Beranda > Solusi Vegan untuk Menyelamatkan Dunia > Keadaan Darurat Planet

 

Share

Solusi Vegan untuk Menyelamatkan Dunia

Saat ini, sudah amat mendesak. Kita harus hentikan pemanasan global untuk menyelamatkan diri. Jadi, vegan adalah solusi satu-satunya untuk efek menyeluruh dengan segera untuk semua masalah lingkungan, keselamatan, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya, di planet kita.

Saya sungguh percaya bahwa planet kita berada pada ambang perubahan konstruktif dari perbaikan semua makhluk, termasuk hewan, pohon dan tumbuhan.

Jika kita mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama dalam mengubah kebiasaan buruk kita, seperti memakan daging, memakai narkoba, merokok, alkohol, maka dengan cara yang sama banyak negara telah menghentikan kebiasaan merokok, kita dapat bersatu dengan segera untuk menyaksikan perubahan besar dan luar biasa yang akan terjadi di planet kita.

Keadaan Darurat Planet

Waktu Amat Mendesak

“Waktunya tinggal sedikit, inilah waktunya untuk memutuskan. Saya cukup yakin bahwa Anda akan membuat keputusan yang bijak. Mengenai masalah pemanasan global, ilmuwan telah menjelaskannya dengan cukup jelas.”[i]
— Ban Ki-moon

“Kita sedang mengalami krisis iklim yang merupakan keadaan darurat planet ini.”
— Al Gore

Para ilmuwan dunia takut jika kita melampaui titik kritis tertentu, tahap berikutnya dari perubahan iklim yang bukan saja cepat tapi tak dapat diperbaiki lagi dan menjadi bencana besar. Jadi, sudah ada tanda-tanda mendekatnya waktu yang berbahaya ini, melalui observasi danau-danau dan di tempat lain yang mengeluarkan gelembung-gelembung gas metana yang dahulu tersimpan dengan aman di bawah lapisan beku Bumi.

Tak seorang pun tahu kapan saatnya jumlah besar tersebut akan dilepaskan tanpa dapat dikendalikan, menyebabkan kenaikan temperatur tajam yang dapat memperparah pemanasan. Hal ini merupakan bencana bagi kita.

Efek merusak lainnya dari perubahan iklim telah terjadi saat ini: Lapisan es Kutub Utara yang memantulkan panas sedang menuju tahap menghilang seluruhnya di musim panas yang amat dekat; kenaikan permukaan laut dan puluhan pulau sedang tenggelam atau terancam; wilayah laut menjadi tanpa kehidupan karena zona mati yang sifatnya terlalu asam untuk dihuni karena tingkat berlebih dari CO2; kebakaran hutan yang semakin sering; punahnya seluruh spesies liar yang 100 kali lebih cepat dari normal; badai semakin intens dan merusak; nyamuk penyebar penyakit tersebar karena wilayah-wilayah menghangat; menghilangnya gletser dunia; mengering atau hilangnya danau dan sungai yang jumlahnya puluhan ribu dan menyebarnya gurun pasir.

Sebagai konsekuensi dari dampak lingkungan ini, dua miliar orang menghadapi kekurangan air, dan 20 juta orang dalam kondisi putus asa — seperti pengungsi namun tanpa perlindungan resmi.

Hal ini sungguh hampir semua karena konsekuensi atas tindakan merusak manusia. Tindakan nomor satu adalah memakan daging.

Sektor peternakan adalah pengguna lahan tunggal terbesar oleh manusia, dan pendorong terkuat dari kerusakan hutan hujan. Industri peternakan menyebabkan sebagian besar erosi tanah dunia. Ia adalah pendorong utama menuju penggurunan, kehilangan keanekaragaman hayati dan pemborosan air, dan pencemaran air - meskipun air menjadi semakin langka setiap hari karena pemanasan global. Dan juga, sektor peternakan secara tidak efisien menguras bahan bakar fosil kita dan sumber daya pangan biji-bijian. Singkat kata, kita membuang 12 kali lebih banyak biji-bijian, paling tidak 10 kali lebih banyak air, dan 8 kali lebih banyak energi bahan bakar fosil untuk memproduksi sepotong daging sapi dibandingkan dengan makanan vegan yang secara nutrisi sama atau bahkan lebih banyak.

Peternakan: Penyebab Utama Krisis Global

Satu-satunya cara menghindari ”titik tanpa harapan” dari bencana iklim adalah mengambil tindakan terhadap penyebab utama bencana yang merusak – yaitu, produksi daging. Saat ini kita punya semua bukti, semua informasi untuk berkata demikian. Industri peternakan adalah penghasil gas rumah kaca yang teratas.

Laporan PBB terbitan tahun 2006 terakhir menyatakan bahwa industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih banyak daripada gabungan seluruh sektor transportasi dunia —pesawat terbang, kereta api, mobil-mobil, motor, dan sebagainya, bersamaan.[ii]

Perhitungan terbaru memberitahu kita bahwa industri peternakan bertanggung jawab setidaknya untuk 50% dari pemanasan global.[iii]

“Analisis kami memperlihatkan bahwa peternakan dan produk sampingannya menghasilkan setidaknya 32.567 juta ton CO2 per tahun, atau 51 persen Gas Rumah Kaca tahunan di seluruh dunia.” [iv]
—World Watch Institute

Metana Lebih Kuat daripada CO2

Peternakan adalah penghasil utama metana manusia, dan metana selain menjadi perangkap panas 72 kali lipat lebih banyak, juga merupakan gas yang berusia pendek. Berarti ia akan meninggalkan atmosfer lebih cepat daripada CO2, hanya dalam satu dekade dibandingkan ribuan tahun bagi CO2. Karenanya, menghilangkan metana dengan menghapus peternakan adalah cara tercepat untuk mendinginkan planet.

Ya, kita harus mengatasi penghasil emisi yang terpenting.

Saya berdoa semua pemimpin yang bijaksana akan menghentikan praktik daging yang mematikan, yang merupakan pendorong utama yang mengendalikan kita menuju titik tanpa harapan saat ini. Jika tidak, semua usaha dekarbonisasi ekonomi kita tidak akan memberi efek, atau kita tidak pernah punya kesempatan sama sekali untuk mengatasinya lagi.

Kita akan menghancurkan dunia jika kita tak berhenti makan dan memproduksi daging serta produk hewani lainnya.


[i] Supreme Master TV, "Pengumuman Pelayanan Masyarakat Perubahan Iklim: Apa yang Para VIP Katakan," http://suprememastertv.com/ina/bbs/board.php?bo_table=sos_video_ina&sca=sosv_3&wr_id=17.

[ii] Penelitian PBB yang dirujuk di sini adalah Henning Steinfeld et. al., Bayangan Panjang Peternakan: Isu Lingkungan dan Pilihan (Livestock’s Long Shadow: Environmental Issues and Options. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2006.

[iii] Robert Goodland dan Jeff Anhang menemukan bahwa "peternakan menyumbang hingga 32.654.000 ton GRK pertahun, yang setara dengan 51 persen emisi GRK global." Lihat artikelnya, “Peternakan dan Perubahan Iklim (Livestock and Climate Change),” World Watch Magazine, (Nov/Des, 2009), 10-19

[iv] Ibid, 11.

 

Sebelumnya  Berikutnya

Atas

Copyright © Crisis2Peace.org