Beranda > Kekuatan Makanan

 

bab satu

KEKUATAN MAKANAN

“Dunia ini adalah milik orang yang bisa melihat melalui keinginannya. Betapa tuli, keras kepalanya budaya, kesalahan yang tumbuh yang Anda lihat— hanya ada kesabaran menderita—kesabaran Anda menderita, dan Anda sudah berhadapan dengan pukulan yang mematikan.”

—Emerson

“Senjata yang paling kejam di bumi ini adalah garpu.”

—Mahatma Gandhi 

Makanan sebagai Kiasan

Dari zaman dahulu—kembali setidaknya ke dua setengah milenium sampai Pythagoras di Yunani, para nabi Perjanjian Lama dalam Levant kuno, Mahavira dan Buddha Gautama di India, kemudian orang-orang termasyhur seperti Pluto, Plotinus, dan bapa Kristen permulaan—reformis sosial dan guru spiritual telah menekankan pentingnya menghadirkan sikap dan tindakan kita di sekitar makanan. Fakta bahwa ajaran-ajaran ini telah dengan agresif diabaikan, dilalaikan, dan ditutup-tutupi selama berabad-abad adalah sangat signifikan, dan jika kita melihat secara mendalam luka dan sikap tanggung jawab penyembunyian ini, kita akan menemukan kebenaran yang membebaskan kebudayaan kita dan diri kita sendiri, dan cara bagi transformasi pribadi dan planet yang positif. Apa yang memberi makanan kekuatan yang demikian, dan mengapa kekuatan ini masih belum begitu diakui sampai hari ini? Menjawab pertanyaan ini mengharuskan kita untuk memberi perhatian dengan cara baru dan membuat hubungan untuk tidak berbuat yang telah diajarkan pada kita.

Makanan bukan saja merupakan kebutuhan pokok, ia juga merupakan simbol utama dalam kehidupan batin bersama setiap kebudayaan manusia, termasuk kita sendiri. Tidak sulit untuk melihat bahwa makanan adalah sumber dan kiasan kehidupan, kasih, kemurahan hati, perayaan, kesenangan, keyakinan, perolehan, dan konsumsi. Dan juga ironisnya, sumber dan kiasan pengawasan, dominasi, kekejaman, dan kematian, karena kita sering membunuh untuk makan. Setiap hari, sejak kecil sampai meninggal, kita semua membuat pilihan makanan atau yang dibuat untuk kita. Kualitas kesadaran pilihan makanan tak terelakan timbul—apakah kita membuatnya sendiri atau yang dibuat bagi kita—sangat mempengaruhi kemampuan kita untuk membuat hubungan. Kemampuan untuk membuat hubungan yang bermakna ini menentukan apakah kita menjadi pencinta dan pelindung kehidupan atau pengabdi diri pada kekejaman dan kematian.

Saya percaya bahwa pada tingkat kesadaran kita yang paling dalam kita semua merindukan untuk mencapai penyatuan rohani yang otentik dengan sumber keberadaan, untuk mengalami secara langsung sifat sejati kita, itu merupakan kerinduan untuk mengalami keutuhan, kebenaran, dan kebebasan dari ilusi yang menyakitkan dari keterpisahan mendasar yang mendesak kita untuk menggali dan menyelidiki misteri di sekitar kita setiap hari. Kami menyadari bahwa melihat secara mendalam menghubungkan kita dengan akar dan sumber rohani kita, melihat secara mendalam pada makanan, pada apa dan bagaimana kita makan, dan pada sikap, tindakan, dan kepercayaan sekitar makanan, merupakan petualangan untuk melihat ke jantung budaya dan diri kita sendiri yang sangat dalam. Yang mungkin tampaknya mengejutkan, bahwa ketika kita mengeluarkan cahaya kesadaran ke aspek kehidupan kita yang paling biasa dan diperlukan, kita mengeluarkan cahaya ke rangkaian penghambaan yang tak diterima yang melekat pada tubuh, pikiran, dan hati kita. Ke sangkar penghalang yang kita tidak pernah bisa cukup melihatnya, dan ke jalan gemerlap yang membawa menuju transformasi dan kemungkinan kasih sejati, kebebasan, dan kebahagiaan dalam kehidupan kita. Kita mungkin ingin tertawa pada tuntutan yang demikian kuat. Makanan? Teman lama kita, makanan? Kita mempunyai proyek yang lebih besar dan isu yang lebih menekan. Makanan itu begitu biasa. Kita makan dan lari, atau kita makan untuk dinyamankan dan berlanjut dalam pencarian kita, atau sebagai latar belakang untuk persahabatan atau televisi. Makanan hanyalah makanan, kita mungkin menyanggahnya dengan baik. Itu bukan masalah besar!

Pesta Suci

Ketika kita melihat lebih dalam, kita melihat bahwa makanan adalah metafora universal untuk keintiman. Banyak dari kita mengetahui perasaan mencintai sesuatu atau seseorang begitu dalam sehingga kita ingin menjadi satu dengannya, dan membawanya ke dalam diri kita sendiri, ini menurut penglihatan orang lain. Mungkin ini adalah matahari terbit yang mulia bahwa kita minum dengan mata kita, sebuah melodi yang entah bagaimana membuka hati kita dan meleburkan sesuatu dalam diri kita, atau seseorang terkasih yang dengannya kita rindu untuk melebur dan menjadi satu. Semua kesenian adalah saluran bagi ekspresi dari kerinduan manusia untuk bersatu, tapi hanya dalam seni penyajian dan makanan di mana keesaan ini sebenarnya secara fisik tercapai. Ini adalah bagian yang menjadikan makan pengalaman dan metafora yang demikian berpengaruh: seni makanan dimakan dan menjadi kita. Ia masuk sebagai obyek dan menjadi obyek; apa yang “bukan saya” berubah menjadi “saya.” Satu keajaiban yang alkimia! Itu sama seperti keajaiban cahaya spiritual, dan dari pengampunan dan dari kasih. Apa yang bukan-saya, orang lain, atau bahkan musuh potensial entah dengan bagaimana diubah, dengan membuka dan mencakup ke dalam diri saya, kita. Penyembuhan terjadi, kebangkitan bagi keutuhan yang lebih besar di mana sebelumnya memisahkan “saya” dan “bukan-saya” disatukan sebagai elemen bersama, operator bersama.

