskan hubungan dengan hewan, kita memutuskan hubungan dengan diri kita sendiri. 

Tujuan dan Cara Mencapainya

Semua makhluk hidup memiliki kepentingan, dan kita telah menciptakan sistem sosial dan hukum yang kompleks untuk menjamin bahwa kepentingan kita tidak dilanggar, meskipun kemampuan kita untuk memastikan hal ini sangat ditentukan oleh ras, kelas, jenis kelamin, dan faktor hak istimewa lainnya. Dikurung secara fisik, didera serangan yang menyakitkan atau melukai, dibuat kelaparan atau dirampas, atau dibunuh, atau dipaksa melakukan tindakan-tindakan merendahkan dan tidak wajar, semuanya melanggar kepentingan kita, dan siapa pun yang melakukan ini terhadap kita akan menghadapi konsekuensi hukum dan sosial. Namun kita justru memperlakukan para satwa persis seperti ini dalam skala yang luar biasa besarnya dan bebas dari hukuman. Kita ingin kepentingan kita dilindungi, tapi kita tidak peduli tentang kepentingan mereka. Ini adalah bayangan gelap kita yang tak terbantahkan dan penyebab nyata dari siklus kekerasan melampaui titik di mana kita harus berevolusi atau binasa. Kebinasaan kita, meskipun tragis, akan merupakan berkah besar untuk sebagian besar satwa di Bumi ini. Pikiran yang sangat mengganggu itu seharusnya memotivasi kita untuk memeriksa diri kita dan berubah.

Kita hanya akan bertahan dan berkembang jika kita mengenali pusat kekuatan makanan kita yang membentuk kesadaran kita. Makanan dikonsumsi dan menjadi kendaraan fisik kesadaran, dan kesadaran memilih sendiri apa yang harus dimasukkan ke dalam dirinya. Apakah kita mengolah dan mengonsumsi ketakutan atau kasih? Meneror para satwa atau memelihara tanaman? Kita tidak bisa membangun menara kasih dengan batu bata kekejaman.

Mahatma Gandhi dan orang-orang yang matang secara rohani lainnya telah menekankan bahwa cara yang kita gunakan dan hasil yang kita capai adalah satu dan sama. Hal-hal tersebut tidak pernah berbeda. Aktivis perdamaian yang penuh pengabdian A.J.Muste pernah berkata, “Tiada jalan menuju perdamaian. Perdamaian adalah jalan”. Jalan dari evolusi rohani adalah jalan yang berfokus pada saat ini, dan menjadi evolusi dan transformasi positif itulah yang kita rindukan di dunia ini. Untuk hidup dalam damai kita harus menjadi damai. Untuk mengalami rasa manis dikasihi, kita harus menjadi penuh kasih.

Kita semua dapat membuktikan ini dalam kehidupan kita sendiri. Kasih kita, untuk benar-benar menjadi kasih, harus dilaksanakan dan dijalani. Mengembangkan kemampuan kita untuk kasih tidak hanya cara berevolusi, melainkan juga adalah tujuan evolusi, dan ketika kita sepenuhnya mewujudkan kasih, kita akan mengetahui kebenaran kemanunggalan kita dengan semua kehidupan. Ini membuat kita bebas. Kasih membawa kebebasan, sukacita, kekuatan, rahmat, perdamaian, dan terpenuhinya pelayanan tanpa pamrih yang diberkati. Sifat sejati kita, diri kita di masa depan, terus memberi isyarat sebagai sebuah panggilan batin untuk membangkitkan kapasitas kasih kita, yaitu pemahaman. Dengan bangunnya kasih dan pemahaman di dalam diri kita, welas asih meluas hingga mencakup makhluk-makhluk dalam lingkaran yang lebih luas. Welas asih bisa dilihat sebagai bentuk tertinggi dari kasih, karena itu adalah kasih ilahi yang utuh kepada semua bagiannya dan tercermin dalam tindakan saling mengasihi dari masing-masing bagian itu. Hal ini termasuk dorongan untuk bertindak guna meringankan penderitaan yang dengan jelas dialami oleh orang/makhluk lain, dan dorongan ini mengharuskan kita untuk mengembangkan kebijaksanaan dan kebebasan batin yang lebih besar demi meringankan penderitaan secara lebih efektif. Welas asih, dengan demikian merupakan buah dari evolusi sekaligus daya pendorong di belakangnya. Kasih mendambakan kasih yang lebih besar.

Evolusi adalah inti dari kehidupan. Semua makhluk berevolusi, berkembang, berubah, dan juga dorongan untuk berevolusi menyebar ke seluruh keberadaan kita. Kita berkembang dengan adanya kesempatan untuk tumbuh secara emosional, artistik, intelektual, dan rohani. Hidup kita berharga karena itu adalah suatu kesempatan. Makna hidup kita setara dengan bagaimana kita menjawab panggilan universal dan tak terbantahkan untuk berevolusi, panggilan untuk mengasihi.

Evolusi bukan hanya menyiratkan perubahan tetapi juga transformasi. Di dunia mitologi, ketika para pahlawan menolak panggilan untuk meninggalkan rumah guna melakukan perjalanan evolusi, mereka menjadi sakit. Bagi kita sebagai suatu budaya itu juga sama. Kita harus mengguncang keberhentian yang telah lama dan ketidakterhubungan yang nyaman untuk keluar dari pikiran dan tubuh kita, merangkul dorongan berevolusi dalam diri kita untuk membangkitkan welas asih dan kebijaksanaan intuitif, dan menjalani hidup kita sesuai dengan kebenaran bahwa kita terhubung erat dengan semua makhluk hidup. Untuk mencapai transformasi ini berarti menjalani kebenaran kasih dan benar-benar memahami saling keterkaitan kita, dan bukan hanya membicarakannya saja. Ini berarti mengubah pikiran kita dan perilaku kita-bagaimana kita melihat satwa dan apa yang kita makan. Ketika kita mengenali bayangan gelap kita dan menjadi bebas darinya, welas asih kembali, dan secara alami kita berhenti menyuapinya dengan pola makan kita yang berisikan teror tersembunyi.

Perintah Intuitif

Pelajarannya sungguh mendasar. Jika kita tidak bisa menghentikan kekejaman mengonsumsi makanan hewani, bagaimana mungkin kita bisa mulai mengembangkan kepekaan, kesadaran rohani, sukacita, perdamaian, dan kebebasan kreatif yang merupakan potensi kita? Evolusi kita mengharuskan agar kita mengembangkan intuisi, pengetahuan yang lebih tinggi melebihi pemikiran rasional yang mengatur dan menyatukan bagian-bagian menjadi utuh, dan yang mengangkat kita keluar dari kotak penjara keterpusatan pada diri. Intuisi adalah pengetahuan secara langsung, tidak dimakelari oleh ilusi keterpisahan diri, dan itu adalah pemahaman yang membawa penyembuhan, karena ia melihat keseluruhan yang lebih besar, yang tidak akan pernah bisa dilihat melalui analisa logis saja. Analisa dan rasionalitas mengandalkan pemilahan dan perbandingan, dan menjadi alat yang sangat membantu hanya bila diletakkan di bawah kebijaksanaan dan welas asih yang melekat di dalam pengetahuan langsung intuisi. Tanpa intuisi, rasionalitas dan analisa akan menjadi sangat tidak rasional, menjadi alat eksploitasi dan konflik, agen pemusnah diri yang berada dalam kebingungan. Tidak adanya tuntunan intuisi yang penuh welas asih dan rasa saling keterkaitan akan menyebabkan ketakutan histeris, agresi, dan proyeksi pengambinghitaman yang selalu muncul ketika kita menganggap satwa sebagai komoditas dan memakannya.

Tidak mengherankan, rasionalitas dan analisa dihargai dalam lembaga akademik dan pendidikan kita sementara intuisi diabaikan dan ditekan. Intuisi membebaskan, menghubungkan, menerangi - dan mengancam budaya penggembalaan kita yang didasarkan atas paradigma kekerasan penindasan terhadap satwa dan wanita. Intuisi melihat bayangan gelap itu dengan jelas, dan melucutinya dengan merangkul dan tidak memberi makan kepadanya. Ia melihat hewan yang tersembunyi di dalam hot dog, es krim, dan telur dadar, merasakan kesengsaraan dan ketakutannya, dan merangkulnya dengan kasih. Intuisi membuka pintu untuk penyembuhan. Ia tidak pernah menganggap makhluk hidup sebagai objek untuk digunakan, tetapi melihat semua makhluk sebagai ekspresi unik dan lengkap dari keberadaan universal yang tak terbatas, untuk dihargai, dihormati, belajar darinya, dan dirayakan. Intuisi adalah Sophia, kebijaksanaan terkasih yang kita rindukan dan cari.

Perintah evolusi adalah perintah intuitif. Intuisi adalah buah kematangan spiritual, dan ini dipupuk dengan mempraktekkan welas asih, yaitu sifat maskulin yang suci. Kemampuan untuk meninggalkan perspektif keakuan dan melihat segala sesuatu dari perspektif lain akan membangkitkan welas asih. Melalui ini kita belajar untuk meninggalkan penjara ilusi menjadi obyek terpisah, dan masuk ke dalam pemahaman penuh sukacita atas keterkaitan semua kehidupan. Ini dapat menghadirkan pemahaman bahwa hidup adalah kesadaran dan kesadaran itu, pada intinya, adalah senantiasa bebas, utuh, bersinar, dan tenteram. Jadi sifat sejati kita adalah tak ternoda dan cemerlang.

Secara alami, kita bukanlah pemangsa, tetapi kita sudah diajarkan sebagai pemangsa, dengan cara yang paling kuat: kita telah dibesarkan sejak lahir untuk makan seperti pemangsa. Sehingga kita dimasukkan ke dalam budaya memangsa dan dipaksa untuk memandang diri kita pada tingkat terdalam sebagai pemangsa. Peternakan satwa adalah sekedar suatu bentuk halus dan jahat dari sifat pemangsa di mana satwa dikurung sebelum diserang dan dibunuh. Namun, ini tidak berhenti dengan satwa saja. Seperti yang kita semua tahu dalam darah daging kita, terdapat sifat pemangsa pada sistem ekonomi kita, dan persaingan yang mendasari semua lembaga kita. Kita saling memangsa. Ini mungkin tidak kentara dalam masyarakat dominan planet kita, namun budaya kita dan perusahaan-perusahaan kita dan lembaga-lembaga lainnya bertindak dengan cara yang hanya dapat digambarkan sebagai pemangsa sama persis dengan mereka yang kurang maju, kurang kaya, dan kurang mampu melindungi diri mereka sendiri. Seperti kita memangsa dan “memanen” satwa, kita menggunakan dan memangsa orang, menjadikannya lebih halus sesuai dengan situasi seperti “bantuan luar negeri”, “privatisasi”, “periklanan”, “menyebarkan Injil”, “kapitalisme”, “pendidikan”, “perdagangan bebas”, “pinjaman”, “memerangi terorisme”, “pembangunan” dan banyak ungkapan lainnya yang bisa diterima. Hati lembut penuh kasih dari sifat hakiki bukan pemangsa kita terganggu oleh semua ini, tetapi ia bersinar tanpa henti, dan meskipun ini mungkin tertutup oleh pengondisian kita, ia tetap mengilhami pemberian tanpa pamrih, welas asih, dan pencerahan yang dijelaskan oleh tradisi rohani kita.

Beberapa Tradisi Intuisi dan Kasih Sayang

Meskipun lembaga keagamaan kita pada umumnya mencerminkan dasar paradigma budaya yang melihat satwa sebagai komoditas dan dengan demikian menawarkan sedikit kelegaan nyata atas penderitaan mereka, namun ada banyak ajaran rohani dan tradisi yang ada dalam agama-agama di dunia yang menasihati supaya kita meninggalkan mentalitas pemangsa dan membina welas asih terhadap para satwa. Tradisi-tradisi keagamaan, juga pada dasarnya setuju pada penekanan mereka atas intuisi, atau pemahaman batin langsung, sebagai elemen penting disiplin dan praktek rohani. Hal ini benar tidak hanya berkaitan dengan tradisi Timur seperti berbagai bentuk dari agama Buddha, Hindu, Jain, dan praktek Tao, tetapi juga dalam tradisi Barat yang lebih esoteris, seperti para Sufi, kelompok rahasia, mistikus Kristen, dan lain-lain. Tradisi ini biasanya mendorong pengikut mereka untuk memupuk intuisi, mengakui bahwa melalui welas asih yang diilhami oleh wahyu intuitif maka kita berkembang secara rohani dan mendapatkan kebijaksanaan, kedamaian batin, dan kebebasan.

Tradisi-tradisi spiritual, pada dasarnya juga setuju bahwa intuisi dipupuk oleh dua bentuk disiplin. Salah satu aspeknya adalah secara sadar mengolah sifat welas asih sebagai motivasi utama dalam kehidupan jasmaniah kita dan menjalani ini sebagai perilaku etika. Yang lainnya adalah mempraktekkan perhatian penuh, kesadaran, dan keheningan dalam kehidupan batiniah kita. Keduanya terlihat saling memperkuat satu sama lain dan menghasilkan kebijaksanaan rohani.

Aspek universal pertama pengolahan rohani adalah welas asih dan cerminannya yaitu tingkah laku beretika. Agama pada dasarnya berkaitan dengan penerapan etika manusia. Ini karena hal itu adalah gudang gerakan hati rohani, yang pada intinya bukan hanya menghubungkan kita dengan misteri nirbatas yang merupakan asal kita, tetapi rupanya juga dengan semua perwujudan lain dari sumber ini, “para tetangga kita” - keluarga manusia dan semua makhluk hidup. Ajaran rohani yang sejati wajib mengajarkan etika kebaikan penuh kasih, karena ini mencerminkan saling keterkaitan kita dan kebenaran bahwa apa yang kita berikan akan kembali kepada kita. Ia mengarahkan pada keserasian hubungan yang diperlukan bukan hanya untuk kemajuan sosial, tetapi juga untuk kedamaian batin dan kemajuan rohani kita secara individu.

Welas asih dan perilaku etika sangat penting bagi aspek universal kedua dari pengolahan rohani, keheningan batin dan perhatian penuh. Kita tidak akan dapat mencapai keadaan santai, sadar, dan bisa menerima dengan kesadaran penuh tempat kehidupan sejati bergantung, kalau kita membentengi diri kita sendiri karena bertindak dengan cara yang membahayakan makhluk lain. Jika kita memperlakukan makhluk lain dengan keji, dan kemudian duduk diam untuk merenung, bermeditasi, berdoa, menjadi terbuka, atau memperdalam pengalaman kedamaian batin kita, kita akan menemukan pikiran kita selalu terganggu dan digoda dengan pikiran keakuan tanpa henti. Pergolakan batin ini, masalah yang kita tanggung karena melukai makhluk lain, menghalangi terbukanya intuisi kita, yang lahir dari ketenangan batin dan welas asih.

Kita bisa melihat bahwa secara umum, semakin suatu budaya menindas para satwa, akan semakin besar pergolakan dan mati rasa batinnya, dan cenderung semakin mementingkan keduniawian dan menguasai. Hal ini berkaitan dengan jarangnya meditasi dalam budaya Barat, karena orang merasa tidak nyaman dengan duduk diam. Kontemplasi yang hening dan terbuka akan memungkinkan munculnya rasa bersalah dan kekerasan terpendam dari kekejaman terhadap satwa yang terdapat dalam makanan, agar disembuhkan dan dibebaskan. Alih-alih, kegiatan yang seharusnya paling bermanfaat bagi masyarakat dalam budaya penggembalaan kita malah menjadi kegiatan yang paling banyak dihindari. Kita sudah membudaya dalam hal mencari kebisingan, gangguan, kesibukan, dan hiburan dengan segala biaya. Ini menjadikan kekejaman memakan kita tetap terkubur, terhalangi, diingkari, dan dianggap patut.

Tradisi rohani secara universal mengakui bahwa kita sebagai manusia merindukan untuk berada pada tingkat kesadaran yang lebih bercahaya dan tenteram, suatu keadaan yang memungkinkan kekhawatiran kita pada umumnya dan keinginan pikiran kita berkurang dan menyusut ke latar belakang. Kerinduan ini telah menciptakan bangkitnya praktek meditasi dalam berbagai cakupan yang membantu orang memasuki saat ini secara lebih dalam dan mungkin mengalami kenyataan di luar pengertian manusia biasa yang bisa kita sebut Tuhan atau Yang Mutlak. Dalam pengalaman demikian, penghalang yang biasanya memisahkan kita dari yang lainnya dan dunia mulai runtuh dan kita dapat melihat secara langsung bahwa kita pada intinya tidak terpisahkan dari yang lainnya, dan cahaya yang menyinari kita juga menyinari setiap orang. Pengetahuan intuitif tanpa perantara ini menguatkan dan memperdalam perasaan welas asih kita.

Hubungan antara intuisi dan welas asih telah diketahui secara universal baik dalam tradisi rohani Timur dan Barat, dan meluas bukan hanya pada manusia lainnya tetapi juga pada satwa. Dalam tradisi Budhis, sebagai contoh, kebijaksanaan intuitif adalah feminin yang suci dan welas asih adalah maskulin yang suci, dan sifat-sifat itu saling menopang dan saling menyuburkan satu sama lain di antara kita semua sebagai potensi dan sifat sejati kita. Oleh karenanya telah terkenal bahwa para biarawan dan biarawati harus menghindari makan daging, terutama selama retret meditasi. Ini pada dasarnya benar dalam tradisi Hindu, Jain, Sikh, Baha’i, dan Tao juga. Tradisi kebiaraan Katolik yang paling kontemplatif, seperti Cistercians dan Trappists, cenderung mengharuskan para biarawan untuk berpantang daging, terutama selama periode perenungan doa dan penyucian jangka panjang. 

Sebuah Contoh: Samadhi dan Shojin

Meditasi bukan suatu kegiatan yang eksotik atau spesifik. Meditasi adalah potensi manusia yang mendasar dan hanya merujuk pada pikiran di saat ini, terbuka, santai, dan sadar. Meditasi dapat diterapkan dan dikembangkan dengan berbagai jenis kegiatan, seperti pelafalan, bernyanyi, duduk dengan tenang dan menghitung nafas kita, berjalan di alam dengan perhatian penuh, menari, berputar, bermain musik, berlari, mengulang-ulang doa, berkebun, dan seterusnya. Kegiatan-kegiatan yang kita sukai secara alami cenderung membawa pikiran kita secara lebih penuh menuju saat ini dan dengan demikian bisa menjadi latihan meditasi.

Sebuah contoh hubungan antara latihan meditasi dan welas asih terhadap satwa dapat dilihat dalam konsep samadhi dan shojin dalam tradisi Zen. Meskipun ini adalah sebuah contoh dari tradisi yang spesifik, prinsip-prinsip berikut bersifat universal dan dapat diterapkan bagi kita semua, terlepas dari apapun kecenderungan agama kita. Samadhi merujuk pada keheningan meditasi yang mendalam, suatu keadaan pikiran yang beralih dari sifat yang biasanya bertentangan, gelisah, sibuk dan ribut, menjadi tenang dan jernih, terang, bebas, santai, dan dalam keadaan tenteram pada saat ini. Shojin adalah “pantangan keagamaan dari makanan hewani” dan berdasarkan inti ajaran agama tentang ahimsa, atau tanpa kekejaman, praktek menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berakibat pada penyiksaan terhadap makhluk hidup lainnya. Shojin dan samadhi terlihat saling bekerja sama, dengan shojin memurnikan tubuh-pikiran dan memungkinkan, meskipun tentunya tidak menjamin, akses menuju pengalaman samadhi yang memperkaya kerohanian.

Dalam sebagian tradisi Buddhis Zen diajarkan bahwa ada dua jenis samadhi. ”Samadhi mutlak” yang merujuk pada keadaan batin yang kesadarannya terpusat, santai dan terang yang mana tubuh dalam keadaan diam, biasanya duduk. Pikiran sepenuhnya terpikat pada saat ini, dan percakapan batin biasanya telah berhenti. Dalam “samadhi positif,” yang berdasarkan pengalaman samadhi mutlak, kita berfungsi di dunia, berjalan, berkebun, memasak, membersihkan, dan seterusnya, dengan pikiran yang hadir sepenuhnya pada pengalaman-pengalaman yang muncul setiap saat. Ini serupa dengan latihan kesadaran, dan bagi para Taois latihan wu wei, atau “tanpa tindakan”, yaitu ilusi keterpisahan pelaku dengan seketika lenyap demi memenuhi potensi saat ini. Dalam istilah Kristiani, ini mungkin serupa dengan “latihan menyadari kehadiran Tuhan” dan untuk latihan yang dianjurkan dalam acara peringatan untuk “berdoa tanpa berhenti”, sedangkan samadhi mutlak mungkin sama dengan keadaan kemanunggalan dengan sang ilahi.

Samadhi mutlak dan positif keduanya merupakan potensi manusia yang bersifat universal dan melampaui kebiasaan tradisi dan penamaan. Keduanya menyembuhkan pikiran dan tubuh pada tingkat yang dalam dan menghubungkan kita kembali dengan sifat sejati kita. Karena ketakutan, rasa malu, dan luka yang telah dialami oleh kita semua, bagaimanapun juga, kondisi tersebut kelihatannya sulit untuk dicapai dan dilatih, dan membutuhkan suatu komitmen berkelanjutan yang sangat besar untuk pengolahan batin secara tekun. Memasuki keheningan batin samadhi membutuhkan kesabaran dalam mengalihkan perhatian kita kepada saat ini, dan mengalihkan perhatian kita supaya tidak terganggu oleh tindakan-tindakan luar kita. Inilah sebabnya semangat shojin yang memandang satwa sebagai subyek bukan sebagai komoditas yang dipakai atau dimakan, menjadi sangat penting dalam evolusi jalur kerohanian. Semangat shojin adalah welas asih dan menyebabkan makhluk lain menjadi bebas, dan penerapan shojin pada akhirnya membebaskan kita dari keadaan mental batin yang menyertai konsumsi makanan hewani. Keadaan mental pergolakan, kekhawatiran, ketakutan, panik, keputusasaan, kesedihan, duka cita, kegelisahan, sikap agresif, kemarahan, ketidakterhubungan, kebodohan, kekaburan, dan kehilangan kesadaran ini — tidak dapat dihindari apabila kita adalah omnivora, yang dibawa masuk ke dalam diri kita sebagai frekuensi getaran bersama makanan yang kita konsumsi, dan memunculkan sifat-sifat kejam dan halangan kejiwaan yang tak terbantahkan akibat tindakan ini karena pilihan makanan kita sendiri yang berbahaya. Keadaan mental negatif ini pada umumnya membuat meditasi menjadi pengalaman negatif dan memastikan pikiran kita tidak bisa betul-betul hening atau membantu kita mencapai tingkat penerangan rohani yang lebih tinggi. Pertama kita harus memurnikan tindakan kita dan berhenti membahayakan makhluk yang tak berdaya. Ini membutuhkan sikap penuh perhatian, semangat shojin kuno yang merupakan dasar dari veganisme.

Supaya efektif dalam menjinakkan pikiran, semangat tanpa kekejaman ini dan sifat welas asih harus benar-benar dijalani; jika tidak, pikiran kita akan sangat terganggu untuk memasuki kedamaian batin samadhi. Keheningan dan ketenangan pikiran ini merupakan jantung kehidupan rohani, terlepas dari agama atau tanpa agama apapun yang kita anut, dan ia membutuhkan kemurnian batin dari hati nurani yang jernih. Ia memungkinkan dinding batin lama, yang memisahkan “saya” di sini dari “dunia” di luar sana, untuk larut. Dengan ini, pemahaman yang lebih dalam tentang tak terbatasnya keterhubungan segala wujud kehidupan bisa mekar.

Shojin dan veganisme penting karena keduanya membina perkembangan kedamaian batin yang dibutuhkan untuk kematangan rohani. Mereka adalah bentuk latihan dan disiplin batin dan fisik yang menjadi dasar penjelajahan meditatif yang membuka kebenaran antar makhluk. Inilah sebabnya shojin sangat penting untuk samadhi, dan mengapa veganisme dan tanpa kekerasan penting untuk doa khusyuk, meditasi, dan kebangunan rohani. Welas asih di luar dan keheningan batin saling mendukung satu sama lain. Shojin dan veganisme penting bagi kesehatan rohani kita karena mereka menghilangkan halangan pada jalur kita.

Meskipun veganisme sering dicemarkan dan ditentang oleh lembaga keagamaan utama Barat kita, tetapi sebenarnya masih ada semangat veganisme yang mendasari agama-agama itu, seperti yang telah ditunjukkan oleh Steven Rosen, Norm Phelps, Keith Akers, J. R. Hyland, Andrew Linzey, Tony Campolo, Steven Webb, dan banyak orang lain. Laporan Rosen contohnya, bahwa Nabi Muhammad S.A.W. diakui telah menerapkan pola makan vegetarian yang ketat, dan ada sejumlah catatan di dalam Al Qur’an dan pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad S.A.W. yang mendorong atau mengharuskan menghindari kekejaman terhadap unta, sapi, burung, dan satwa lainnya.

Banyak penulis telah mendekati bahasan ini dari sudut pandang Yahudi-Kristiani dan menyimpulkan bahwa ada amanat yang kuat, baik dari ajaran dalam Alkitab maupun penjelasan terkait serta dari praktek dan kehidupan orang-orang Yahudi dan Kristiani yang berpengaruh, dalam memperluas jangkauan welas asih vegan kepada makhluk bukan manusia. Sebagai contoh, Norm Phelps menyampaikan dalam The Dominion of Love bahwa baik Alkitab Perjanjian Lama maupun Baru berisi apa yang ia sebut sebagai dua Perintah Utama. Dua ajaran pokok rohani ini, mengasihi Tuhan dan mengasihi tetangga kita, adalah intisari dari tradisi rohani Yahudi-Kristiani. Karena Tuhan adalah keseluruhan tanpa batas di mana kita semua memiliki keberadaan kita, dan karena tidak ada cara untuk menyampaikan kasih kita kepada Tuhan secara konkret sebab Tuhan sepenuhnya melampaui kita, oleh karenanya mengasihi Tuhan berarti mengasihi dan memelihara ciptaan Tuhan. Secara langsung ini mengarah kepada Perintah Utama kedua, mengasihi tetangga kita. Tidak ada alasan, menurut Alkitab atau bukan, untuk mengecualikan satwa dari tetangga kita, sebab mereka adalah tetangga kita di Bumi ini dan kita tahu mereka menderita dan merasakan berbagai emosi. Maka mengasihi Tuhan secara konkret berarti mengasihi dan memelihara ciptaan Tuhan dan semua tetangga kita di dunia ini, dan mengasihi Tuhan secara abstrak berarti membuka diri melalui keheningan batin reseptif (samadhi) dalam meditasi dan doa, terhadap pengalaman langsung kehadiran Tuhan sehingga kita bisa menjadi tangan dan suara kasih Tuhan di dunia. Maka inti dari ajaran Alkitab dapat dipandang menunjuk dengan teguh kepada sifat welas asih bagi semua makhluk, dan menuju tanggung jawab etika vegan dan memelihara semua ciptaan.  

Apakah Shamanisme Merupakan Jawabannya?

Kesejahteraan manusia, kesejahteraan satwa, dan kesejahteraan lingkungan sepenuhnya saling berhubungan secara tak terpisahkan. Dilema kita bisa diselesaikan hingga pada tingkat yang setara dengan evolusi kita dalam menjalani pemahaman ini, membangkitkan rasa welas asih universal sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Pythagoras, Yesus, Buddha, Plotinus, Gandhi, Schweitzer, dan lain-lain yang tak terhitung banyaknya. Tradisi shaman, meskipun mengandung banyak ajaran berharga dan dalam beberapa hal mengungkapkan pandangan yang lebih multidimensional terhadap dunia dan potensi manusia daripada agama dan ilmu pengetahuan Barat konvensional, namun tetap merupakan produk dari budaya perburuan dan penggembalaan. Meskipun tradisi ini kelihatannya cenderung memandang satwa tidak sebegitu hinanya seperti pandangan budaya kita, mereka juga tampaknya memperlakukan satwa sebagai makanan dan obyek upacara. Mereka sering bergantung pada tumbuh-tumbuhan untuk menghasilkan perubahan tingkat kesadaran yang merupakan pusat dari kemampuan para shaman untuk menjelajahi berbagai alam dunia, melakukan hal-hal yang luar biasa, dan menyembuhkan.

Tampaknya sangat ironis, namun kelihatannya budaya yang memakan satwa dan menggunakannya untuk pakaian, hiburan, dan pengorbanan ritual, adakah itu merupakan budaya penggembalaan industri atau lebih kepada budaya shaman pribumi, budaya itu menggunakan tanaman pangan sebagai obat-obatan untuk melarikan diri dari kenyataan yang biasa. Contoh yang nyata adalah penggunaan produk heroin dan opium lain, psilocybin dan jamur-jamur lain, ayahuasca, peyote, mariyuana, tembakau, kokain, dan produk-produk alkohol dari fermentasi buah-buahan dan padi-padian. Masih banyak yang lainnya juga. Pengguna dari bahan-bahan nabati ini telah lupa bahwa pikiran adalah sumber dari pengalamannya. Penglihatan dan perubahan tingkat kesadaran yang dibangkitkan oleh penggunaan tumbuhan-tumbuhan itu bisa juga diperoleh secara langsung.

Penganiayaan kita terhadap satwa adalah masalah kerohanian. Itu mencerminkan suatu kesalahpahaman yang menurunkan makhluk menjadi benda. Tradisi shaman, meskipun muncul dari budaya yang kurang bersifat memanfaatkan dibandingkan budaya kita, masih memandang satwa sebagai obyek untuk dipergunakan dan dibunuh untuk makanan, pakaian, upacara penyembuhan, dan pemakaian lainnya. Mereka mungkin bisa mengajari kita tentang menghormati satwa lebih daripada yang kita lakukan sekarang, dan tentang tidak mengambil lebih banyak dari Bumi daripada yang kita butuhkan, tetapi, dengan risiko lebih menyamaratakan subyek yang luas, tradisi shaman tampaknya cenderung mengarah ke kepicikan pandangan, karena tradisi itu terutama diabdikan untuk kesejahteraan suku atau kelompok orang tertentu, dan lebih kepada manusia daripada bukan manusia. Dimotivasi oleh klise “kekejaman yang mulia” dan kekecewaan dengan budaya modern, kita mungkin ingin kembali kepada apa yang tentunya terlihat seperti kebaikan masa lalu dari kehidupan yang lebih primitif, sebelum adanya pabrik peternakan, kebun binatang, produksi secara mekanis, senjata nuklir, dan sebagainya.

Bagaimanapun, jalan keluarnya adalah tidak dengan mundur, tetapi dengan melewatinya. Kita harus bergerak maju. Karena nomor satu, budaya primitif sering tidak seromantis seperti yang kita bayangkan, dan beberapa budaya Indian Amerika, misalnya, melakukan kanibalisme, perang pemusnahan ras suku lain, dan ritual penyiksaan mengerikan dari suku lain yang tertangkap. Yang lainnya, tradisi shaman mungkin sama-sama dipilih oleh industri penyiksa satwa, seperti kita melihat produsen daging sapi mengaitkan makan daging dengan gambar dataran Indian yang dibuat romantis, dan industri pemburu ikan paus Jepang memakai penangkapan ikan paus oleh Indian Makah dari Pasifik Barat Laut untuk merusak kesepakatan perburuan ikan paus global dan membenarkan praktek mereka. 8

Ini bukan mengatakan bahwa tradisi shaman tidak melayani rakyatnya dengan baik, atau bahwa mereka tidak memiliki kebenaran mendalam untuk mengajar kita pada masa ini. Jika perasaan peduli orang Indian Amerika kepada “semua hubungan saya” dibawa menuju batas rohani dan praktisnya, dalam beberapa hal ia mendekati ideal Bodhisatva mulia agama Buddha Mahayana, yaitu mengabdikan hidup seseorang demi keuntungan dan melayani semua makhluk hidup dengan cara mewujudkan pencerahan rohani sempurna. Keduanya membawa belas kasih universal ke dalam hati motivasi kita di atas jalan rohani.

Tetapi, menghadiri suatu pertemuan Indian Amerika sekarang ini, kita akan menemukan satwa mati dihidangkan sebagai makanan, kemungkinan besar berasal dari produsen yang sama seperti yang melayani acara-acara umat Kristiani atau Yahudi—dan kita akan menemukan para peserta dari semua acara ini bersiap membelanya habis-habisan untuk membenarkan santapan mereka.  

Perintah Vegan

Kita bisa melihat bahwa ajaran penting dari agama-agama utama dunia mendukung transformasi budaya dan kerohanian yang diserukan oleh veganisme. Semua agama utama dunia memiliki bentuk Aturan Emasnya sendiri yang mengajarkan kebaikan hati kepada orang lain sebagai inti pesan mereka. Mereka semua mengakui satwa sebagai makhluk berperasaan dan mudah kita serang, dan memasukkannya ke dalam lingkaran moral dari perilaku kita. Juga ada seruan kuat pada semua tradisi itu yang menekankan bahwa kebaikan hati kita kepada makhluk lain harus didasarkan atas belas kasih. Ini lebih dalam daripada hanya menjadi terbuka atas penderitaan makhluk lain; secara tegas ia juga memasukkan dorongan untuk bertindak meringankan penderitaan mereka. Maka kita bertanggung jawab tidak hanya untuk menghindari melukai satwa dan manusia, tetapi juga untuk melakukan apapun yang bisa guna menghentikan orang lain untuk melukai mereka, dan untuk menciptakan kondisi yang mendidik, mengilhami, dan membantu orang lain guna hidup dalam cara yang menunjukkan kebaikan hari dan menghormati semua kehidupan. Ini adalah tujuan tinggi yang merupakan inti ajaran yang diserukan kepada kita oleh tradisi-tradisi kebijaksanaan dunia. Itu adalah perintah evolusi, perintah rohani, perintah yang berbelas kasih, dan, pada kenyataannya adalah perintah vegan. Motivasi di belakang cara hidup vegan adalah prinsip belas kasih kerohanian universal ini yang telah diucapkan baik secara duniawi maupun melalui tradisi keagamaan dunia; bedanya terletak pada desakan veganisme bahwa belas kasih ini harus secara nyata dijalankan. Kata-kata Donald Watson, yang menciptakan istilah “vegan” pada tahun 1944, mengungkapkan arah praktis dan layak untuk diulangi: 

Veganisme merupakan suatu filsafat dan cara hidup yang berusaha untuk menghindari, sebisa dan sepraktis mungkin, semua bentuk eksploitasi, dan kekejaman kepada satwa untuk makanan, pakaian, dan tujuan lain; dan selanjutnya mempromosikan perkembangan dan pemakaian alternatif bebas unsur hewani demi keuntungan manusia, satwa dan lingkungan. 

Buckminster Fuller sering menekankan bahwa jalan transformasi budaya bukanlah dengan melawan perilaku dan praktek merusak, tetapi untuk mengenalinya sebagai hal yang sudah usang dan menawarkan alternatif positif, tingkat tinggi. Mentalitas budaya peternakan kuno yang penuh persaingan, kekerasan, pengomoditasan, dalam zaman senjata nuklir kita dan kesalingterkaitan global ini, sudah sangat usang, dan menyantap makanan hewani dari budaya kuno ini, sangat tidak sehat baik bagi tubuh-pikiran kita maupun ekologi planet kita. Menyantap makanan hewani adalah peninggalan dari era lain yang tidak layak dibela, yang mana kita harus berevolusi melampauinya, dan dengan semakin berlimpahnya buku masak vegan dan vegetarian dan makanan vegan seperti susu kedelai, es krim kedelai, sirup beras, tahu, burger veggie, dan lain-lain, serta sayuran, polong-polongan, buah-buahan, biji-bijian, pasta, dan sereal organik segar, kita melihat alternatif yang berkembang biak. Buku-buku, video, situs web, rumah makan dan pilihan menu vegetarian/vegan, kelompok hak-hak satwa, dan organisasi vegan juga berlipat ganda saat kita menanggapi perintah vegan itu.

Melihat peran kekerasan sistematik kita terhadap satwa dalam menciptakan masalah-masalah kita, kita bisa mulai memahami dan menyelesaikannya. Untuk betul-betul menyelesaikan masalah, kita harus bangkit ke tingkat yang lebih tinggi dan, faktanya, mengatasinya dengan pemahaman kita. Selama kita menyiksa dan memperdagangkan satwa, kita membelenggu diri kita sendiri kepada tingkat evolusi penuh tipuan sama seperti masalah-masalah kita dan dengan demikian akan terus mengalaminya sebagai kekerasan, tekanan, perbudakan dan penyakit. 

Kesalahan Didik Emosional Anak Laki-Laki

Contohnya, buku laris berjudul Membesarkan Cain: Melindungi Kehidupan Emosional Anak Laki-Laki, yang ditulis oleh dua psikolog berpengalaman, berisi sangat banyak pemahaman mengenai penderitaan sangat berat yang dialami anak laki-laki di dalam budaya kita, namun buku itu tidak dan tidak bisa mulai mengatasi penyebab mendasar penderitaan yang berakar dari perlakuan brutal kepada satwa yang dibenarkan secara sosial untuk makanan ini. Pengarangnya, Kindlon dan Thompson, membangun kasus kuat bahwa anak laki-laki di dalam budaya kita secara emosional dirusak oleh klise kekerasan hati kaum lelaki budaya kita, dan bahwa luka ini tidak hanya menyebabkan kesengsaraan mereka tetapi juga membungkus mereka seumur hidup dan menyebabkan penderitaan sangat berat kepada para wanita juga.

Kedua pengarang itu mempersalahkan gambaran sifat maskulin tenang, tanpa perasaan yang ditanamkan secara budaya sebagai penyebab mendasar dari luka dan stres anak laki-laki. Mereka mencatat dan membahas bagaimana anak laki-laki dididik untuk memisahkan diri dari perasaan mereka oleh kekuatan budaya dari segala sisi: orang tua mereka, guru mereka, lembaga budaya, media, dan satu sama lain. Mereka menyebut budaya anak laki-laki remaja sebagai “budaya kekejaman” dan menulis dengan kuat tentang kehancuran emosional yang disebabkan oleh kekejaman psikologis dan fisik dan saling mengejek yang dilakukan oleh para anak laki-laki.

Buku itu menyajikan kilasan pedih ke dalam kemarahan, sakit hati, putus asa, rasa malu, keputusasaan, rasa tertekan, mati rasa, dan perang melawan kesepian yang dialami anak laki-laki, membuat hubungan antara siksaan batin emosional ini dan masalah-masalah luar remaja yaitu bunuh diri (penyebab kematian terbesar ketiga), minuman keras, narkoba, seks terlarang, kekerasan, dan kekejaman. Sebagai sebuah solusi, buku itu menekankan bahwa kita perlu “menyediakan pahlawan laki-laki teladan yang lebih dari sekedar berotot, berpusat pada diri, dan hanya semata-mata berani saja”,9 bahwa kita perlu menjadi lebih memahami anak laki-laki, menggunakan disiplin yang tidak begitu kasar, dan mendorong mereka untuk mengungkapkan dan berhubungan dengan perasaan mereka.

Namun Raising Cain membuat sumbangan yang bisa diterima oleh budaya peternakan tempat kita hidup, karena ia tak pernah mengaitkan sumber sejati “kesalahan didik emosional” anak laki-laki, yaitu praktek budaya kita menyantap dengan kejam satwa yang dikurung dan disembelih. Ironisnya, untuk membina hubungan dengan para anak laki-laki yang mereka ajak kerja sama, kedua peneliti itu sering makan bersama mereka dan mungkin mengajak mereka keluar mencari hamburger.10 Tampaknya para omnivora atau budaya omnivora mereka ini, tidak bisa mulai membuat hubungan mendalam antara kekerasan yang kita paksakan kepada satwa dan “kesalahan didik emosional” kaum muda, terutama para anak laki-laki itu. Tidak juga mereka bisa mengenali hubungan permukaan yang lebih jelas, misalnya anak laki-laki secara umum didorong untuk memakan daging hewan—dan dengan demikian menganggap dirinya sebagai pemangsa dan mempunyai hak istimewa—lebih daripada anak wanita. Anak laki-laki juga secara lebih umum dikeraskan hatinya dengan dorongan untuk menjebak dan menyerang satwa melalui kegiatan berburu dan memancing. Meskipun bahkan jika mereka bisa melihat kaitan ini, para pengarang itu mungkin tahu lebih baik untuk tidak menuliskannya di dalam buku yang diharapkan oleh mereka dan penerbitnya bisa masuk dalam daftar buku terlaris. Tampaknya bayangan kekejaman satwa untuk dimakan terlalu besar dan berbahaya untuk dihadapi secara langsung oleh kesadaran masal budaya kita, walaupun agar bisa berevolusi sebagai suatu budaya, inilah tepatnya panggilan yang harus kita lakukan.

Seluruh kesaksian Kindlon and Thompson di buku Raising Cain mencerminkan bukti kuat dan jelas bahwa dominasi, pengucilan, dan kekejaman dari mentalitas budaya peternakan yang memaksa anak laki-laki terputus dari perasaan mereka, hidup dan berjaya pada saat ini, sehingga seperti ayah mereka dan kakek mereka, anak laki-laki bisa tumbuh untuk membunuh para penggembala saingannya, berebut kekuasaan melalui penumpukan kehidupan dari satwa-satwa miliknya yang dikurung dan dibunuh sebagai upacara perayaan. Apa yang mendorong seluruh perusahaan tanpa hati ini, generasi demi generasi, sehingga kita tak berdaya tidak hanya untuk menantangnya saja, namun bahkan untuk mengakui dan membahasnya secara masuk akal? Kekejaman yang secara rutin kita timpakan kepada satwa menghantui anak laki-laki kita dan siklusnya berlanjut, merusak Bumi, generasi, dan bentangan perasaan kita. 

Lahirnya Kesadaran Pasca-Rasional

Kita telah melihat dari banyak sudut pandang terhadap praktek menyantap satwa dan telah melihat betapa hal itu menciptakan iklim mental batin yang terganggu dan terpisah yang mengurangi kecerdasan bawaan dan kemampuan kita untuk membuat hubungan yang berarti sekaligus mematirasakan dan melumpuhkan kita secara emosional. Siklus kekerasan yang dihasilkannya membuat kita tetap terkurung di dalam pola persaingan dan akuisisi yang sama yang mendorong munculnya sistem ekonomi elit yang memperdagangkan dan merusak puluhan ribu tahun lalu bersama budaya peternakan. Meskipun banyak orang dan tradisi telah mendorong kita untuk mempraktekkan belas kasih dan mengembangkan pengetahuan intuitif langsung, kita tetap terjerumus di dalam omnivorisme, mementingkan diri sendiri, dan berpikiran analitis terputus. Ini telah memungkinkan kita berkembang secara teknologi namun telah menghalangi kemajuan emosional dan rohani dengan hasil yang menyakitkan bagi kita, bagi anak-anak kita, dan bagi cucu-cucu kita.

Proses belum rasional bisa disebut naluriah, dan banyak dari kita percaya bahwa kita telah berkembang melebihi naluri—dan dengan demikian melebihi satwa—di dalam perkembangan kita dan pemakaian bahasa simbol rumit yang memberi kita kemampuan untuk berpikir secara konseptual. Matthew Scully menjelaskan di dalam bukunya Dominion, bahwa beberapa ilmuwan dan teoretikus, seperti Stephen Budiansky, John Kennedy, dan Peter Carruthers, menyatakan bahwa bahasa manusia memberi kemampuan untuk berpikir, dan bahwa tanpa bahasa dan dengan demikian pemikiran, kita tidak akan sadar.11 Kita harus mempertanyakan bagaimana mereka bisa menerangkan pernyataan Albert Einstein ini:  

Interaksi gambar-gambar adalah sumber gagasan. Kata-kata dari bahasa seperti yang ditulis atau diucapkan tampaknya tidak berperan apapun di dalam mekanisme pemikiran saya. Wujud fisik yang kelihatannya berfungsi sebagai unsur pemikiran adalah . . . gambar-gambar jelas yang bisa dihasilkan kembali atau digabungkan sesuka hati.12 

Kita bisa berdebat bahwa satwa sebagian besar tidak sadar, memutuskan bahwa karena satwa tampaknya tidak memiliki bahasa rumit yang memungkinkan mereka merumuskan pikiran di dalam kata-kata seperti kita, oleh karenanya pengalaman penderitaan mereka pastilah kurang berarti atau hebat bagi mereka. Namun, pemikiran yang sama ini bisa dipakai untuk membenarkan melukai bayi manusia dan lansia yang uzur. Jika benar, makhluk yang tidak memiliki kemampuan menganalisa lingkungannya boleh menderita di dalam tangan kita secara lebih hebat daripada kita, karena mereka tidak mampu memisahkan dialog internal di antara mereka dan penderitaan mereka. Selama kita tetap terkurung di dalam kebingungan pemikiran egois, kita dengan mudah membenarkan kekejaman terhadap makhluk lain, memaafkan mata kita yang keras dan posisi lebih unggul, mengabaikan penderitaan yang kita timpakan kepada makhluk lain, dan selanjutnya, merasionalkan tindakan kita dan menghalangi kesadaran akan kenyataan dari perasaan kita dan kemanunggalan kita dengan makhluk lain yang mendasar.

Kesehatan spiritual membutuhklan introspeksi dan bahwa kita berlatih menenangkan gelombang pikiran kompulsif verbal kita yang mengganggu agar berhubungan secara langsung dengan realitas diri yang lebih dalam yang selalu bersinar di dalam hati. Tanpa latihan batin ini dan latihan tingkah laku yang berbelas kasih kepada yang lain, pikiran kita bekerja terus, melaksanakan pikiran yang sudah terprogram, tidak dapat menghentikan atau bahkan menyaksikan khayalan dasar yang berpusat pada diri. Kita salah mengira keadaan ini sebagai menjadi “sadar”, padahal sebenarnya sangat tidak sadar. Namun kita menyatakan dengan rendah diri bahwa karena kita dapat “berpikir” (bicara pada diri kita sendiri) bahwa kita sadar dan karena hewan-hewan tidak dapat, maka mereka pastilah tidak sadar.

Dengan berhenti makan makanan hewani dan menyebabkan kesengsaraan kepada sesama kita, dan dengan berlatih meditasi dan refleksi ketenangan, yang mana dapat segera menggali keluar kesadaran kita dari semak berduri pemikiran kompulsif kita, kita dapat mulai mengerti apa sebenarnya kesadaran itu. Kita akan melihat bahwa hingga taraf tertentu kita dapat terbuka terhadap waktu sekarang dan berdiam dalam keheningan batin yang lapang, melampaui dialog internal dari pikiran yang sibuk terus menerus, kita dapat mengalami ketentraman kesadaran murni penuh kegembiraan, berseri-seri. Tonggak rasional intuitif dapat timbul sebagai perasaan terhubungkan dengan semua makhluk. Tidak lagi hanya menjadi sebuah parade dari pikiran terkondisikan dari sebuah perasaan menjadi diri yang terpisahkan, kita dapat merasakan lebih jauh ke dalam hakikat dari makhluk dan mulai memahami di luar batasan pemikiran linear. Dengan ini datang sebuah pemahaman bahwa sifat dasar alami kita tidaklah jahat, terbatas, egois, ataupun picik; melainkan abadi, bebas, murni, dan merupakan intisari dari cinta. Ketika kita menurunkan getaran kita dari keadaan cerah ini dan mulai berpikir verbal lagi, kita melihat bahwa pikiran yang sibuk dengan pikiran terkondisikan tidak pernah dapat meraih pemahaman yang mengalir masuk saat pikiran dapat menjadi tenang.

Jadi apakah kita ini, dan apakah hewan itu? Konsep-konsep kita hanya mengungkapkan kondisi yang merintangi kita. Kita adalah tetangga-tetangga, misteri-misteri, dan kita semua perwujudan cahaya abadi dari kesadaran tanpa batas yang telah melahirkan dan memelihara apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Pengetahuan intuitif akan mengungkapkan ini pada kita, meskipun, kebanyakan tidak tersedia karena sebagai suatu budaya kita tertuju-keluar dan gagal untuk membina sumber batin dan disiplin yang akan memungkinkan kita untuk memasuki kebijaksanaan yang lebih dalam ini. Pikiran dan kesadaran kita hampir sepenuhnya menjadi wilayah yang tidak terselidiki karena kita dibesarkan dalam sebuah budaya menggembala yang pada dasarnya tidak nyaman dengan introspeksi. Ilmu pengetahuan kita secara terang-terangan mengabaikan kesadaran sebagai “kotak hitam” yang tidak dapat didekati, yang tidak dapat dihitung dan tidak dapat dibuka dan mengalihkan kita dengan terfokus semata-mata pada fenomena yang terukur. Agama kita mengecilkan meditasi dan menurunkan doa kepada sebuah karikatur dualitas dari meminta dan memohon suatu entitas pria di luar sana, yang membingungkan, dan terproyeksi.

Karena orientasi menggembala kita dan kompleks kesalahan yang tidak mereda berkaitan dengan kesengsaraan dalam makanan kita sehari-hari, kita telah menyesatkan hubungan suci kita dengan sumber cinta tanpa batas dari kehidupan kita menjadi suatu ironi; membandingkan diri kita dengan domba, kita memohon kemurahan hati penggembala kita, tetapi karena kita tidak menunjukkan kemurahan hati, kita merasa takut di dalam lubuk hati kita bahwa kita juga tidak akan ditunjukkan belas kasih dan hidup dalam rasa takut akan kematian kita yang tak terelakkan. Kita tawar menawar dan dapat menyatakan dengan terlalu percaya bahwa kita diselamatkan dan dosa-dosa kita diampuni (tidak peduli kekejaman apa yang kita sebarkan kepada hewan-hewan dan orang-orang di luar kelompok kita), atau kita dapat menolak semua dogma agama konvensional karena begitu banyak gagasan sederhana yang mustahil dan bersandar pada ilmu pengetahuan materialisme yang dangkal. Bagaimanapun itu terjadi, impuls spiritual kita tertekan tanpa bisa dielakkan dan terdistorsi oleh kesalahan, kekerasan, dan reduksinisme dari penggembalaan dan kebutuhan akan memakan hewani.

Untuk semua teori ilmiah dan teologi kita, kita mengetahui hanya sedikit tentang kesadaran manusia, karena dalam sebuah budaya omnivora kita merasa tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Kita telah kehilangan kontak dengan dorongan bawaan kita untuk belajar tetap diam dan tidak terganggu untuk waktu yang cukup panjang agar menjadi terbuka terhadap cahaya yang lebih besar dan kebijaksanaan yang lebih tinggi yang berada melampaui margin sempit dari pemikiran konseptual. Memasuki kegembiraan, kedamaian, dan ketakjuban dari saat sekarang yang mengharuskan sebuah keheningan batin yang membuat kita mengalaminya secara langsung. Ini adalah sebuah latihan yang memberi manfaat bagi orang lain dan juga bagi diri kita. Kesadaran yang cerah yang mengharuskan kita untuk berhenti dari tindakan-tindakan membahayakan yang membuat pikiran kita gelisah, dan untuk melatih ketenangan batin.

Sebagai seorang pianis improvisasi, saya dapat membuktikan dari pengalaman pribadi bahwa berpikir menghentikan aliran kreativitas musik. Bahwa ketika saya dapat lebih sadar sepenuhnya, melampaui pikiran, di saat sekarang, dan membiarkan musik mengalir melaluinya, musik paling kreatif dan menginspirasi muncul. Orang-orang sekarang menyebut ini berada dalam “zone” dan hal itu terlihat sebagai suatu syarat untuk “pertunjukan puncak”. Pikiran verbal kompulsif mematikan aliran zona tersebut dan menarik kesadaran. Mungkin hewan-hewan selalu berada dalam zona itu. Seperti yang pernah dikatakan Joseph Campbell, memandang burung-burung terbang laju melewati jaring-jaring cabang dan bahkan tidak pernah menyinggung seujung sayap pun, hewan-hewan mungkin tinggal dalam sebuah alam yang melampaui kesalahan-kesalahan, hadir sepenuhnya untuk hidup dengan cara dimana pemikiran dengan konsep ‘penuh sesak’ kita tidak dapat memahami sepenuhnya.

Dengan menjalani hidup benar dengan belas kasih dalam makanan kita dan dalam kehidupan sehari-hari kita, kita dapat menciptakan lahan kedamaian, cinta, dan kebebasan yang dapat menyebar ke dalam dunia kita dan memberkahi yang lain secara diam-diam dan memberi harapan yang sama kepada mereka. Kita mungkin menemukan bahwa kita dapat “berpikir” dengan hati kita, tanpa kata-kata, dan kita mungkin dapat belajar menghargai kesadaran dari hewan-hewan dan mulai menyelidiki misteri mereka dengan rendah hati. Mungkin banyak yang dapat kita pelajari dari hewan-hewan. Tidak hanya bahwa mereka mempunyai kekuatan-kekuatan sepenuhnya yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan kontemporer, tetapi mereka adalah sesama peziarah bersama kita di atas bumi ini yang menyumbang kehadiran mereka kepada hidup kita dan memperkaya dunia kehidupan kita dengan cara esensial yang tak terhitung jumlahnya. Faktanya, tanpa cacing tanah, lebah-lebah, dan semut-semut yang rendah hati yang kita bunuh dengan kejam dan kuasai, ekosistem kehidupan bumi kita akan hancur dan runtuh—sesuatu yang pasti tidak dapat kita katakan tentang diri kita sendiri!

Siapakah kita? Apa peran kita sebenarnya di atas bumi ini? Saya sampaikan bahwa kita hanya dapat mulai menemukan jawaban-jawaban ini jika kita pertama-tama melaksanakan perintah vegan dengan serius dan hidup dengan berbelas kasih kepada ciptaan lainnya. Maka kedamaian satu sama lain setidaknya akan mungkin, begitu juga sebuah pemahaman yang lebih dalam dari misteri penyembuhan, pembebasan, dan cinta.

 

Referensi

1.     Helen Caldicott, The New Nuclear Danger (New York: The New Press, 2002), p. 1.

2.     Based on Department of Agriculture statistics for the slaughtering of over ten billion mammals and birds in the U.S. in 2002, and the 2004 U.S. military budget of $400 billion.

3.     The World Game Institute, in “What the World Wants.” Cited in Helen Caldicott, The New Nuclear Danger. See www.worldgame.org; also www.idealog.us/2004/02/ever_hear_of_th.html.

4.     Ten billion land animals slaughtered per year works out to about three hundred animals being killed in the U.S. every second. One way to get a feel for this abstract number is to imagine a line the length of a football field, with animals standing on the line next to each other and each animal occupying an average of one foot of space. A new one-hundred-yard line filled with three hundred animals whizzes by every second around the clock.

5.     Katsuki Sekida, Zen Training (New York: Weatherhill, 1975), p. 62.

6.     Steven Rosen, Diet for Transcendence (Badger, CA: Torchlight, 1997), pp. 59–76. See also Vasu Murti, They Shall Not Hurt or Destroy: Animal Rights and Vegetarianism in the Western Religious Traditions (Cleveland: Vegetarian Advocates Press, 2003), pp. 101–106.

7.     Norm Phelps, The Dominion of Love (New York: Lantern Books, 2002), p. 33.

8.     Peter Walker, “Makah Whaling Also a Political Issue,” Whales Alive!, Cetacean Society International, October 4, 1999; see http://csiwhalesalive.org/csi99409.html.

9.     Dan Kindlon and Michael Thompson, The Emotional Life of Boys (New York: Ballantine, 1999), p. 250.

10.   Ibid., p. 87.

11.   Matthew Scully, Dominion: The Power of Man, the Suffering of Animals, and the Call to Mercy (New York: St. Martin’s Press, 2002), pp. 199–226.

12.   Cited in Beverly-Collene Galyean, MindSight: Learning Through Imagery (Long Beach: Center for Integrative Learning, 1983), p. 5.

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia