Beranda > Dilema Kerja

 

bab sepuluh 

DILEMA KERJA

“Saya semakin yakin bahwa salah satu dosa umat manusia yang paling menyedihkan adalah antroposentrisme kita. Dengan memutuskan diri kita dari ciptaan yang lainnya, kita kehilangan kekaguman dan keajaiban, dan sebagai akibatnya kita kehilangan rasa hormat dan syukur. Kita menodai diri kita, dan kita tak memiliki apa pun kecuali hal-hal sepele untuk diajarkan kepada anak-anak kita”¹

—Matthew Fox

 

“Menurut saya, orang yang bekerja untuk hidup – katakanlah, untuk uang– telah mengubah dirinya menjadi seorang budak.”

—Joseph Campbell

 

“Ketika seorang manusia membunuh hewan untuk makanan, dia mengabaikan kelaparannya sendiri akan keadilan. Manusia berdoa untuk mendapatkan kemurahan hati, tetapi tidak bersedia memberikannya kepada pihak lain.”

—Isaac Bashevis Singer

 

Melakukan Pekerjaan Kotor

Tidak hanya hewan yang menderita di pabrik ternak dan rumah jagal. Orang yang harus melakukan pekerjaan mengerikan untuk mengurung, memotong, dan membunuh hewan ternak juga menderita, sebagaimana juga keluarga mereka. Apabila kita membeli atau memesan makanan hewani, kita secara langsung mendorong kekejaman manusia, walaupun itu mungkin tertutup dari penglihatan fisik kita. Seperti yang disampaikan Emerson, “Anda baru saja makan, dan betapa pun telitinya rumah jagal itu disembunyikan di kejauhan, tetap saja ada keterlibatan.”² Dengan mendorong dan memakan kekejaman, kita menaburkan benih kekerasan yang lebih jauh, baik dalam tindakan maupun ucapan kita terhadap orang lain, juga dalam tindakan dan ucapan orang lain terhadap kita. Mungkin “hal-hal buruk akan terjadi pada orang baik” karena orang baik itu terlibat secara membuta dan telah melakukan hal-hal buruk kepada orang lain di mana mereka telah di indoktrinasi untuk tidak menyadarinya.

Sudah banyak karya yang menulis tentang dunia kehidupan rumah jagal yang tertutup dan kejam serta para pekerja pabrik ternaknya, penelitian dan tulisan yang telah dilakukan itu sangatlah menggelisahkan dan mengejutkan. Rumah Jagal: Kisah Mengejutkan tentang Keserakahan, Pengabaian, dan Perlakuan Tidak Manusiawi di Dalam Industri Daging A.S. (Slaughterhouse:The Shocking Story of Greed, Neglect, and Inhumane Treatment Inside the U.S. Meat Industry), hasil wawancara Gail Eisnitz dengan pekerja rumah jagal, adalah sumber yang bagus, demikian juga Semua Surga sedang Marah (All Heaven in a Rage), yang diedit oleh Laura Moretti.” Bangsa Makanan Cepat Saji (Fast Food Nation) oleh Eric Schlosser dan “Revolusi Makanan (The Food Revolution)” oleh John Robbins juga membicarakan subyek ini. Film dokumenter seperti Blok Pelelangan (Auction Block), Harapan bagi Yang Tak Berpengharapan (Hope for the Hopeless), Kenali Daging Anda (Meet Your Meat), Tujuh Menit Realitas (Seven Minutes of Reality), Suatu Hari dalam Kehidupan Rumah Jagal Massachusetts (A Day in the Life of a Massachusetts Slaughterhouse), Seekor Sapi di Meja Saya (A Cow at My Table), Investigasi Peternakan Babi Carolina Utara (North Carolina Pig Farm Investigation), Korban Kegemaran (Victims of Indulgence), Kerajaan Cinta Damai (Peaceable Kingdom), Koboi Gila (Mad Cowboy), dan lain-lain yang terdapat dalam daftar di bagian sumber referensi memberikan pandangan sepintas yang kuat ke dalam sejumlah mimpi terburuk yang berkelanjutan di planet ini.

Menurut Laura Moretti, tidak mungkin bagi kita untuk memahami dengan imajinasi kita tentang realitas penyembelihan besar-besaran di rumah jagal: 

      Saya sadar bahwa sungguh mudah untuk membayangkan bagian dalam rumah jagal dan menjadi tidak terlalu terpengaruh oleh hal itu–karena pemahaman manusia adalah terbatas. Ia tidak dapat mendengar suara hewan besar yang didorong melawan kehendaknya ke dalam jalan kematian, pergulatannya yang penuh ketakutan, gema letusan pistol pemingsan sapi, dentaman keras ke lantai, tendangan pada logam, erangan sekarat, bunyi ciutan kerekan dan rantai, bunyi desisan pelepasan hidraulik, percikan darah yang bagaikan air dari selang kebun membentur semen. Ia tidak dapat mencium bau amis kotoran, keringat, darah, serta daging dan organ yang membusuk. Ia tak dapat merasakan ketakutan, kepanikan, teror yang sesungguhnya. Ia tidak dapat mengetahui keinginan mutlak dari masing-masing dan setiap kehidupan yang dipertahankan secara putus asa, bingung, dan sia-sia.

Pikiran manusia tidak dapat membayangkan bagian dalam rumah jagal; itu adalah sesuatu yang hanya bisa dialami–dan itu sungguh-sungguh mengejutkan.3 

Telah didokumentasikan dengan baik bahwa pekerjaan di rumah jagal dan pabrik ternak itu buruk dan penuh tekanan, secara emosional, mental, dan fisik. Para pekerja rumah jagal, mungkin adalah kasta terendah di A.S., yang memiliki tingkat cedera terkait resiko pekerjaan yang tertinggi, dan salah satu tingkat pergantian pegawai yang tertinggi.4 Selain secara statistik, tindakan yang mempengaruhi pikiran dan mengeraskan hati yang harus dilakukan para saudara dan saudari ini agar kita dapat memuaskan keinginan kita terhadap makanan hewani, sangatlah menyiksa bila direnungkan. Dengan uang kita, kita mengomunikasikan keinginan kita pada sistem yang luas dan impersonal yang akan memenuhi keinginan itu semurah mungkin. Ini berarti produksi dengan kecepatan tinggi dan filosofi mekanisasi yang jahat terhadap hewan yang dipenjara, “dipanen”, dan diuraikan. Mereka bukan lagi makhluk berkesadaran, tetapi dikategorikan ke dalam buah-buahan, mesin, dan hal-hal tidak berkesadaran lainnya sebagai komoditas yang tidak berperasaan, sebagaimana diringkaskan oleh nasihat berikut ini dari produsen daging babi dalam jurnal peternakan babi, “Lupakan bahwa babi itu adalah hewan. Perlakukan dia seperti mesin di pabrik.”5 Berulang kali, dalam literatur “peternakan” hewan dan rumah jagal, tempat penggemukan hewan, kandang ternak, dan transportasi, kita sering mendengar para pekerja dan manajemen mengulanginya, seperti sebuah mantra: Jangan menganggapnya sebagai hewan. Lupakan saja bahwa ia berperasaan. Dan para pekerja menggunakan segala jenis bahasa penghinaan dan penggolongan yang mungkin, merujuk kepada ayam, babi, ayam kalkun, sapi, dan hewan lain yang mereka bunuh dan potong sebagai makhluk bodoh, keras kepala, bengal, atau cukup menyebutnya sebagai “bajingan”.