Mengambil bagian makanan dengan demikian merupakan metafora yang menyeluruh bagi penyembuhan, pengampunan, dan cinta transenden. Pada tahap yang dalam, kita semua tahu ini. Persiapan makanan merupakan satu-satunya seni yang memungkinkan kita secara harafiah memasukkan apa yang kita ciptakan, dan ia juga merupakan satu-satunya seni yang sepenuhnya melibatkan panca indera. Ia juga sangat tergantung pada apa yang disebut dalam ajaran Buddha sebagai indera keenam: pemikiran, aktivitas mental yang berhubungan dengan konteks yang kita rasakan melalui indera kita. Kita memiliki lapisan berpikir dan perasaan yang sangat rumit dan kompleks yang terikat pada makanan yang merupakan bagian pengalaman makan kita yang penting. Keluarga dan budaya kita menyumbang dengan sangat besar terhadap pikiran dan perasaan ini, dan ingatan dan identifikasi ini memberi makna bagi makanan kita.

Makan dengan demikian merupakan kegiatan yang paling intim di mana kita sebenarnya menyelesaikan penyatuan yang rumit dan dirindukan bagi diri sendiri dan orang lain, subyek dan dunia. Dan sehingga selalu terlihat, lintas budaya, sebagai kegiatan manusia yang paling disucikan, dan juga yang paling mengikat secara budaya. Kita tidak bisa menjadi lebih intim dengan seseorang atau sesuatu daripada memakan mereka. Mereka kemudian secara harafiah menjadi kita. Tindakan intim semacam itu tentu saja dipelihara dengan kesadaran, kasih, diskriminasi, dan penghormatan terbesar. Jika tidak, maka ia merupakan indikasi yang jelas bahwa sesuatu dengan serius salah.

Sekali kita menyadari bahwa menyiapkan dan makan adalah simbol keintiman mendasar dan transformasi spiritual manusia, kita bisa mulai mengerti mengapa perayaan suci sangat penting bagi setiap budaya kehidupan agama dan sosial, Metafora makan adalah pusat persekutuan rohani dengan kehadiran ilahi. Secara universal diakui bahwa makan secara harfiah maupun secara simbolis adalah tindakan yang disakralkan: ia secara langsung mengambil bagian dalam tatanan yang tak terbatas melebihi kehidupan kita yang terbatas.

Meskipun tampak bahwa kita hanya makhluk terbatas yang makan makanan, dari perspektif lain kita dapat lihat memberi makan diri sendiri oleh diri sendiri yang tak terbatas selamanya. Melalui tindakan ambil bagian ini, kita membuka, mencakup, dan sesungguhnya mewujudkan tatanan yang tak terbatas sebagai ekspresi diri sendiri yang unik, yaitu kita, makhluk manusia yang makan. Ini merupakan sebuah ekspresi kasih yang paling dalam. Ketika kita makan, kita dikasihi oleh kekuatan yang kekal dan misterius yang melahirkan semua kehidupan, yang membuat hadir semua yang pernah mendahului kita, yang memanifestasikan dirinya secara tak henti-hentinya sebagai kita dan mengalami kehidupan melalui kita, dengan sebuah kasih yang keseluruhannya diberikan kepada kita, untuk kita yang merupakan kekuatan ini. Itu adalah kasih yang hati intuitif kita bisa merasakan dan merespons dan secara mendalam, dengan gairah menghargainya, tapi pikiran rasional kita hampir tidak bisa mulai memahami.

Makanan, Kehidupan, dan Kematian

Apa yang sesederhana makan sebuah apel? Namun begitu sakral atau bermakna dalam? Ketika kita makan sebuah apel, kita tidak hanya makan sebuah apel sebagai sesuatu yang terpisah. Apel memasuki kita, melebur dengan kita, memberi kontribusi kepada kita. Dan setiap apel adalah manifestasi dari begitu banyak hal! Kita sedang memakan hujan dan awan dan semua pepohonan yang telah mati untuk membawa pohon ini menuju manifestasi, dan manifestasi dari air mata, keringat, tubuh-tubuh dan nafas generasi yang tak terhitung jumlahnya dari hewan, pepohonan dan orang-orang yang telah menjadi hujan dan tanah dan angin yang memberi makan pohon apel ini.

Ketika kita menatap sebuah apel, kita menatap alam semesta secara keseluruhan. Semua planet dan bintang, matahari dan bulan, lautan, hutan, ladang dan makhluk-makhluk di dalam apel ini. Pohon apel ini adalah manifestasi dari sebuah jaringan kehidupan yang tak terbatas, dan agar pohon ini ada, setiap komponen dari jaringan ini adalah penting. Buah apel ini adalah berkah dari pohonnya dan dari alam raya yang tak terbatas yang menyebarkan dan merayakan dirinya melalui apel ini. Biji-biji terjatuh dari sang apel ini, untuk menjadi pohon-pohon baru, atau dimakan oleh manusia atau beruang atau burung yang dengan demikian menjadi tersebar lebih luas, menyebar dan menguntungkan pohonnya dan keseluruhan sistemnya, menebarkan keluasannya yang mutlak, kerumitan dan kesempurnaannya.

Jika kita sadar akan hal ini ketika kita makan sebuah apel, kita akan mengetahui bahwa kita dicintai dan dipelihara, dan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah misteri yang begitu luas dan kasih sayang dan kesenangan yang kita dapat sentuh hanya dengan kesakralan. Hampir semua masyarakat, saat kita merenungkan sumber dari kehidupan kita dan dengan sadar terhubung dengan misteri agung adalah pada saat kematian, dengan pemakaman, dan pada saat makan dengan rahmat dan doa. Makan sebuah apel dengan kesadaran dapat menjadi satu saat makan dengan sakral, dan ini biasanya terjadi secara kebetulan ketika kita sibuk berpikir tentang hal lain.

Kita, manusia, makan apel, berada dalam pengertian sebenarnya dari apel makan apel. Keseluruhan alam semesta tidak hanya berada dalam setiap apel, tapi di dalam setiap diri kita. Ketika makan, kita melihat bahwa sama sekali tidak ada hal yang terpisah secara mendasar, tapi hanyalah merupakan proses-proses. Segalanya menjadi bagian satu sama lain, selalu berubah, dan pada akhirnya dimakan oleh proses dan oleh waktu, pemangsa yang lebih besar. Makanan adalah sumber dan metafora dari alur kehidupan menuju kematian dan kematian menuju ke kehidupan.

Kita dapat melihat makna mitos dan spiritual dari makan makanan adalah sangat dalam dan telah dijalin ke dalam tradisi mitos dan religi yang mendasar dari banyak kebudayaan, termasuk kebudayaan kita sendiri. Selain upacara simbolik dari makan komuni sakral dalam Nasrani, yang merupakan transformasi kematian Yesus, ada cerita kelahiran. Yesus dilahirkan dalam sebuah palungan atau tempat makan hewan! Sungguh satu simbol yang kuat, dilahirkan dalam mangkuk makan seseorang. Dia dilahirkan untuk menjadi makanan spiritual bagi orang lain, dan hubungan-hubungan yang dalam antara simbolisme palungan dan Perjamuan Terakhir menunjukkan kekuatan makanan sebagai metafora utama dari misteri spiritual yang meliputi dan melampaui batas kehidupan dan kematian.

Seiring kita berkembang secara spiritual dan terbangunkannya daya kemampuan kita, setiap hari, kita dapat menjadi makanan bagi orang lain, berbagi kasih dan pengertian kita, waktu dan energi kita menjaga orang lain dan diri kita dalam proses ini. Ini bukan hanya kasih pribadi kita, energi, atau waktu kita yang kita bagi, untuk, seperti apel itu, ketika kita memberikan diri kita, kita sedang memberikan berkah yang kita terima dari keluarga-keluarga kita, guru kita, teman-teman kita, dari Bumi dan makhluk-makhluknya, dari matahari, bulan dan bintang-bintang, dan dari semua pengalaman kita. Pada akhirnya, kita adalah kehidupan itu sendiri yang memberi kepada dirinya sendiri - memberi makan sendiri, menjelajah, memuaskan dan meremajakan diri sendiri. Jika kita hidup dengan baik, kita memberi makan banyak orang dengan makanan yang paling bergizi, yaitu buah dari welas asih dan kebijaksanaan. Pada akhirnya, lebih dari hanya memerlukan makanan untuk perjalanan ini, kita dapat menemukan bahwa kita adalah makanan untuk perjalanan satu sama lain, dan bahwa keperluan dan kesenangan terdalam kita tidak semata-mata dari mengonsumsi, tapi dari pemberian makan satu sama lain ini. Kita semua terlahir di satu palungan simbolik, untuk menjadi makanan spiritual satu sama lain, dan kita dipanggil untuk menemukan jalan unik kita untuk berbagi.

Apakah terlalu mengejutkan bahwa sesuatu yang begitu sederhana seperti makan, dapat menjadi pusat kekuatan kehidupan spiritual dan kebudayaan kita? Untuk menyelidiki lebih lanjut tentang hal ini, kita harus meneliti apa yang kita pilih untuk kita makan. Ada apa di balik pilihan-pilihan makanan kita?

Asal Makanan Kita: Apakah itu Tumbuhan atau Hewan

Di dalam kebudayaan kita, perbedaan antara makanan yang berasal dari hewan dan makanan yang berasal dari tumbuhan terkadang dengan sengaja dikaburkan dan diabaikan. Namun, dengan ketegasan untuk mengenal hal yang jelas ini, kita memberi kuasa kepada diri kita sendiri untuk mengerti lebih dalam.

Makanan yang berasal dari tumbuhan kebanyakan adalah buah-buahan dan biji-bijian yang dengan bebasnya dilepaskan dari pepohonan tertentu. Sebagai contoh, biji-bijian seperti gandum, oat, beras, jagung, barli, quinoa, gandum hitam dan millet adalah biji-bijian dan buah-buahan dari rumput sereal. Tumbuhan polong, atau kacang-kacangan seperti kedelai, chickpea, lentil, kacang polong, buncis dan kacang tanah adalah biji-biji dari tumbuhan polong-polongan. Buah-buahan sayur seperti tomat, labu siam, paprika, labu, okra, terong, mentimun adalah buah-buahan dan biji-bijian dari tumbuhan herbal. Buah-buahan dan biji-bijian yang dilepaskan dari pepohonan dan tanaman lain menumbuhkan makanan pepohonan lain yang kita makan seperti apel, jeruk, pisang, pepaya, alpukat, sukun, melon, anggur, limau, plum, persik, cheri, aprikot, zaitun, ara, kurma, dan buah-buahan lain: blackberi, stroberi, blueberi, cranberi, raspberi, dan beri lainnya, kemiri, kenari, hazelnut, makadamia, kacang mete, almond, kelapa, dan biji-biji lainnya; dan biji bunga matahari, wijen, biji labu, cokelat, rami halus, biji cemara dan biji lainnya. Beberapa makanan adalah bunga-bunga yang mempunyai biji, seperti brokoli, bunga kol, kecambah Brussel, artikok, atau buah-buahan yang mengandung spora dari jamur di bawah tanah, seperti jamur. Umbi-umbian seperti kentang dan yam. Ada sedikit akar-akaran, seperti wortel, dan bit, atau daun-daunan, seperti bit Swiss, kol dan selada, atau tumbuhan batang seperti asparagus, seledri dan tebu.

Di balik makanan tumbuhan di piring kita, kita melihat ada kebun buah dan taman-taman, ladang, hutan dan musim-musim, dan orang merawat dan menjaga tanaman. Jika tanaman ini ditanam dengan cara organik berkelanjutan dengan metode-metode skala kecil, kita akan melihat keindahan dan kelimpahan dari bumi yang menumbuhkan makanan yang sehat dan lezat kepada tangan-tangan yang menjalankan pekerjaan yang peduli dalam keselarasan dengan irama alam.

Jika melihat dengan seksama, kita melihat ada sangat sedikit penderitaan yang disebabkan oleh memakan makanan ini; kebanyakan makanan tumbuhan adalah buah-buahan dan biji-bijian yang dilepaskan dari rerumputan, herba, pepohonan, tumbuhan rambat dan tanaman lainnya. Selain itu, tidak seperti hewan, yang melakukan gerakan, hingga memerlukan sistem syaraf dengan reseptor rasa sakit. Tumbuhan tidak mempunyai sesuatu yang menyerupai sistem syaraf fisik atau reseptor rasa sakit. Karena tumbuhan tertanam dan tidak bergerak, tidak ada alasan bagi alam untuk memberikan atau mengembangkan mekanisme yang membuat mereka merasa sakit saat diam di sana.*

Makanan yang berasal dari hewan, jika tidak berasal dari daging dan organ, yang benar-benar daging dan organ hewan mati, maka ia berasal dari pembuangan hewan yang dijadikan makanan. Golongan makanan sebelumnya adalah otot daging dari berbagai jenis hewan yang dibunuh untuk memproduksi makanan yang adalah hal utama dari kebanyakan budaya makan kita. Daging ikan dan kerang-kerangan biasanya disebut dengan nama spesies-spesies hewan tersebut, seperti tongkol, limbat, salem, lobster, kepiting, udang. meskipun hewan amfibi dan reptil kurang biasa dimakan di Amerika Serikat, namun di beberapa negara, kodok, penyu dan buaya diternak juga untuk menghasilkan kaki kodok dan daging penyu dan daging buaya untuk konsumsi manusia. Daging unggas juga disebut dengan nama spesies-spesies hewan tersebut, seperti ketika kita makan ayam, kalkun, bebek, emu dan burung pegar, dan perbedaannya sering dibuat dengan jenis atau bagian tubuh hewan dan warna dari daging tersebut, seperti dada dan paha, daging putih dan daging gelap. berbeda dengan hal di atas, daging hewan mamalia jarang disebut dengan nama spesiesnya, tapi dengan menggunakan 'jenis potongan' bagian tertentu dari daging ini, seperti loin (potongan daging pinggang), sirloin, flank (bagian rusuk), rump roast (panggang 'bagian bokong'), shoulder roast (panggang 'bagian pundak'), rib roast (panggang 'iga'), T-bone, brisket ('punggung'), atau pada babi, ada bacon, iga, sapi muda, daging domba, daging rusa, daging domba, daging sapi, hamburger, hot dog, baloney, sosis, dan ham. Organ internal tertentu juga dimakan, khususnya ginjal dan hati mamalia muda. Hati yang bebek dan angsa yang digemukkan yang disebut foie gras, dan ada juga yang jarang dimakan, yaitu jaringan bagian perut (babat) dan jantung, lidah, otak, dan kaki hewan tertentu (kadang-kadang disebut dengan head cheese). Air susu sapi yang menyusui, domba, dan kambing diminum dan dimakan sebagai mentega, yogurt, krim, dan bermacam keju. Keju dibentuk dengan menggunakan rennet, yaitu bagian lapisan perut anak sapi yang disembelih, untuk mengentalkan susu. Telur unggas juga diolah untuk makanan, seperti madu yang berasal dari tubuh lebah.

Kebalikannya dengan tumbuhan, yang secara alami memproduksi makanan sehat dan bernutrisi yang hanya melibatkan sedikit penderitaan, jika ada penderitaan, hewan secara rutin dikuasai dan diserang untuk diambil daging, susu, dan telurnya untuk dimakan manusia. Hal ini jelas melibatkan penderitaan, kita semua mengetahui secara pasti bahwa mengambil pisau dan memotong kulit seekor anjing, sapi, kucing, ayam, kelinci, atau manusia sangat berbeda dengan memotong kulit tomat atau anggur, bahwa mengiris kaki babi tidak bisa dibandingkan dengan mengiris apel segar. Etholog terkenal Konrad Lorenz pernah berkata bahwa siapa pun yang tak dapat melihat perbedaan antara memotong anjing dan memotong selada harusnya melakukan bunuh diri untuk kebaikan masyarakat. Saat ini kita tahu bahwa semua hewan bertulang belakang ditunjang dengan sistem syaraf pusat dengan penerima proprioceptor yang sensitif terhadap rangsangan rasa sakit yang berbeda, termasuk dipotong, dibakar, dipukul, dikurung, diberi kejutan listrik, dan diterpa dingin dan panas, bau beracun, memar, dan digesek, dan bahwa mereka merasakan sakit psikologis seperti kita, saat secara fisik mereka dikurung, bayinya dicuri, atau keinginan bawaannya dihalangi.

Budaya Penyangkalan

Semakin kuat kita mengabaikan sesuatu, semakin kuat hal itu menguasai kita dan semakin kuat hal itu mempengaruhi kita. Melihat tanpa terganggu kepada makanan hewani yang dihasilkan dengan cara-cara modern, secara tak terelakkan kita menemukan kesengsaraan, kekejaman, dan eksploitasi. Makanya kita menghindari secara mendalam saat melihat makanan kita jika berasal dari hewan, dan tindakan menghindar dan menangkal ini, diterapkan untuk makan, aktivitas paling mendasar dan ritual vital kita, dan secara otomatis dibawa ke dalam kehidupan bermasyarakat dan pribadi kita. Kita tahu, di lubuk hati terdalam, yang tak dapat melihat lebih dalam lagi, karena jika kita lakukan, kita harus melihat secara mendalam penderitaan luar biasa yang langsung disebabkan oleh pilihan makanan kita. Jadi kita belajar untuk tetap dangkal dan rela dibutakan terhadap kaitan yang bisa kita lihat. Jika tidak, penyesalan dan rasa bersalah kita akan menjadi terlalu sakit untuk ditanggung. Pemahaman kebenaran juga akan berselisih terlalu kuat dengan gambaran diri kita sendiri, menyebabkan disonansi kognitif dan gangguan emosional serius. Kita memilih mengabaikan, makanya memilih untuk dungu dan tidak perhatian.

Dengan tidak mau dan tidak bisa melihat, menghadapi, dan bertanggung jawab terhadap lautan ketakutan yang tersembunyi yang disebabkan aktivitas paling mendasar kita kepada mereka sebagai makhluk berperasaan dan lemah seperti kita, kita telah membagi diri kita menjadi orang sakit jiwa yang sopan dan beradab yang hidup tidak mudah dengan kekejaman tanpa penyesalan yang melapisi kapan pun kita memperoleh atau memakan makanan hewani. Saya percaya pembagian ini adalah luka tak disadari yang mendasar yang diderita manusia modern, dan dari sana banyak luka dan bagian lain secara alami dan tak terelakkan akan mengikuti. Karena begitu dalam dan buruknya sampai-sampai menjadi tabu untuk dibahas di depan umum.

Memilih untuk menjadi buta terhadap hal yang kita lakukan saat kita berbelanja, persiapkan, dan makan, kita membutakan diri kita tidak saja terhadap ketakutan dan penderitaan yang kita provokasi dan makan, tetapi juga pada keindahan dunia di sekitar kita. Ketidakmampuan untuk benar-benar melihat dan menghargai keelokan berlimpah di Bumi ini memungkinkan kita menghancurkan hutan dan lautan dan secara sistematis merusak alam. Menjadi tidak sensitif terhadap kesakitan yang kita sebabkan tiap hari kepada hewan lemah, kita juga menjadi tidak peka terhadap keindahan dan kilauan ciptaan yang kita tindas dan yang kita putuskan setiap kali kita makan.

Ketidakpekaan jutaan anak-anak dan orang dewasa – pada skala besar yang mengonsumsi jutaan hewan yang disiksa tiap harinya – menebarkan benih kekejaman manusia, perang, kelaparan, dan keputusasaan tanpa batas. Hasil akhirnya tak terhindarkan, karena kita tak pernah menuai kebahagiaan, kedamaian, dan kebebasan bagi diri kita sendiri sambil menabur benih dengan merusak dan memperbudak yang lain. Kita mungkin berbicara tentang cinta, kebaikan, kebebasan, dan dunia yang lebih baik, namun inilah tindakan kita, terutama mereka yang biasa melakukannya, yang menentukan masa depan seperti apa yang akan kita semua alami. Siklus kekejaman yang telah meneror orang baik pada zaman dulu maupun saat ini berakar dari kekejaman dalam makanan kita setiap harinya. Walau hewan tidak bisa membalas seperti manusia, kekejaman kita terhadap mereka akan berbalik kepada kita. 

Mewarisi Kekejaman

Dengan mengurung dan membunuh hewan demi makanan, kita telah membawa kekejaman ke dalam tubuh dan pikiran kita dan mengganggu dimensi fisik, emosi, mental, sosial, dan spiritual kita sendiri dengan cara yang dalam dan keras. Makanan kita menghendaki kita makan seperti pemangsa dan untuk melihat diri kita seperti itu, membudidayakan dan membenarkan perilaku dan lembaga pemangsaan yang merupakan kebalikan dari inklusivitas dan kebaikan yang mengiringi pertumbuhan spiritual. Karena kekejaman tak terhindarkan dari pengurungan, pemotongan, dan penjagalan hewan demi makanan, kita sejak masa anak-anak telah dipaksa untuk meragukan dan tidak peduli terhadap kekejaman.

Tak seorang pun dari kita yang pernah secara sadar dan bebas memilih memakan makanan hewani. Kita semua mewarisinya dari budaya dan didikan. Menuju bagian makanan bayi dari toko bahan makanan manapun saat ini, kita segera melihatnya: makanan bayi rasa sapi, makanan bayi berisi ayam, sapi muda, dan domba, dan bahkan makanan bayi mie keju. Orang tua, kakek-nenek, sahabat, dan tetangga yang baik telah memaksakan daging dan sekresi hewan kepada kita sejak sebelum kita bisa mengingat. Sebagai bayi, kita tak memiliki pemahaman apa sebenarnya “daging sapi muda,” “kalkun'“ “telur,” atau “daging sapi,” atau dari mana asalnya. Kita tidak mengetahui ketakutan yang dihadapi makhluk tak berdaya untuk membuat masakan yang mudah dicarikan untuk disuapkan ke dalam mulut kecil kita. Kita perlahan menemukan, dan pada waktunya kita lakukan, kekejaman dan kekerasan yang terkait terlihat alami dan normal bagi kita. Kita tak pernah diberi tahu bahwa manusia tidak dirancang untuk memakan makanan hewani yang khas dari budaya kita dalam jumlah yang besar. Kita tak pernah diberi tahu tentang pengurungan yang ekstrem, pengebirian dan pemotongan lain yang selalu tanpa obat bius, dan pembunuhan brutal dan sering kali sadis yang menatap kita setiap hari dari mangkuk dan piring kita, dan yang kita kunyah tanpa berpikir sambil menonton televisi, membaca, atau bercakap-cakap.

Maka, hubungan kita paling dalam dan terberkahi dengan bumi dan dengan rahasia kesadaran spiritual tanpa batas – makanan sehari-hari kita – telah menjadi ritual pengalihan dan penekanan kepekaan dan rasa bersalah daripada ritual akan rasa syukur yang membuka hati, hubungan, berkah, dan cinta. Harga yang kita bayar untuk ini adalah tak terhitung dan termasuk, di antara hal lainnya, menumpulkan kecerdasan bawaan kita dan kasih sayang dan konsekuensi kehilangan kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan.

Kehancuran Kecerdasan

Kecerdasan adalah kemampuan untuk membuat hubungan yang bermakna, dan ini benar untuk semua makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan masyarakat. Berpartisipasi dalam ritual harian yang mengekang kemampuan kita untuk membuat hubungan sangat menghambat kecerdasan kita, bahkan di tengah-tengah keberlimpahan akan informasi, dan menghancurkan kemampuan kita untuk secara efektif menyelesaikan permasalahan serius yang kita buat. Karena kita mahir memutuskan hubungan dari penderitaan yang kita bebankan pada hewan, kita secara alami dan pasti menjadi mahir memutuskan hubungan dari penderitaan yang kita bebankan kepada orang-orang yang kelaparan, biosistem hidup, masyarakat yang dilanda perang, dan generasi masa depan. Kemampuan kita dengan tegas memblokir umpan balik juga membuat kita dengan mudah dibuat ragu dan dimanipulasi oleh kepentingan perusahaan yang keuntungannya tergantung pada ketidakmampuan kita untuk membuat hubungan yang berarti.

Belas kasih adalah kecerdasan etis: suatu kapasitas untuk membuat hubungan dan konsekuensi untuk bertindak cepat untuk mengurangi penderitaan makhluk lain. Seperti kecerdasan kognitif, cinta kasih juga ditekan oleh praktik konsumsi hewani. Kemampuan untuk memutuskan hubungan, dipraktikkan pada setiap waktu makan, yang terlihat mungkin dalam samaran yang lebih mengerikan dalam dunia ilmuwan modern yang perlahan membekukan anjing sampai mati untuk mempelajari fisiologi manusia, dalam ketentaraan modern yang melihat langsung ke mata penduduk tak berdaya dan membunuhnya, bagi pemburu yang menipu dan mengejar hewan tak berdaya dan membunuhnya demi olah raga, dan dalam aktivitas budaya yang legal dan disetujui yang tak terhitung jumlahnya.

Selama kita masih tinggal, di inti, budaya yang melihat hewan hanya sebagai komoditi dan makanan, sedikit harapan bagi kita untuk bertahan. Praktik pengabaian, penindasan, dan pengecualian yang sistematis yang mendasar dari makanan sehari-hari kita memutuskan hubungan kita dari kebijaksanaan batin dan dari kerinduan terhadap kebaikan dan berkah alam semesta. Dengan secara aktif mengabaikan kebenaran hubungan kita, kita tak terelakkan melakukan pemusnahan ras dan bunuh diri, dan mengabaikan kecerdasan dan kasih sayang bawaan yang akan membimbing kita.

Saya-Engkau lawan Saya-Itu

Pada tahun 1920-an filsuf Martin Buber mengumumkan dan menyatakan perbedaan penting dalam hubungan kita dengan orang lain dan dalam konsekuensi rasa diri yang makin diakui untuk kepentingannya. Menyebutkan bahwa kita tidak mengembangkan pemahaman tentang “Saya” dalam keterpisahan, tetapi melalui hubungan dengan orang lain, kita terus mengatakan bahwa saat kita terhubung dengan pihak lain karena memiliki kesadaran, dan karena memiliki perasaan, pengalaman, keinginan, dan tujuan, kita mengembangkan suatu rasa diri “Saya-Engkau.” Saat kita terhubung dengan pihak lain sebagai obyek, yang tidak punya keinginan tertentu, tujuan, atau kesadarannya sendiri, kita mengembangkan suatu rasa diri “Saya-Itu.” Mengolah harga diri Saya-Kamu, kita menghasilkan rasa hormat dan kepekaan terhadap pihak lain dan diri kita sendiri. Mengolah rasa diri Saya-Itu, kita cenderung berhubungan dengan pihak lain sebagai alat untuk digunakan. Perasaan Saya-Itu mengarah pada pandangan untuk semakin menghilangkan dan tidak berwujud terhadap alam, hewan, dan orang lain, dan pengerasan perasaan yang menghalangi kita dari merasakan sakit atau siapa pun dan apa pun yang kita gunakan, konsumsi, dan eksploitasi. Menurut Buber, rasa diri Saya-Itu menghendaki dan mengembangkan ketidakpekaan perasaan yang mengarah pada peningkatan keinginan mengonsumsi semakin banyak barang. Pencarian kebahagiaan dan kepuasan yang ironis dan tidak mungkin ini dengan pendirian diobjekkan, dipisah, dan gelisah yang mengurangkan nilai pihak lain menjadi benda untuk digunakan sebagai kesenangan dan keuntungan adalah pendorong utama di balik industri konsumerisme dan pelarian, kapitalisme perusahaan, dan pengrusakan lingkungan dan sosial yang tak terelakkan terwujud dari mentalitas ini.

Sementara wawasan Buber memang provokatif dan mencerahkan, tampaknya ia gagal mengenali dinamika lebih dalam yang bertanggung jawab atas rasa Saya-Itu dari diri: pilihan makanan yang kita pelajari sejak lahir, yang mana makhluk-mahkluk misterius, sensitif, dan cerdas itu terus-menerus dan tanpa dipertanyakan dikecilkan hanya menjadi obyek makanan untuk dipakai, dibunuh, dan dimakan.

Kita mungkin merasa heran bahwa Buber tidak dapat membuat kaitan yang lumayan jelas ini selama empat puluh tahun lebih merenungkan dan menulis mentalitas Saya-Engkau dan Saya-Itu. Namun apa yang lebih mengherankan adalah bahwa dari ribuan penulis dan peneliti terkemuka dalam ilmu fisika, ilmu manusia, dan kemanusiaan selama seratus tahun terakhir ini, pada hakikatnya tidak seorangpun menghasilkan satupun kalimat mengenai pokok bahasan ini! Pemikir-pemikir besar ini adalah orang-orang yang paling inovatif dan berani di zaman mereka, bersedia menanggung risiko kontroversi dan berani menawarkan ide-ide baru kepada dunia dalam bidang sosiologi dan teori sosial, psikologi, filsafat, teori sistem, sains, ekonomi, sejarah, pemerintahan, antropologi, teologi, perbandingan agama, dan kerohanian.1 Bagaimana mungkin sesuatu yang sangat jelas dan ada di tengah kehidupan dan pemikiran kita—perlakuan kita kepada hewan untuk makanan—telah diabaikan oleh—dan tidak terlihat—oleh begitu banyak orang dalam waktu yang sangat lama? Merinding saat merenungkan bertumpuk-tumpuk buku, artikel, esai, ceramah, dan dokumentasi yang dihasilkan oleh dan tentang pemikir-pemikir besar zaman modern—dan menyadari bahwa pokok bahasan ini tak pernah disebutkan. Ide bahwa kekerasan rutin kita terhadap hewan untuk makanan mungkin adalah daya pendorong utama di balik penderitaan manusia dan perang, pada hakikatnya telah menjadi tidak dapat dipikirkan hingga sekarang ini.

Bahkan suara yang lebih radikal dan kontemporer telah tidak bersedia untuk secara serius menanggapi pokok bahasan ini, seperti pada hakikatnya semua penulis dan pemimpin masa ini di dalam potensi manusia, kerohanian, lingkungan, keadilan sosial, kesehatan holistik, dan gerakan perdamaian.2 Ini bukan dimaksudkan sebagai kritik kepada orang-orang hebat dan kontribusi dan ide-ide besar mereka ini, tetapi ditujukan lebih untuk menekankan betapa mengherankan bahwa seluruh budaya kita harus menolak berhadapan dengan tingkah laku penentunya, yang mana sama jelasnya seperti iklan burger keju dan ayam goreng namun sekaligus sama tidak terlihatnya seperti udara dan anehnya tidak dapat didekati.

Itu karena kita semua telah setuju bahwa, dengan cara apapun, kebenaran ini harus diabaikan. Salah satu sumbangan Carl Jung yang paling menonjol yaitu mengartikulasikan karakter pola dasar bayangan: itulah diri dan yang melingkupinya, tetapi menyangkalnya dan menekannya. Meski ditekan, bayangan itu akan didengarkan dan tanpa kecuali diproyeksikan dengan cara yang merusak dan mungkin tersembunyi. Penganiayaan kita kepada hewan untuk makanan adalah bayangan budaya kita yang jelas sekali. Rasa bersalah kolektif kita mendorong kita tidak hanya untuk menyembunyikan kekerasan yang kita makan tetapi juga untuk menjalankannya: di dalam gaya hidup, film, buku, game, dan media lain kita yang agresif, dan di dalam kekerasan yang kita timpakan satu sama lain baik secara langsung maupun tidak.

Kita Semua Adalah Misteri

Praktik terus-menerus kita mengomoditaskan hewan untuk makanan, selain sangat melanggar tatanan alami yang mengakibatkan penderitaan yang sangat besar dan tak dikenali kepada kita dan hewan-hewan lain, juga membutakan kita kepada diri kita dan hewan lain yang sesungguhnya. Kita salah jika kita mengecilkan diri kita sendiri hanya menjadi entitas materi yang lahir, hidup sejenak, dan meninggal. Seperti hewan-hewan lain, pada dasarnya kita bukanlah makhluk fisik; esensi kita adalah kesadaran. Kita semua adalah ekspresi dari daya kreatif misterius tak terhingga yang melahirkan dan menopang seluruh manifestasi, dan tubuh dan pikiran kita adalah sakral, sama seperti tubuh dan pikiran semua makhluk. Seperti kita, hewan memiliki perasaan dan kerinduan; mereka bersarang, kawin, lapar, dan adalah subyek yang sadar akan kehidupan mereka. Mereka membuat segala upaya, saperti kita, untuk menghindari sakit dan kematian dan untuk melakukan apa yang mendatangkan kebahagiaan dan keterpenuhan.

Pada dasarnya manusia adalah suatu misteri yang besar. Lembaga-lembaga sains, agama, pendidikan, dan pemerintahan hanya berbuat sangat sedikit untuk mengungkapkan kepada kita apa sesungguhnya manusia itu dengan cara yang mendalam dan bisa mengubah. Kita mungkin masih tetap sama misterisnya bagi diri kita sendiri seperti pada masa Musa, Buddha, Kong Hu Cu, dan Yesus. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa kita tahu lebih banyak dan tentu saja telah lebih berkembang; yang lain mungkin berpendapat bahwa kita hanya mengetahui lebih sedikit akan hal-hal yang benar-benar penting, dan lebih terpecah perhatiannya dan tidur lebih malam daripada masa-masa sebelumnya. Meskipun begitu, tak seorangpun bisa membantah bahwa kita adalah misteri bagi diri kita sendiri, karena semua penelitian ilmiah dan teologi kita. Dan sama seperti kita tidak sungguh-sungguh tahu akan seorang pria atau wanita, kita juga tidak sungguh-sungguh tahu akan kuda betina dan kuda jantan, atau anjing, gajah, elang, ikan lumba-lumba, ayam, ikan cucut, lobster, buaya, tikus, kupu-kupu, cacing tanah, lebah madu, atau lalat rumah. Mereka semua menjadi misteri yang sangat besar bagi kita, bahkan mungkin lebih misterius daripada diri kita sendiri. Mereka benar-benar makhluk lain, dan pemahaman mendasar ini seharusnya menciptakan rasa rendah hati, takjub, dan hormat di dalam diri kita.

Meskipun sayangnya, kita menciptakan kategori mental untuk makhluk-makhluk misteris tak terhingga yang kita temui, seperti “orang hitam”, “budak”, dan “penyembah berhala” atau “hewan untuk dimakan”, “permainan”, “hama”, dan “hewan laboratorium”. Kategori ini, dan kekerasan yang kita lakukan kepada makhluk-makhluk yang kita kategorikan itu, secara mendasar tidak mengubah atau merendahkan sifat yang sakral dan menyimpan teka-teki. Hal itu hanya menutupi dan memperbudak pikiran kita dengan pemikiran menyimpang yang dilahirkan dari sikap kita yang ekslusif dan mementingkan diri sendiri. Dengan melihat dan mengenali cahaya ini di dalam makhluk lain, kita membebaskan mereka dan diri kita sendiri. Inilah kasih. Gagal melihatnya, sering karena kita tidak pernah mengalami apa yang dilihat makhluk lain itu di dalam diri kita, kita memenjarakan diri kita sendiri, salah mengira kerangkeng dangkal itu sebagai hal yang dalam dan bebas.

Dengan melihat hewan lain hanya sebagi obyek untuk dimanfaatkan guna makanan, kita telah menyobek kain keharmonisan yang penting dengan sangat dalam sehingga kita telah menciptakan budaya yang memenjarakan diri sendiri, sering tanpa menyadarinya. Dominasi manusia oleh manusia adalah hasil yang muncul dari menguasai hewan lain untuk makanan. Seperti yang telah diperagakan oleh Jim Mason dalam An Unnatural Order (Tatanan yang Tidak Alami), ada kaitan sejarah yang kuat antara manusia yang memperbudak manusia lain dan manusia yang memperbudak hewan untuk makanan. Mentalitas memperbudak yang menguasai dan mengecualikan ini terletak pada inti kesalahan spiritual yang memungkinkan kita melakukan perang terhadap bumi dan satu sama lain.

Kasih adalah Pemahaman

Ketika masih muda, saya sering bertanya-tanya apakah budaya kita harus seperti ini. Saya menemukan ternyata tidak begitu. Kita semua bisa melakukan kontribusi yang paling besar kepada transformasi budaya dan perdamaian dunia dengan makanan kita, yang merupakan hubungan paling penting kepada budaya kita dan kepada dunia alami.

Melakukan upaya untuk membina kesadaran kita dan melihat melampaui pembudayaan kuat yang kita alami ini menghadirkan pemahaman. Penyembuhan, berkah, dan kebebasan datang dari pemahaman. Kasih itu memahami. Dari pemahaman, kita bisa menerima tanggung jawab kita dan menjadi daya untuk memberkati dunia dengan kehidupan kita, alih-alih melanjutkan ketakterhubungan dan menjadi wakil kekejaman. Dengan kesadaran, tingkah laku kita secara alami berubah, dan perubahan tingkah laku secara individu, beriak melalui jaringan hubungan, bisa menghasilkan transformasi sosial dan membawakan dimensi baru kebebasan, sukacita, dan kreativitas kepada semua orang. Itu semua mulai dengan hubungan kita yang paling intim dan berjangkauan jauh dengan tatanan alami, lambang spiritual kita yang paling utama, dan upacara sosial kita yang paling mendasar: makan.


 

* Sementara beberapa orang berpendapat bahwa tumbuhan juga merasakan sakit, ada lebih banyak alasan untuk tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan, karena makanan ini memerlukan jumlah biji-bijian yang sangat banyak untuk memproduksi daging, telur, produk susu dan peternakan ikan. Makanan ini juga memerlukan pembabatan yang sangat luas akan hutan-hutan, padang rumput dan habitat satwa liar untuk menggembalakan dan menanam biji-bijian ini, dan pengrusakan ekosistem laut. Lihat Bab 11 untuk rincian lebih jauh.

 

 

 

Referensi

1.     To name just a few: Weber, Durkheim, Veblen, Mumford, Riesman, Fromm, Wirth, Marcuse, and Bellah in sociology and social theory, James, Freud, Adler, Reich, Jung, Maslow, Skinner, Sheldon, Rogers, and Allport in psychology, Heidegger, Husserl, Sartre, Whitehead, Camus, Buber, Wittgenstein, Popper, Kuhn, Polanyi, Gebser, and Jaspers in philosophy, Bateson, Churchman, Varela, Mitroff, Fuller, and Prigogine in systems theory, and countless others.

2.     Some of these contemporary radical voices include Noam Chomsky, Mary Daly, Helen Caldicott, Daniel Berrigan, David Icke, Michael Parenti, Howard Zinn, E.F. Schumacher, Theodore Roszak, Jim Hightower, and Adrienne Rich. Just a few of those who are writing today about holistic health, spirituality, and peace are Matthew Fox, John Shelby Spong, Ken Wilber, Jean Houston, Gary Zukav, Andrew Harvey, Eckhart Tolle, Deepak Chopra, Pema Chödrön, Andrew Cohen, Ram Dass, Joan Borysenko, Wayne Dyer, Stanislav Grof, George Leonard, Neale Donald Walsh, Larry Dossey, Caroline Myss, Dan Millman, David Hawkins, Marianne Williamson, Robert Johnson, Sam Keen, James Twyman, and Peter Russell.

 

Sebelumnya   Berikutnya

Atas

Copyright © Pola Makan Perdamaian Dunia