Apakah efek dari semua ini terhadap kesehatan dan kepekaan para pekerja itu? Dan terhadap istri, suami, dan anak-anak mereka? Kekerasan, kekejaman, dan kekurangpekaan telah menimbulkan hal-hal lain yang sama; yaitu getaran yang mempengaruhi kesadaran, dan tidak hanya kepada para pekerja, tetapi keluarga, teman-teman mereka, dan akhirnya kita semua yang terpengaruhi oleh apa yang kita paksakan untuk mereka lakukan demi pangsa permintaan pasar kita. Sebagai seorang mantan penikam babi (pekerja rumah jagal yang menikam leher babi untuk membuatnya mati kehabisan darah) berkata, “Kami menjadi sesadis perusahaan itu sendiri. Ketika saya menikam babi di sana, saya adalah seorang yang sadis.”7 Walaupun sebenarnya pekerja rumah jagal tidak dipaksa untuk melakukan pekerjaan ini, namun mereka sering kali sangat membutuhkan uang dan tidak dapat menemukan pekerjaan lain, karenanya mereka harus mengalirkan daging, darah, dan bagian tubuh hewan yang diperbudak melalui saluran uang ke dalam jutaan pusat tempat mematikan di berbagai penjuru masyarakat kita.

Kita seharusnya jangan pernah membayangkan bahwa hewan-hewan mati dengan damai. Mereka mengetahui apa yang akan terjadi, dan dapat mencium, mendengar, dan sering kali bahkan melihat hewan lainnya dibunuh di hadapan mereka. Mereka dipenuhi dengan teror, dan amat sering menghadapi penderitaan yang hebat dan berlebihan ketika mereka direbus, dikuliti, atau dipotong-potong selagi masih sadar. Sejak para pekerja di tempat penjagalan sapi Pengelolaan Daging Sapi Iowa di Pasco, Washington, pada tahun 2001 secara rahasia merekam video sapi yang masih dalam kesadaran penuh, mengedipkan mata, menendang, memandang ke sekeliling, dan merasakan kulit mereka disobek oleh para pekerja yang dipaksa untuk terus menjaga goresan kulit itu agar tetap bergerak, hal itu akhirnya meluas diketahui secara umum–selain para pekerja dan manajemen tempat ini, yang telah selalu tahu– bahwa penderitaan hewan sangat besar, hebat, dan secara sistematis diabaikan demi keuntungan dan efisiensi. Wawancara dengan pengemudi truk hewan ternak dari “Seekor Sapi di Meja Saya” berisi banyak sekali pelajaran. 

     Seperti sapi jantan ini yang saya temui tahun lalu...dia juga berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari mobil trailer. Dia telah dipecut mati oleh tiga atau empat pengemudi... Dan saya hanya berkata, “Mengapa kalian tidak menembak mati hewan itu saja? Ada apa? Bagaimana dengan Kode Etik ini?” Salah satu pria itu berkata, “Saya tidak pernah menembak. Mengapa saya harus menembak sapi yang dapat membebaskan dirinya dan masih ada daging yang baik di sana?” Ketika saya baru mulai berbicara dengan salah satu pengemudi truk tentang situasi yang membuat depresi itu, dia berkata, “Anda tidak perlu cemas. Itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun... Anda akan merasakan perasaan pahit seperti apa yang saya alami sebelumnya. Janganlah Anda berpikir tentang hewan. Anggap saja mereka tidak merasakanya atau apa saja.”8 

Sebagian besar dari kita yang mengonsumsi makanan hewani tidak pernah mengangkat tirai dan memandang secara mendalam baik pada kebrutalan mengerikan yang harus dialami hewan demi sajian di meja kita, maupun pada berkeinginan untuk melakukan hal itu. Kita sudah sepatutnya takut bahwa jika kita melakukannya, kita takkan bisa memakan makanan biasa kita dengan nurani yang jernih, dan karena mengetahui hal itu, industri tersebut menjaga agar kondisi di rumah jagal, pabrik ternak, dan operasi perikanan tersembunyi dengan baik, terus melobi agar undang-undang membuatnya menjadi suatu kesalahan bagi siapa pun yang mengambil foto atau rekaman video dari kondisi di tempat-tempat ini. Melihat kebenaran mengerikan di balik tirai ini membantu membebaskan kita dari ilusi bahwa kebudayaan kita didasarkan pada kebaikan atau kepedulian. Kita melihat dengan jelas sisi gelap yang tersembunyi dari masyarakat kita, kekejaman tanpa henti yang menembus fondasi kebudayaan kita, dan kita mulai memahaminya. Penolakan kita yang berkelanjutan untuk melihat ke balik tirai itulah yang membuat rantai budaya dan ilusi ini tertanam dengan kokoh.

Untuk memenuhi permintaan daging hewan yang tinggi, perusahaan transnasional raksasa yang sekarang mendominasi industri daging, susu, dan telur, seperti Cargill, ConAgra, Tyson, Perdue, Swift, dan Smithfield, membangun penjara hewan dan rumah jagal yang jauh lebih besar. Di rumah jagal, ada yang beroperasi selama 24 jam sehari, hewan-hewan hidup dipaksa ke dalam antrian dan dipotong-potong, dan berbagai bagian tubuh mereka keluar di ujung yang lain, semua dikapalkan demi keuntungan ke berbagai tujuan: daging dan organ untuk makanan manusia; kulit untuk pakaian, perhiasan, furnitur, dan aksesoris; darah untuk pupuk; tulang dan jaringan penghubung untuk krim kecantikan, sabun, lem, dan gelatin; beberapa organ untuk industri farmasi, sampah dan sisa-sisa bagi pengolah yang memasak dan menjadikannya pakan ternak, makanan hewan peliharaan, dan produk lainnya. Semakin cepat jalur pemotongan berjalan, semakin banyak laba yang diperoleh pada suatu kurun waktu. Para pekerja secara konstan didorong untuk bekerja jauh lebih cepat daripada yang seharusnya, dan ini menyebabkan pemingsanan hewan-hewan secara tidak benar serta kekejaman dan bahaya yang meningkat karena banyaknya hewan dikuliti, dicelup ke dalam air panas, dan dikeluarkan isi perutnya selagi masih sadar dan meronta.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa, seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, hewan-hewan tidak sepenuhnya mati sebelum tenggorokkan mereka dipotong. Jantung mereka masih memompa ketika pembuluh nadi besar di leher mereka dipotong, sehingga darah secara aktif terpompa ke luar dari tubuh mereka; jika tidak, daging itu menjadi basah karena terlalu banyak darah. Karenanya, mereka hanya dipingsankan, tidak dibunuh, sebelum dikeluarkan darahnya. Jika mereka dipingsankan dengan benar, hewan itu akan mengeluarkan darah hingga mati. Berapa lamakah waktu yang diperlukan hingga mati kehabisan darah? Dari dua puluh detik hingga beberapa menit, yang dapat terasa seperti waktu yang sangat lama, terutama jika hewan itu tidak dipingsankan dengan benar, suatu hal yang terlalu sering terjadi.

Metode pemingsanan yang dipergunakan saat ini sangat kasar dan kejam, karena sering kali tidak mempan. Sapi umumnya dipingsankan dengan pistol peluru tonjol yang menghantar sebatang besi melalui dahi mereka dan tembus ke dalam otak mereka saat mereka memasuki antrian. Hanya ada satu pekerja yang bertugas memingsankan, dan jika sapi itu tiba-tiba bergerak, karena peluru itu dapat meleset, adakalanya mengenai mata hewan itu. Sering kali tidak ada waktu untuk menembakkan peluru kedua, karena itu akan memperlambat antrian dan memerlukan biaya untuk menyewa seorang pemingsan kedua sebagai cadangan. Jadi, beberapa sapi, masih dalam keadaan sadar, bergerak ke dalam jalur dimana ada pekerja lainnya yang harus mengeluarkan darahnya, menguliti, dan memotong-motong mereka. Para pekerja ini tidak dapat mengirimkan kembali sapi itu untuk dipingsankan, sehingga pekerjaan mereka menjadi lebih mengerikan, dan juga sangat berbahaya oleh penderitaan dan ketakutan dari hewan-hewan yang masih dalam keadaan sadar itu. Banyak cedera terjadi pada para pekerja yang disebabkan oleh hewan-hewan yang putus asa dan menendang di dalam jalur itu. Namun hal itu segera dirahasiakan, ketika para pekerja di tempat penjagalan sapi di Washington mengambil rekaman video rahasia mereka sendiri, laporan investigasi dari The Washington Post

      Diperlukan waktu 25 menit untuk mengubah lembu jantan hidup menjadi bistik di rumah jagal modern tempat dimana Roman Moreno bekerja. Selama 20 tahun, posisinya adalah sebagai “legger kedua”, pekerjaan yang memotong mata kaki dari kaki belakang bangkai ketika mereka berputar pada laju 309 per jam.

“Sapi ternak itu seharusnya sudah mati sebelum sampai ke Moreno. Tetapi sering kali mereka belum mati.”

“Mereka mengedipkan mata. Mereka mengeluarkan suara-suara,” ia berkata dengan lirih. “Kepala itu bergerak, mata-mata itu terbuka lebar dan melihat ke sekeliling.”

Moreno tetap akan memotong. Pada hari-hari buruk, dia berkata, puluhan hewan tiba di tempatnya masih dalam keadaan hidup dan sadar. Beberapa akan bertahan hidup sejauh proses pemotongan ekor, penyobekan perut, penarikan kulit. Lalu “mereka mati,” kata Moreno, “sepotong demi sepotong”.9 

Babi akan dipingsankan dengan peluru ke bagian otak maupun dengan kejutan listrik pada punggung mereka. Sekali lagi, hanya ada seorang pemingsan. Jika kejutan listrik adalah metode yang dipilih, maka manajemen sering kali menurunkan tegangan hingga lebih rendah daripada yang seharusnya digunakan untuk memingsankan, karena lebih banyak daging yang mungkin rusak jika menggunakan tegangan yang lebih tinggi. Karenanya, “penikam” yang memotong tenggorokkan babi yang pingsan setiap hari atau setiap malam harus menghadapi hewan-hewan yang masih hidup dan putus asa. Cepat atau lambat banyak pekerja yang juga turut terpotong dengan parah oleh ketajaman pisau panjang yang mereka gunakan terhadap hewan yang meronta.

Pekerja rumah jagal harus membelenggu ayam, dan ayam kalkun pada mata kaki mereka kemudian menggantung mereka terbalik pada jalur yang melewati kepala mereka melalui “rendaman” air asin yang bermuatan listrik. Kejutan listrik, yang sangat menyakitkan, melumpuhkan unggas itu, tetapi tidak memingsankan mereka, jadi unggas itu sepenuhnya sadar ketika mereka sampai pada mesin stasiun berikutnya: pisau yang digunakan oleh pekerja atau mesin, yang memotong pembuluh nadi tenggorokkan mereka. Sering kali unggas-unggas itu berhasil keluar dari air lalu mungkin, dalam kepanikan mereka, luput dari pisau, sehingga mereka masih sadar ketika mencapai stasiun berikutnya lagi, pada jalur pemotongan yang bergerak dengan cepat: kuali besar berisi air kotor di mana tubuh mereka dididihkan, hidup atau mati.

Karena adanya deregulasi industri penjagalan selama 15 tahun terakhir, hampir tidak ada pengawasan pemerintah untuk melindungi hewan yang digunakan untuk makanan. Akibat dari kecepatan suasana dan perlakuan tidak manusiawi ini juga telah melukai para pekerja, membuat “pengemasan daging... pekerjaan pabrik yang paling berbahaya di Amerika”.10 Menurut Afidavit, salah seorang pekerja, misalnya, para pekerja tidak diperbolehkan untuk meninggalkan jalur itu selama berjam-jam sehingga adakalanya mereka terpaksa buang air kecil atau buang air besar di lantai rumah jagal atau dalam pakaian mereka.11 Eisnitz menulis, 

     Selama investigasi saya, saya mendengar kisah tentang pekerja yang diremukkan oleh sapi; terbakar oleh bahan kimia; tertusuk; patah tulang; dan menderita keguguran serta pingsan akibat panas, laju kerja yang cepat, dan asap.... Seiring kecepatan jalur telah berlipat tiga dalam lima belas tahun terakhir, gangguan trauma kumulatif telah meningkat hampir 1.000 persen.12 

Para pekerja ini adalah saudara dan saudari kita yang menjalankan kekejaman korporasi siang dan malam. Laba diprioritaskan dan bukannya “pembunuhan yang berperikemanusiaan”–jika hal seperti itu pernah ada. Undang-Undang Penjagalan yang Berperikemanusiaan, misalnya, yang tidak menuntut hukuman dan telah terbukti tidak cukup untuk melindungi hewan ternak, bahkan tidak mencakup ayam, ayam kalkun, ikan, dan hewan non-mamalia lainnya. Perundang-undangan itu tidak melarang banyak kekejaman di tempat jagal, seperti menyeret babi dan sapi dari kaki atau lehernya, memotong dan merobek hewan yang tiba membeku pada samping truk ternak, atau menggantung hewan yang masih dalam keadaan sadar dan panik pada jalur untuk menanggung penderitaan dikuliti dan dididihkan dalam keadaan masih hidup. Karenanya diperkirakan secara konservatif bahwa ada sedikitnya lima hingga sepuluh persen hewan darat yang dibunuh, tidak dipingsankan secara benar, 500 juta hingga 1 miliar mamalia dan burung setiap tahun dikuliti, dipotong-potong, atau dididihkan selagi masih sadar – jumlah di Amerika Serikat semata. Ini adalah beban mengerikan yang ditanggung oleh para pekerja secara emosional, sebagai tambahan dari pekerjaan mereka yang sudah mengerikan. Tetapi, itu adalah beban yang tidak hanya ditimpakan kepada para pekerja saja. Kita semua juga bertanggung jawab. (Sesungguhnya, di pengadilan hukum, orang yang menginginkan kematian pihak lain dan membayar seorang pembunuh, memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada si pembunuh.)

      Tentu saja, tidak hanya di tempat penjagalan saja hewan-hewan ini menderita karena perbuatan kita. Para karyawan di pabrik-pabrik ternak tempat hewan-hewan dikurung untuk telur, daging, dan susu mereka, juga menjalankan sistem yang tak bisa dipercaya kejamnya. Faktannya, jika kita meminta para ilmuwan ternama memikirkan sebuah sistem, hanya untuk percobaan ilmiah, sistem yang memaksimalkan teror, kesakitan, kekejaman, dan kesengsaraan, sepertinya mereka akan kesulitan untuk menemukan sesuatu yang lebih efektif daripada bisnis yang berkembang melalui dominasi perusahaan yang menyediakan bagian tubuh hewan-hewan yang malang kepada jutaan orang yang telah didoktrin untuk memakannya.

      Di pabrik ternak, para karyawan harus mengurung hewan-hewan di dalam lingkungan beracun yang tak bisa dibayangkan kejam dan terkekang, dan juga memotong mereka, dengan tanpa pembiusan. Undang-undang Kesejahteraan Hewan, yang melindungi anjing, kucing, burung parkit, dan hewan-hewan lainnya dari penganiayaan manusia, secara khusus mengabaikan semua hewan yang dipelihara untuk makanan dalam ketentuannya. Praktik apapun, yang dianggap standar dalam industri ini, tetap diijinkan, tidak peduli betapa kejam, contohnya, memotong paruh ayam dan bebek, atau membiarkan ayam kelaparan untuk memaksanya berganti bulu, atau memotong, mengejutkan, mengurung, dan menjejalkan hewan, semuanya diijinkan oleh pemerintah karena hal-hal ini telah diterima dalam praktik industri. Anak-anak babi menjerit karena siksaan dari “pemotongan” telinganya untuk tanda pengenalan, contohnya, dagingnya diiris, dan ekor mereka “dipotong” dan secara menyakitkan gigi mereka dicabut, agar mereka tidak bisa menggigit ekor sesama atau saling menyakiti dalam keadaan stres akibat penjejalan yang berlebihan seperti itu. Juga merupakan praktik umum, untuk mematahkan hidung babi, hal ini secara logika dilakukan untuk mengurangi kecenderungan perkelahian babi-babi yang dijejalkan itu! Anak sapi menahan rasa sakit akibat penandaan dengan besi panas dan pemotongan tanduk mereka yang masih muda, dimana sering kali menyebabkan pendarahan hebat, atau dibakar dengan asam atau besi panas. Domba mengalami proses penyiksaan yang dahsyat sekali – daging di sekitar pantat mereka dipotong untuk mengurangi kerumunan lalat – dan sering kali pencukuran itu sendiri adalah proses brutal, berakibat terpotong secara menyakitkan dan penanganan secara kasar yang kadang-kadang menyebabkan domba itu terbunuh. Mereka, tentu saja, dikirim untuk dijagal ketika pertumbuhan bulu mereka menurun. Domba, babi, dan sapi jantan muda hampir semuanya dikebiri, dan pembiusan tidak pernah digunakan saat pemotongan dan ketika testis mereka robek.

      Angsa dan bebek dipotong paruhnya sebagaimana halnya ayam, dan dipaksa makan untuk menghasilkan foie gras, suatu makanan mahal, berupa hati yang diperbesar secara tidak alami dan dilukai. Makanan ini sering disebut makanan terkejam di dunia, karenanya, produksi ini telah dilarang di Afrika Selatan, Israel, dan tujuh negara Eropa.14  Hati unggas dibesarkan secara paksa dengan memasukkan sebuah pipa logam ke dalam tenggorokkan dan menggunakan tekanan untuk memasukkan jagung ke dalam perut dalam jumlah yang lebih besar daripada yang bisa ditahan oleh perut mereka. Hal ini sering menyebabkan organ mereka “meledak” atau pecah. Ketika hati itik atau angsa dikembungkan menjadi sepuluh kali ukuran normal, ia terbunuh sehingga hati dari itik yang mati ini dapat dimakan.

       Sulit bagi kita bila membayangkan trauma yang ditimpakan oleh para pekerja peternakan, dan ini dalam skala besar, yang melibatkan miliaran makhluk hidup. Kita kebanyakan pernah mengalami rasa sakit ketika dirawat oleh dokter atau dokter gigi, namun orang yang menyebabkan perasaan sakit itu, kita merasa, dia memiliki niat yang baik. Kenyataannya, mereka melakukan hal-hal yang menyakitkan itu demi kebaikan kita, menjadikan beban rasa sakit itu dapat ditolerir dan berarti. Bila membayangkan tangan yang sama melaksanakan prosedur menyakitkan pada tubuh kita dengan kesadaran bahwa tangan-tangan ini tidak peduli sama sekali dengan kita, tetapi menyakiti kita hanya karena itu akan menguntungkan mereka atau karena mereka menikmati perbuatan itu, maka secara ekstrem ini sungguh mengerikan, terutama bila kita tidak berdaya di bawah tangan mereka. Pada waktu kita menaruh hewan-hewan ke dalam posisi ini dengan membeli daging, susu, dan telur mereka, kita harus memikul tanggung jawab bukan hanya atas penderitaan mereka tetapi juga terhadap pengerasan tangan dan hati manusia yang menyebabkan penderitaan ini.

       Pabrik peternakan, seperti halnya tempat penjagalan, adalah tempat yang brutal, tempat penawanan hewan-hewan, yang di dalamnya ada segala bentuk kekejaman yang dilakukan pada tawanan-tawanan yang tak berdaya ini. Keadaan tempat ini memunculkan sisi terburuk manusia. Rekaman video rahasia telah menunjukkan para pekerja yang secara rutin meneror hewan-hewan dengan tendangan, guncangan, teriakan, tikaman, pukulan, dan seretan. Telah didokumentasikan, mereka melakukan permainan sadis, contohnya secara paksa memasukkan es karbon dioksida ke dalam dubur ayam yang hidup untuk membuatnya meletus, menendangnya seperti bola kaki, meledakkannya dengan mercon, atau meremasnya dengan kuat sekali sampai ia menyemburkan kotoran pada ayam lainnya.15 Orang yang secara alami tidak sadis dapat menjadi seperti itu, dan orang yang pernah disalahgunakan ketika kanak-kanak dan yang dengan tanpa alasan menikmati perbuatan untuk menyakiti orang lain, mungkin tertarik untuk bekerja di rumah jagal dan pabrik peternakan, di mana ada aliran korban yang tak berdaya dan tiada henti, dapat mereka siksa, pukul, dan salah gunakan. Contohnya, beberapa pekerja rumah jagal dan tempat penyimpanan ternak menggunakan tongkat listrik yang menyakitkan sekali untuk membuat sapi, babi, dan domba menjadi lumpuh atau jatuh agar mereka terus bergerak menuju jalur pemotongan. Disentuh oleh tongkat listrik rasanya bukanlah hanya seperti mengalami gangguan kejutan ringan. Hewan-hewan itu merasakan beribu-ribu tegangan besar yang menyakitkan, lebih sakit dibanding tertusuk pisau. Para pekerja ini telah kepergok dan bahkan terekam kamera saat mereka menempelkan tongkat listrik pada mulut dan anus hewan, juga menusukkan pisau pada bagian anus dan mata hewan. Menyingkirkan babi yang ukuran dan berat badannya di bawah standar keuntungan, karena merugikan jika terus memberinya makan, adalah praktik standar dalam pabrik peternakan babi. Para pekerja membunuh hewan-hewan secara langsung di tempat dengan metode yang dalam industri dikenal sebagai “PACing”. PAC singkatan dari “Pound Against Concrete” yang secara harfiah berarti “Dibanting ke lantai”; para karyawan memegang kaki belakang babi-babi itu dan membanting mereka ke atas lantai.

        Dalam buku Slaughterhouse (Rumah Jagal), Gail Eisnitz menyertakan puluhan rekaman percakapan yang ditandatangani pernyataan sumpah oleh para pekerja rumah jagal, menggambarkan kekejaman rutin yang mereka lakukan di bawah tekanan aliran produksi yang sangat cepat untuk “memproses” hewan-hewan yang masih sadar dan aktif setelah mereka melewati pekerja pemingsanan ternak. Menurut salah satu pekerja penikam,  

Di bilik penampungan darah di lantai, bau darah itu membuatnya agresif, katanya. Dan memang begitu. Anda akan berperilaku seperti itu jika babi itu menendang Anda, jadi Anda merasa ingin akan membuatnya impas. Anda sudah akan membunuh babi itu, tetapi itu tidak cukup. Babi itu harus menderita. Saat Anda mendapat satu yang masih hidup, Anda berpikir, Oh bagus, saya akan memukul si kurang ajar ini.

Hal lain yang terjadi adalah kita tidak memperdulikan penderitaan orang lain lagi. Saya dulu sangat peka terhadap permasalahan orang–bersedia mendengarkan. Setelah beberapa waktu, saya menjadi tidak peka…

Sama halnya dengan hewan yang membuat Anda marah, kecuali dalam bilik penikaman, Anda akan membunuhnya. Anda tidak hanya ingin membunuhnya, Anda melakukan banyak kekerasan, mendorongnya dengan keras, mengembungkan tenggorokannya, menenggelamkan dia ke dalam darahnya sendiri. Juga Membelah hidungnya. Babi hidup akan berlari mengelilingi kandang. Ia akan menatap pada saya dan saya akan menikamnya, saya akan mengambil pisau dan–eerk–mencongkel keluar matanya pada waktu ia duduk di sana. Dan babi ini akan menjerit.16

Pekerja ini, dan lainnya, bahkan menceritakan kisah yang lebih sadis dan mengerikan, tetapi mengakhirinya dengan berkata, “Ini bukan suatu hal yang dapat dibanggakan oleh siapa pun. Ini faktanya. Inilah cara saya melepaskan rasa frustrasi.”

Pekerja lain bahkan menjelaskan terjadinya pengerasan psikologis yang tak terhindarkan.

   Hal terburuk, lebih buruk daripada bahaya fisik, adalah kerugian emosional. Jika Anda bekerja dalam bilik penikaman itu selama selang waktu tertentu, Anda akan mengembangkan sikap yang membuat Anda membunuh sesuatu dengan tanpa merasa peduli. Anda mungkin menatap mata seekor babi yang sedang berkeliling dalam kubangan darahnya dan berpikir, Oh Tuhan, sesungguhnya makhluk ini bukan hewan yang berpenampilan buruk. Anda mungkin ingin mengelusnya. Babi-babi yang berada di lantai penjagalan datang dan mengendus pada saya seperti seekor anak anjing. Dua menit kemudian saya harus membunuhnya–dengan sebatang pipa, memukulnya sampai mati. Saya tak bisa peduli... saya membunuhnya. Sikap saya adalah, itu hanyalah seekor hewan. Bunuhlah. Kadang-kadang saya memandang orang dengan cara seperti itu juga. Saya bahkan pernah punya ide untuk menggantung mandor saya secara terbalik dengan tali dan menikamnya.17

Bagaimanakah cara orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk membanting hewan-hewan, menyetrum, memukuli hidungnya, membunuh, memukul, menikam dan memotong hewan-hewan itu, memperlakukan kekasih, pasangan hidup, serta anak-anak mereka? Bagaimanakah orang-orang ini mengatasi kekejaman yang mereka hadapi di sekelilingnya dan mengurus makhluk yang lebih lemah dan tak berdaya? 

Akar Masalah Pekerjaan Kita

Kita semua telah dilahirkan dalam kebudayaan gembala yang memaksa bocah laki-laki belajar menjadi keras dan terputus dari perasaan alami mereka yang lembut dan welas asih. Pekerjaan gembala yang berkembang antara empat ribu dan sepuluh ribu tahun lalu adalah pekerjaan kasar yang dengan tanpa belas kasih mendominasi hewan-hewan. Pekerjaan itu memerlukan manusia agar mampu melakukan pemotongan, pengurungan, penyelewengan, dan pembunuhan secara kejam–terhadap kedua jenis hewan, hewan ternak yang telah menjadi komoditas berharga, maupun hewan lainnya, yang berpotensi sebagai pemangsa ganas. Di samping itu, para gembala saling bersaing demi lahan yang berharga dan air untuk hewan-hewan mereka. Dengan memiliki ternak, kebudayaan gembala yang telah lama muncul, membentuk fondasi sejarah dan poros kehidupan dari kebudayaan kita saat ini, menjauhkan dirinya dari dunia alamiah dan masuk ke dalam hubungan permusuhan di dalamnya. Kebudayaan lama ini besar sekali pengaruhnya terhadap kita saat ini karena kita terlibat dalam tingkah laku yang sama: mengurung hewan dan mengonsumsi makanan yang bersumber dari hewan-hewan ini.

Meski kita mungkin telah membuat sedikit kemajuan dalam perlakuan kita terhadap sesama setelah berabad-abad, praktik yang terus-menerus dalam perbudakan, penyiksaan, dan pembunuhan ini selalu menentang kemampuan kita untuk membuat kemajuan yang berarti. Meskipun kita mencela perbudakan, eksploitasi, penyiksaan, dan pembunuhan manusia lain dalam keadaan tertentu, pada skala yang lebih besar, kita masih merasionaliskan dan membenarkannya, hal ini tak dapat disangkal dan masih tersebar luas hingga saat ini.

Dalam buku Eternal Treblinka, sejarawan Charles Patterson menunjukkan bagaimana hubungan antara kebudayaan penggembalaan lama menyalahgunakan hewan dan manusia yang telah berlanjut hingga saat ini (lihat Bab 2). Dengan berfokus pada kebudayaan rasional, kebudayaan demokrasi telah menjadi paham Nazi Jerman, ini menunjukkan kemiripan yang mengejutkan antara dominasi kita terhadap orang lain dan dominasi kita terhadap hewan untuk makanan. Adolf Hitler memajang lukisan Henry Ford dalam bingkai di dinding kantornya, seorang kapitalis sempurna dan penganut supremasi ras, yang industri perakitannya mengilhami mekanisme pemusnahan massal. Ford, pada gilirannya, mendapat ide perakitan dari bagian pemotongan di rumah penjagalan tua di Chicago. Dalam Nazi Jerman, orang-orang Yahudi, komunis, homoseksual, orang sakit jiwa, dan “orang hina” lainnya diperlakukan seperti hewan untuk makanan, dipindahkan dari tempat penampungan dengan mobil ternak ke tempat tawanan seperti pabrik peternakan modern, di mana mereka mungkin dibedah selagi masih hidup sebelum dikirim ke semacam terowongan akhir tempat penungguan setiap hewan yang disembelih untuk makanan. Ironisnya, istilah “holocaust” yang mulanya berarti “pembakaran utuh”, merujuk pada pembunuhan dan pengorbanan hewan sebagai persembahan dibakar.

 Dinamika yang mendasari itu masih terjadi sampai sekarang. Secara universal kita mengutuk paham supremasi ras tertentu, elitisme, dan eksklusivisme karena merusak perdamaian dan keadilan sosial, namun kita tidak mempermasalahkan dan bahkan dengan bangga menerapkan secara seksama perilaku ini bila berkaitan dengan ternak. Pelajarannya sederhana: yaitu ketika kita mengeraskan hati terhadap penderitaan yang kita timpakan pada hewan ternak demi kepentingan kita sendiri, dan membenarkan hal itu dengan menyatakan keunggulan atau keistimewaan kita, itu adalah langkah pendek yang tak terelakkan untuk membenarkan dan menimpakan penderitaan yang sama terhadap manusia lain demi kepentingan kita sendiri, sambil menyatakan keunggulan atau keistimewaan kita. Sejarah konflik dan penindasan yang tiada henti, tidak dapat dipungkiri lagi adalah produk sampingan dari pengurungan dan pembunuhan hewan demi makanan, sedangkan peran laki-laki untuk menjadi mutlak macho, amat diperlukan sebagai pembunuh hewan profesional (gembala) dan prajurit. Jika kita ingin mengonsumsi makanan hewani, penderitaan ini adalah harga yang harus kita bayar.

Pekerjaan sebagai Kesenangan, Pekerjaan sebagai Beban

Suara-suara dari sisi kiri yang progresif, sering mengkritik ilmu pengetahuan dan agama konvensional, dan bahkan mempertanyakan eksploitasi kita yang merajalela terhadap alam dan dominasi kita terhadap kaum perempuan, sejauh ini hampir gagal total bila melihat hubungan antara inti ritual kebudayaan gembala–konsumsi hewan–dan nilai moral serta institusi kita yang bersifat merusak. Baik kita melihat dari di sisi kanan, kiri, atau di antaranya, kita semua menyetujui, bahwa ini telah mengabaikan sebab mendasar dari permasalahan kita. Misalnya, dalam bukunya The Reinvention of Work (Penciptaan Kembali Kerja), teologis dan pendeta progresif, Matthew Fox, meneliti secara mendalam tentang nilai-nilai moral dan kepercayaan yang mendasari pengalaman kerja dan perilaku kita terhadapnya. Mengutip dari sejumlah besar kitab suci termasuk Injil, Bhagawad-Gita, dan Tao Te Ching, dan juga tulisan-tulisan dari para penyair dan orang suci tercerahkan seperti Kabir, Rumi, Rilke, Santo Francis, Hildegard dari Bingen, Meister Eckhart dan lebih banyak lagi suara-suara zaman modern seperti Thomas Berry, E. F. Schumacher, dan Theodore Roszak, ia dengan penuh semangat berpendapat bahwa pekerjaan pada dasarnya adalah spiritual. Menurut beliau, jika kita melihat ke sekeliling kita, kepada alam semesta, kepada bumi kita, dan kepada alam dan hewan-hewan, kita menemukan perilaku yang berkembang secara terus-menerus dengan tanpa batas, dimana setiap bagian memainkan peran vital yang telah ditugaskan. Setiap bagian, setiap sel, tanaman, hewan, planet, dan bintang, memiliki suatu fungsi untuk dipenuhi dalam bentangan yang lebih besar, dan itulah tugasnya. Fox berpendapat bahwa melakukan tugas ini adalah partisipasi kita untuk menjadikan alam semesta yang tak terbatas, dan karenanya, ini menjadi sakral dan menggembirakan. “Seluruh ciptaan”, Ia menulis, “timbul karena ‘kesenangan’ Tuhan belaka. Karya penciptaan adalah sebuah karya yang menyenangkan dimana tujuan keseluruhannya adalah untuk membawa lebih banyak kesenangan ke dalam kehidupan. Ini tidak hanya mengizinkan kita menemukan kesenangan dalam pekerjaan, tetapi juga menuntut tanggung jawab kita dalam melakukan hal tersebut. Kesenangan adalah sumber motivasi yang penting dalam pekerjaan kita.”18

Namun, Fox menyadari bahwa ada permasalahan yang besar dalam pekerjaan bagi kita umat manusia, dengan catatan bahwa satu miliar lebih dari kita menganggur. Jika kita melihat pada alam di sekitar kita, kita menemukan bahwa setiap makhluk bekerja dan memenuhi tujuannya, namun tidak demikian bagi manusia yang tidak bekerja, yang setengah menganggur, yang terlalu banyak bekerja, atau yang tidak mampu maupun tidak ingin bekerja. Kita adalah satu-satunya spesies yang memperbudak spesies lain demi makanan, meminum susu meski sudah dewasa, dan memandang pekerjaan sebagai hal yang tidak menyenangkan dan berusaha menghindarinya. Mengapa demikian? Tentu saja, Fox menyalahkan ketidakpuasan kita terhadap pekerjaan yang mengakibatkan keterpisahan kita dari alam dan spiritualitas kita yang disebabkan oleh revolusi ilmiah dan industri, dan ia mendorong kita untuk menjadi lebih kreatif, lebih berbelas kasih, dan lebih menikmati pekerjaan kita, lebih peduli pada bumi dan sesama, serta “menciptakan kembali” pekerjaan kita sebagai kesenangan, karena tujuan dari pekerjaan adalah untuk mengekspresikan tujuan hati kita.

Namun hal yang tidak dinyatakannya dengan jelas adalah dasar dan definisi kerja dari kebudayaan mengembala, yaitu teknik pengurungan, pemotongan, dan pembunuhan secara brutal terhadap makhluk-makhluk yang peka. Ini tidak mungkin menjadi motivasi dalam kesenangan bekerja! Ini jelas adalah keadaaan yang secara inkonsisten tidak dikenali dan tidak terungkap dalam akar dilema kita. Ribuan orang mati kelaparan di setiap harinya, setiap hari jutaan orang bekerja seperti budak demi uang dalam pabrik-pabrik penuh racun untuk memproduksi barang konsumen yang tidak berguna, ditambah lagi jutaan orang lain yang bekerja sebagai prajurit serta agen kekerasan dan rasa takut – dan semua itu berakar dari piring kita.

Mengkomoditaskan, mengurung, dan membunuh hewan adalah sepenuhnya memutarbalikkan kata “bekerja” sebagaimana yang didefinisikan oleh Fox. Sampai definisi bekerja ini kita diubah dari membunuh hewan demi makanan menjadi melindungi dan memperhatikan kehidupan, kita tidak akan pernah “menciptakan kembali” pekerjaan dalam kebudayaan kita. Kita hanya akan membuat kemajuan teknologi yang memberi kita cara untuk mengeksploitasi hewan, alam, dan sesama secara lebih efisien dan kejam, dan untuk memakan lebih banyak daging hewan, telur, dan produk susu daripada yang pernah tercatat dalam sejarah.

Perdamaian dan keharmonisan dunia memerlukan mereka yang memegang kekuasaan dan kekayaan dalam pemukiman global untuk berhenti mendominasi orang, hewan, dan alam melalui nafsu mereka terhadap makanan hewani. Mudah untuk melupakannya bahwa jika kita membaca kata-kata ini, sesungguhnya kita berada di antara orang terkaya dan paling berkuasa di planet ini. Karena kita relatif kaya dan berkuasa, teladan kita, suara kita, dan gaya hidup kita bisa mempengaruhi banyak orang, baik secara positif maupun negatif. Karena itu kita berkewajiban untuk menghormati tanggung jawab ini bagi saudara dan saudari kita.

Membangkitkan Kembali Daya Kerja

Karena definisi kerjanya yang secara fundamental bersifat kekerasan–menggembala dan membunuh hewan–pada dasarnya kebudayaan kita memiliki perasaan tidak senang terhadap pekerjaan itu sendiri. Kita semua mendengar bahwa lebih sedikit bekerja akan lebih baik daripada lebih banyak bekerja, dan tidak bekerja sama sekali adalah yang terbaik di antara semuanya. Kita semua mempelajari cerita itu dalam Kitab Kejadian, terusir dari taman surgawi, sangat signifikan, karena saat itulah Tuhan menghukum kita dengan memaksa kita bekerja keras selagi kita hidup di bumi. Perumpamaan ini, adalah bagian dari mitos penggembalaan, faktanya karena ini menggambarkan bekerja sebagai beban yang tak menyenangkan dan melekatkannya pada perintah Allah yang muncul akibat terbuang dari taman surgawi. Di taman surgawi, kita menjalani pola makan nabati secara penuh, dan tidak ada konsep bekerja sebagai aktivitas terpisah. Kita hidup secara harmonis dengan hewan, bumi, dan antara satu sama lain, tidak membunuh mereka demi makanan ataupun saling bersaing. Pekerjaan kita adalah hidup kita, dan itu menyenangkan, dan semuanya “sangat bagus”. Pada saat itu tidak ada pekerjaan sebagai aktivitas yang terpisah, juga konsep apapun tentang diselamatkan, karena kita tidak melakukan dosa asal dengan melihat pihak lain sebagai obyek untuk diselewengkan, dipergunakan, dan dibunuh.

Banyak mitologi lain di dunia yang membicarakan tentang hilangnya zaman keemasan yang polos dan damai. Mungkin itulah asal kisah-kisah ini, sebagaimana yang disarankan oleh Eisler dan lainnya, yaitu kenang-kenangan dari kebudayaan bersahabat pada zaman dulu yang digambarkan oleh ahli antropologi kontemporer, yaitu masa sebelum berburu hewan besar, menggembala, dan mendominasi hewan dan wanita. Kembali ke taman yang berlimpah, polos, dan berkah alami selalu terlihat sebagai tujuan dari kerinduan agama dunia Barat, namun untuk benar-benar mencapai hal ini, kita harus menghilangkan mitos mendasar tentang dominasi dan pengecualian yang dipropagandakan dalam kebudayaan kita. Pada dasarnya, kebudayaan kita rindu untuk melampaui dirinya sendiri, sebagaimana yang kita lakukan, untuk kembali, seperti spiral, ke masa yang saling terhubungkan, bermurah hati, dan suka cita. Benih kerinduan ini tertanam dalam jantung kebudayaan kita dan dalam intisari kerohanian kita.

Kejatuhan dari berkah, kepolosan, kebebasan, dan kemurahan hati dimulai saat kita memakan buah ilusi pemisahan dualistis dan berhenti memberikan kemurahan hati kepada mereka yang membutuhkan kemurahan hati kita. Kejatuhan itu terjadi saat kita mulai mengomoditaskan hewan. Kita dapat membangkitkan kembali pekerjaan kita dari perbudakan kotor menjadi partisipasi yang menyenangkan. Jalur ini hanya memerlukan kita untuk memberikan kesempatan yang sama bagi hewan yang membutuhkan kemurahan hati kita: membebaskan mereka dari perbudakan dan menganugerahi mereka kebebasan untuk kembali lagi berpartisipasi secara penuh dalam membuka tujuan dan kesadaran mereka yang unik. Apa yang kita harapkan bagi diri kita sendiri, kita harus terlebih dahulu memberikannya kepada orang lain: hal ini, nampaknya adalah suatu prinsip spiritual yang kekal.

Untuk membangkitkan sifat bekerja dari dalamnya hal-hal sepele, ketidakpedulian, ketidakpuasan, dan eksploitasi yang telah jatuh ke dalamnya, kita memerlukan pergeseran budaya yang jauh lebih radikal daripada yang disarankan saat ini oleh sisi kiri maupun kanan. Kita memerlukan perubahan positif dalam hubungan kita dengan mereka yang memerlukan kemurahan hati kita, yaitu dengan beralih dari makanan hewani ke makanan nabati, serta dari mitos kematian dan dominasi ke mitos kehidupan yang juga partisipasi bersama secara kreatif. Apa saja yang kurang daripada itu hanyalah ironis dan kemunafikan belaka.

Sebagai individu, suatu budaya, dan sebagai umat manusia, kita membayar harga yang sangat tinggi atas pekerjaan yang merendahkan atau merusak pihak lain maupun diri kita sendiri. Ketika kita bekerja terutama demi uang, kita melanggar tujuan spiritual kita, dan menjual waktu dan energi kehidupan kita yang tak terhitung harganya. Semua tradisi dan ajaran spiritual menekankan bahwa kita masing-masing memiliki tujuan dan misi unik dalam kehidupan ini untuk dibuka dan dipenuhi, dan itulah tugas kita. Pekerjaan kita harus berkaitan dengan pemurnian dan pembangkitan kesadaran kita, berkontribusi secara kreatif kepada masyarakat kita, dan menjadi suara dan tangan yang menganugerahkan berkah kepada pihak lain. Saat kita menemukan panggilan hidup kita, dan menjalaninya secara penuh dengan kemampuan kita, kita menemukan kegembiraan dan makna, serta kehidupan kita menjadi berharga dan terisi dengan berkah. Dengan berkembang dan bertumbuh sebagai individu, kita benar-benar dapat menyumbang pada evolusi spesies kita, dan ada kepuasan yang besar sekali dalam upaya-upaya ini.

Jika kita gagal memakai waktu dan energi kita dalam aktivitas ini, kita akan menjadi sangat frustrasi dan tidak puas, mungkin merasa tidak peduli akan betapa kaya atau berkuasanya diri kita, dan rasa frustrasi ini, terkumpul, bergabung, dan memuai, menjadi bom dan peluru, limbah beracun dan kanker, menjelajah seperti gerombolan preman dan teroris. Pekerjaan, seperti halnya kelahiran dan kematian, adalah sakral, sebuah sakramen, dan dengan mencemari pekerjaan dengan persaingan, pembunuhan, kekejaman, dan eksploitasi, kebudayaan penggembalaan kita telah menaburkan benih yang hanya bisa menghasilkan kesengsaraan bagi semua orang.

Dalam perwujudan modern saat ini dari budaya menggembala kuno yang mendominasi secara kejam—menampilkan nilainya sekarang dalam bentuk teknologi tinggi yang semakin maju, seperti jaringan makanan cepat saji di kota-kota besar, peternakan babi yang besar, rumah-rumah jagal, hulu ledak nuklir, dan ketidakadilan, ketidaksetaraan, serta eksploitasi yang merajalela–kebangkitan daya bekerja berarti pemahaman utama yang terpenting tentang akar dari dominasi pengomoditasan hewan untuk makanan. Kunci untuk memperoleh kembali hak kita sejak lahir serta keharmonisan kita, tersembunyi dalam tempat yang paling nyata–di piring kita–menghendaki kita (sesuai dengan kebijaksanaan yang berkaitan dengan mitos) agar menjadi bebas, karena terlebih dahulu kita harus membebaskan mereka yang kita ikat. Untuk memperoleh kembali tujuan kita, kita harus mengembalikan tujuan yang telah kita curi dari pihak lain. Saat kita menghilangkan kekerasan dari makanan sehari-hari kita, secara alami kita akan meningkatkan kemampuan untuk menyembuhkan keterpisahan kita, memelihara kreativitas dan kegembiraan kita, mengembalikan keindahan dan kelembutan, serta menjadi teladan sensitivitas yang berbelas kasih bagi anak-anak kita. Ketika kita melihat lebih mendalam pada makanan kita, penyembuhan bagi anak-anak kita dapat dimulai, dan pekerjaan kita dapat dihidupkan kembali sebagai alat untuk memberkahi dan membawa kebahagiaan serta kepedulian bagi dunia kita.

 

Referensi

1.     Matthew Fox, The Reinvention of Work (New York: Harper, 1994), p. 128.

2.     Ralph Waldo Emerson, “Fate,” The Conduct of Life, 1860.

3.     Laura Moretti, “Another Death in the Family,” The Animals’ Voice: Of Animal Rights and Its Defenders, www.animalsvoice.com/PAGES/home.html.

4.     Gail Eisnitz, Slaughterhouse: The Shocking Story of Greed, Neglect, and Inhumane Treatment Inside the U.S. Meat Industry (Amherst, NY: Prometheus Books, 1997), p. 271.

5.     John Byrnes, Hog Farm Management, September 1976.

6.     People for the Ethical Treatment of Animals, North Carolina Pig Farm Investigation, narrated by James Cromwell, VHS, 2002.

7.     Eisnitz, Slaughterhouse, p. 75.

8.     A Cow at My Table, produced by Jennifer Abbott, VHS, 1998.

9.     Joby Warrick, “Modern Meat: A Brutal Harvest. They Die Piece by Piece” Washington Post, April 11, 2001.

10.   Lance Gompa, professor of industrial and labor relations at Cornell University, lead researcher in Human Rights Watch’s report Blood Sweat, and Fear: Workers’ Rights in U.S. Meat and Poultry Plants, January 2005. See also Steven Greenhouse, “Human Rights Watch Report Condemns U.S. Meat Packing Industry For Violating Basic Human And Worker Rights,” New York Times, January 25, 2005. According to Gompa, “Dangerous conditions are cheaper for companies—and the government does next to nothing.”

11.   Eisnitz, Slaughterhouse, pp. 172, 174, 271, 274.

12.   Ibid., p. 273.

13.   Though neither the industry nor government keeps figures on the percentage of animals improperly stunned before being cut and bled and either skinned or scalded, and because they don’t want anyone else to know about this, we have to rely mainly on the testimony of the workers themselves, as found, for example, in Eisnitz’s Slaughterhouse. According to farmedanimal.net, a study in Germany found one third of chickens under-stunned, one third properly stunned, and one third overly stunned.

14.   People for the Ethical Treatment of Animals, Victims of Indulgence, VHS.

15.   Donald McNeil, “KFC Supplier Accused of Animal Cruelty,” New York Times, July 20, 2004.

16.   Eisnitz, Slaughterhouse, pp. 92–93.

17.   Ibid., p. 87.

18.   Fox, p. 95.

 

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia